Penyebab Hujan Tak Kunjung Turun

Oleh: Abu Sa'id Neno Triyono at-Tighali

 

Berdasarkan teks-teks wahyu dan penjelasan para ulama, tertahannya hujan merupakan bentuk teguran agar manusia kembali dan bertaubat kepada Allah, diantaranya penyebabnya adalah: 

1.   Kesyirikan kepada Allah.

Tatkala dosa kaum Nabi Nuh dan Nabi Hud alaihimas salam berupa kesyirikan kepada Allah, maka mereka ditimpakan bencana hujan tidak turun-turun. Allah Ta'ala mengisahkan mereka: 

وَيٰقَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوْاۤ اِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا وَّيَزِدْكُمْ قُوَّةً اِلٰى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِيْنَ

"Dan (Nabi Hud berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.'" [QS. Hud(11): 52] 

Ketika kaum 'Ad dilanda kemarau panjang, Nabi Hud menegaskan bahwa kunci terbukanya rahmat langit bukanlah sesajen atau ritual syirik, melainkan taubat dan penyucian jiwa. Ayat ini membuktikan secara ilmiah-syar'i bahwa ketaatan dan amalan batin (istigfar dan taubat) memiliki dampak langsung terhadap kelancaran rezeki, kesuburan alam, dan stabilitas fisik suatu bangsa. 

2.   Curang dalam timbangan dan mengurangi takaran. 

Dalam sebuah hadis secara marfu' : 

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

"Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran, melainkan mereka akan ditimpa paceklik yang berkepanjangan, kehidupan susah, dan kezaliman penguasa atas mereka..." [HR. Ibnu Majah No.4009, dihasankan oleh Syaikh al-Albani] 

Dalam hadis ini, kecurangan dalam takaran (mikyāl) dan timbangan (mīzān) diganjar dengan as-sinīn (tahun-tahun kemarau/paceklik yang parah), syiddat al-ma'ūnah (sempitnya rezeki dan mahalnya harga kebutuhan hidup), serta kezaliman pemimpin. 

3.   Enggan membayar dan menyalurkan zakat. 

Maka dalam lanjutan hadis di atas, Rasulullah bersabda : 

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ

"Dan tidaklah mereka menahan zakat harta mereka melainkan akan ditahan hujan dari langit untuk mereka..." 

Ketika manusia "menahan" harta yang menjadi hak fakir miskin di bumi, maka Allah membalasnya dengan "menahan" sumber keberkahan dan kehidupan (air hujan) dari langit. 

4.   Kemaksiatan dan dosa-dosa. 

Atsar Maqtu' dari Mujahid : 

إنَّ البَهائِمَ لَتَلْعَنُ عُصاةَ بَنِي آدَمَ إذا اشْتَدَّتِ السَّنَةُ وأُمْسِكَ المَطَرُ، وتَقُولُ: هذا بِشُؤْمِ مَعْصِيَةِ ابْنِ آدَمَ

"Sesungguhnya hewan-hewan melata melaknat orang-orang yang bermaksiat dari kalangan anak Cucu Adam apabila terjadi kemarau panjang dan hujan ditahan. Hewan-hewan itu berkata: 'Ini terjadi akibat kesialan maksiat anak Cucu Adam.'" 

5.   Tidak memenuhi syarat dikabulkannya doa, sehingga permohonannya agar segera turun hujan, tak kunjung dikabulkan. 

6.   Meninggalkan Amar ma'ruf Nahi Munkar. 

Atsar mauquf Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan: 

إِنَّ الصَّالِحِينَ إِذَا سَكَتُوا عَنِ الْمُنْكَرِ، أُمِسَكَ الْمَطَرُ، وَقُحِطَتِ الأَرْضُ

"Sesungguhnya orang-orang saleh apabila mereka berdiam diri (tidak mencegah) dari kemungkaran, maka hujan akan ditahan dan bumi akan mengalami kekeringan/paceklik." 

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, menjelaskan bahwa jika orang yang berilmu dan saleh bersikap apatis terhadap maksiat yang tampak di depan mata, keberkahan tanah dan langit akan dicabut. Hujatan dan doa memohon hujan tidak akan memberi manfaat sampai masyarakat kembali menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. 

Wallahu a’lam. 

[Dikutip dari akun facebook beliau]

Komentar