9 Cara Tawassul yang Syar’i

Oleh: Ustadz Fadlan Fahamsyah

 

Pada dasarnya bertawassul (mencari perantara) itu diperintahkan agama. Allah تَعَالَى berfirman, 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara/jalan) yang bisa mendekatkan diri kepada Allah." [QS. Al-Mā'idah(5): 35] 

Namun apa yang dimaksud dg wasilah di ayat ini? Imam Qatadah رَحِمَهُ اللهُ -seorang tabi'in- berkata, 

تقربوا إليه بطاعته والعمل بما يرضيه

“Yang dimaksud wasilah di sini adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menaatinya dan beramal yang diridhai Allah.” 

Lalu apa saja tawassul yang disyariatkan? Berikut penjelasannya: 

1. Tawassul dengan iman 

Seperti: Ya Allah, aku beriman kepadamu, maka ampunilah dosaku, Ya Allah aku beriman kepadamu, maka berikanlah kebahagiaan kepada ku, dst. 

Allah تَعَالَى berfirman, 

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِى لِلْإِيمَٰنِ أَنْ ءَامِنُوا۟ بِرَبِّكُمْ فَـَٔامَنَّا ۚ رَبَّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلْأَبْرَارِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman: ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu’, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” [QS. Ali Imran: 193]

2. Tawassul dengan tauhid 

Hal ini, seperti yang dilakukan Nabi Yunus عليه السلام ketika berada di perut ikan paus, beliau bertawassul dengan tauhid dan Allah تَعَالَى pun menyelamatkannya. 

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ۝ فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ۝

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap di perut ikan, ‘Bahwa tiada yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” [QS. Al-Anbiya'(21): 87-88] 

3. Bertawassul dengan nama-nama Allah تَعَالَى yang terindah (Asmaul Husna) 

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ

“Kepunyaan Allah nama-nama terindah (Asmaul Husna), maka berdoalah kepada Allah dengan nama-nama terindah tersebut.” [QS. Al-A'raf(7): 180] 

Contoh: Ya Rahman berikan rahmatmu, ya Razzaaq berikan rizqimu, dst 

4. Bertawassul dengan sifat Allah تَعَالَى 

Contoh: ya Allah dengan keperkasaanmu tolonglah aku, ya Allah dengan kemulianmu berkahilah aku. 

يا حي يا قيوم برحمتك أستغيثك

“Ya Allah dengan rahmatmu aku memohon pertolonganmu.” [HR. Tirmidzi] 

5. Bertawassul dengan amal shalih, seperti sholat, berbakti kepada orang tua, sedekah dst. 

Hal ini sebagaimana ucapan Qotadah رَحِمَهُ اللهُ , 

تقربوا إليه بطاعته والعمل بما يرضيه

“Yang dimaksud wasilah di sini adalah mendekatkan diri kepada Allah تَعَالَى dengan menaatinya dan beramal yang diridhai Allah تَعَالَى.” 

6. Bertawassul dengan doa orang shalih yang masih hidup, bukan dengan dzatnya 

Seperti kisah Umar bin Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ bertawassul dengan meminta al-Abbas (paman Nabi) untuk berdoa agar Allah تَعَالَى turunkan hujan. Dan akhirnya Allah تَعَالَى kabulkan lalu turunkan hujan deras..” [Lihat HR. Bukhari no.1010] 

7. Bertawassul dengan mengakui dosa 

Seperti kisah Nabi Yunus عليه السلام ketika ditelan ikan paus (QS. Al-Anbiya: 87-88) dan juga kisah Nabi Adam عليه السلام tatkala termakan rayu Iblis (QS. Al-A'raf: 23) 

8. Bertawassul dengan meninggalkan maksiat

Seperti kisah salah satu dari 3 orang yang tertawan dalam gua, dia bertawassul dengan meninggalkan dosa zina yang hampir ia lakukan di masa lalu.

“Dia berkata, ‘Ya Allah, dahulu ada puteri pamanku yang aku sangat menyukainya. Aku pun sangat menginginkannya. Namun ia menolak cintaku. Hingga berlalu beberapa tahun, ia mendatangiku (karena sedang butuh uang). Aku pun memberinya 120 dinar. Namun pemberian itu dengan syarat ia mau tidur denganku (alias: berzina). Ia pun mau. Sampai ketika aku ingin menyetubuhinya, keluarlah dari lisannya, ‘Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina)’. Aku pun langsung tercengang kaget dan pergi meninggalkannya padahal dialah yang paling kucintai. Aku pun meninggalkan emas (dinar) yang telah kuberikan untuknya. Ya Allah, jikalau aku mengerjakan sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan wajah-Mu, maka lepaskanlah kesukaran yang sedang kami hadapi dari batu besar yang menutupi kami ini.’ Batu besar itu tiba-tiba terbuka lagi,....” [Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743] 

9. Bertawassul dengan merendahkan diri dan menunjukkan kelemahan di hadapan Allah 

Seperti yang dilakukan Nabi Zakariya عليه السلام, 

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” [QS. Maryam(19): 4] 

[Disarikan dari Syaikh Muhammad Jamil Zainu, Majmu'ah al-Rasail cet. Ke-9 (Riyadh: Dar al-Shamai'i,  1997) vol.1 hal. 203-204), dll sebagaimana kami nukil dari akun facebook ustadz Fadlan Fahamsyah]

Komentar