Sifat Shalat Gerhana Nabi ﷺ

Oleh: Ustadz Abu Sa"id Neno Triyono at-Tighali

 

Shalat gerhana dilaksanakan dua rakaat berdasarkan kesepakatan 3 Imam mazhab (selain Imam Abu Hanifah), sebagaimana ditegaskan oleh penulis kitab al-Fiqh 'alâ al-Madzhâhib al-Arba'ah (1/330) : 

اتفق ثلاثة من الأئمة على أنها ركعتان بدون زيادة

"3 Imam bersepakat bahwa salat gerhana itu adalah dua rakaat tidak lebih." 

Kemudian masing-masing rakaat ada tambahan satu ruku' dan satu berdiri. Masih di kitab yang sama, dilanjutkan : 

ويزيد في كل ركعة منها قياماً وركوعاً، فتكون كل ركعة مشتملة على ركوعين وقيامين، وخالف الحنفية في ذلك.

"Kemudian ada tambahan setiap rakaat dengan satu berdiri dan satu ruku', sehingga setiap rakaat terdiri dari dua ruku' dan dua berdiri, berbeda dengan tatacara yang ditetapkan Hanafiyyah." 

Al-Imam Ibnu Hazm رَحِمَهُ اللهُ sebagai pengusung mazhab Zhahiri juga menyebutkan salah satu tatacara salat gerhana seperti mazhab Jumhur di atas, beliau berkata dalam al-Muhallâ (3/314) : 

وَإِنْ شَاءَ فِي كُسُوفِ الشَّمْسِ خَاصَّةً: صَلَّى رَكْعَتَيْنِ، فِي كُلِّ رَكْعَةٍ رَكْعَتَانِ، يَقْرَأُ ثُمَّ يَرْكَعُ ثُمَّ يَرْفَعُ، فَيَقْرَأُ. ثُمَّ يَرْكَعُ ثُمَّ يَرْفَعُ فَيَقُولُ: " سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ " ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ. ثُمَّ يَقُومُ فَيَرْكَعُ أُخْرَى، فِي كُلِّ رَكْعَةٍ رَكْعَتَانِ، كَمَا وَصَفْنَا، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ يَجْلِسُ وَيَتَشَهَّدُ وَيُسَلِّمُ.وَهُوَ قَوْلُ مَالِكٍ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ، وَأَبِي ثَوْرٍ

"Jika mau khususnya pada salat gerhana matahari, ia salat dua rakaat, masing-masing rakaat dua ruku', ia membaca (Al-Fatihah dan surat), lalu ruku, lalu mengangkat kepala, lalu membaca, lalu ruku', lalu mengangkat kepala, lalu membaca, ‘Sami'a Allahu liman hamidah’, lalu sujud dengan dua sujud, lalu berdiri untuk rakaat selanjutnya, masing-masing rakaat dengan dua ruku' sebagaimana yang kami sifatkan, lalu sujud dengan dua sujud, lalu duduk, bertasyahud dan salam.

Ini adalah pendapatnya Malik, Syafi'i, Ahmad dan Abu Tsaur rahimahumullah." -selesai-. 

Jika kita ingin mendapatkan tata cara salat gerhana secara runut dari awal sampai salam, berdasarkan riwayat hadits yang bersambung secara marfu', maka al-Imam al-Albani رَحِمَهُ اللهُ telah melakukan rekontruksi dari beberapa riwayat yang diurutkan dengan rapi oleh beliau dalam kitabnya Shalâh al-Kusûf, yang dipublikasikan dalam kitab Jâmi'u  at-Turats al-'Allâmah al-Albâniy (7/272-273). Penulis akan sadur dan tambahkan sebagai berikut : 

بدأ - صلى الله عليه وسلم -، وكبر الناس

1.      Rasulullah mulai dengan Takbiratul Ihram. 

ثم افتتح القرآن

2.      Lalu Beliau membaca (doa Iftitah), lalu membaca Al-Fatihah. 

Catatan :

Doa Iftitahnya dapat memilih sebagaimana ketika melakukan shalat seperti biasanya. Al-Imam asy-Syafi'i mengatakan, 

أُحِبُّ أَنْ يَقُومَ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ فَيُكَبِّرُ، ثُمَّ يَفْتَتِحُ كَمَا يَفْتَتِحُ الْمَكْتُوبَةَ

"Aku suka Imam berdiri pada waktu mengerjakan shalat gerhana, lalu bertakbir, kemudian membaca doa iftitah sebagaimana ketika shalat wajib." 

Al-Imam Ishaq bin Rahawaih رَحِمَهُ اللهُ  lebih menjelaskan lagi, 

ثُمَّ يَذْكُرُ بَعْدَ التَّكْبِيرَةِ مِنَ الِاسْتِفْتَاحِ مِثْلَ مَا يَفْعَلُهُ فِي الْجُمُعَةِ، وَالْعِيدَيْنِ، وَالْمَكْتُوبَاتِ، ثُمَّ يَتَعَوَّذُ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يَقْرَأُ بِالْبَقَرَةِ فِي الْقِيَامِ الْأَوَّلِ

"Lalu membaca zikir setelah takbir dengan doa istiftah seperti yang biasa dilakukan pada waktu shalat Jumu'ah, hari raya dan shalat wajib, lalu berta'awudz, lalu membaca Ummul Qur`an, lalu membaca surat Al-Baqarah pada berdiri yang pertama." [Dinukil dari al-Ausath Imam Ibnul Mundzir (5/304)] 

فقرأ قراءة طويلة، فجهر بها

3.      Membaca surat yang panjang dengan menjaharkan (bacaan Al-Fatihah dan suratnya). 

وقام قياماً طويلاً جداً نحواً من سورة «البقرة»

4.      Berdiri dengan lama sekali, (bacaan suratnya) seukuran membaca surat Al-Baqarah.

ثم ركع - صلى الله عليه وسلم - مكبراً، فأطال الركوع جداً، حتى قيل: لا يركع، وركع نحواً مما أقام

5.      Lalu Nabi ruku' pertama pada rakaat pertama dengan bertakbir, Beliau ruku' lama sekali, durasi ruku'nya selama ketika berdiri. 

Catatan :

Al-Imam Ishaq رَحِمَهُ اللهُ  juga menjelaskan sifat zikir ruku' : 

فَلَا يَزَالُ رَاكِعًا كَقَدْرِ الْقِيَامِ أَوْ دُونَ ذَلِكَ، يَبْدَأُ بِثَلَاثِ تَسْبِيحَاتٍ سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ، ثُمَّ لَا يَزَالُ يُسَبِّحُ وَيَحْمَدُ اللهَ مَا دَامَ رَاكِعًا

"Lalu senantiasa dalam posisi ruku' seukuran lama berdiri atau kurang dari itu, ia mulai dengan membaca tiga kali tasbih, ‘Subhâna Rabbiyal 'Azhîm’, kemudian senantiasa membaca tasbih dan tahmid selama dalam kondisi ruku'." [Al-Ausath] 

Kemudian al-Imam juga menyebutkan ketika hendak ruku' dengan mengangkat tangannya, sebagaimana sifat shalat seperti biasanya. 

ثم رفع رأسه من الركوع فقال: «سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد» .... فأطال القيام جداً،  وهو دون القيام الأول، وقرأ قراءة طويلة هي أدنى من القراءة الأولى،

6.      Kemudian Beliau mengangkat kepalanya dari ruku' (pertama), sambil berucap, ‘Sami'a Allahu liman hamidah, Rabbanâ wa laka al-hamdu’, Beliau lama sekali berdiri (kedua pada rakaat pertama), namun tidak selama berdiri yang pertama, lalu membaca (Al-Fatihah dan surat), namun tidak selama bacaan pada (berdiri pertama). 

Catatan :

Mengangkat kepala dari ruku'nya sambil mengangkat tangan juga, al-Imam Ishaq رَحِمَهُ اللهُ berkata, 

ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ وَيَقُولُ: اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ

"Kemudian mengangkat kepalanya, lalu membaca, ‘Sami'a Allahu liman hamidah’, kemudian mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan, ‘Allahumma Rabbanâ laka al-hamdu’.“ [Al-Ausath] 

Para ulama berbeda pandangan, apakah bangkit dari ruku' pertama ini dihitung i'tidal atau bukan. Al-Imam asy-Syafi'i رَحِمَهُ اللهُ  mengisyaratkan bahwa itu adalah I'tidal dalam perkataannya : 

ثُمَّ يَرْفَعُ وَيَقُولُ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

"Lalu ia mengangkat kepalanya dan berkata, ‘Sami'a Allahu limah hamidah rabbanâ wa lakal hamdu’." [Al-Ausath] 

Al-Khathib asy-Syarbîniy  رَحِمَهُ اللهُ dari kalangan Syafi'iyyah dalam kitabnya Mughni al-Muhtâj (via Islamweb) menegaskan pendapat al-Imam Nawawi dalam kitabnya ar-Raudhah : 

ويقول في الاعتدال عن الركوع الأول والثاني: سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد كما في الروضة كأصلها

"ia mengucapkan dalam i'tidal ketika ruku' pertama dan kedua, ‘Sami'a Allahu liman hamidah rabbanâ laka al-hamdu’, sebagaimana dalam ar-Raudhah, seperti asalnya." 

Jika itu adalah i'tidal, maka tata caranya juga seperti salat biasanya, yakni dengan meng-irsal-kan (tidak sedekap) tangannya. Penulis kitab Kasyâf al-Qinâ` (via islamweb) mengatakan : 

ثم يرفع من ركوعه فيسمع أي يقول سمع الله لمن حمده في رفعه ويحمد في اعتداله فيقول ربنا ولك الحمد كغيرها من الصلوات

"Kemudian mengangkat kepalanya dari ruku', lalu mengucapkan, ‘Sami'a Allahu liman hamidah’ ketika mengangkat kepala, lalu bertahmid ketika i'tidal, dengan mengucapkan, ‘Rabbanâ walaka al-hamdu’, seperti shalat-shalat biasanya." 

Kemudian setelah itu, kembali bersedekap karena akan membaca Al-Fatihah dan surat, yang sekarang adalah berdiri kedua. Penulis (Abu Sa'id) telah bertanya kepada Syaikhunâ, DR. Sa'ad as-Sabr حَفِظَهُ اللهُ  , "Syaikhunâ, apakah kedua tangan irsal (tidak bersedekap) setelah bangun dari ruku' yang pertama, kemudian bersedekap ketika membaca surat pada berdiri yang kedua ketika melaksanakan salat gerhana?” 

Fadhilatus Syaikh menjawab, "(Na'am) setelah itu bersedekap." 

ثم ركع مكبراً، فأطال الركوع جداً، حتى قيل: لا يرفع، وهو دون الركوع الأول.

7.      Kemudian Nabi ruku' (yang kedua pada rakaat pertama) dengan bertakbir, lalu Beliau memanjangkan ruku'nya....namun tidak sepanjang ruku' yang pertama. 

ثم رفع رأسه فقال: «سمع الله لمن حمده، ربنا ولك الحمد»

8.      Kemudian Nabi mengangkat kepalanya (dari ruku' kedua), sambil mengucapkan, ‘Sami'a Allahu liman hamidah’, lalu berzikir, ‘Rabbanâ walaka al-hamdu.’ 

Catatan :

Al-Imam al-Albani menyebutkan bahwa "I'tidal" yang kedua ini lama, sambil mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan beberapa zikir : 

فأطال القيام، حتى قيل: لا يسجد، ورفع يديه، فجعل يسبح ويحمد ويهلل ويكبر ويدعو

"Lalu Beliau lama berdiri, sambil mengangkat kedua tangannya dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil dan takbir serta berdoa." 

Asy-Syaikh رَحِمَهُ اللهُ menemukan ini dalam riwayat Abdur Rahman bin Samurah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  yang asalnya ada pada riwayat Muslim tanpa ada penunjukkan tempat tertentu, akan tetapi asy-Syaikh al-Albani dengan ijtihadnya menentukan bahwa itu adalah pada waktu I'tidal yang kedua. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا terdapat petunjuk bahwa i'tidalnya tidak terlalu lama : 

ثُمَّ كَبَّرَ، فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا هو أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُمَّ قالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَن حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الحَمْدُ، ثُمَّ سَجَدَ

"Kemudian Beliau bertakbir menuju ruku' yang kedua dengan ruku' yang panjang, tapi tidak sepanjang ruku' yang pertama, kemudian (mengangkat kepalanya dari ruku' kedua) sambil mengucapkan, ‘Sami'a Allahu liman hamidah, Rabbanâ walaka al-hamdu’, kemudian Beliau sujud." 

Sifat salat tanpa i'tidal kedua yang panjang juga diisyaratkan oleh al-Imam Syafi'i رَحِمَهُ اللهُ  dalam kitabnya al-Umm (1/280) ketika menyebutkan durasi masing-masing gerakan salat gerhana : 

ثُمَّ يَرْفَعَ، وَيَسْجُدَ

"Kemudian mengangkat kepalanya (dari ruku'), lalu bersujud." 

Darul Ifta mesir juga menegaskan hal ini tatkala menjelaskan sifat salat gerhana : 

ثم يرفع من الركوع فيسبح ويحمد ولا يطيل الاعتدال

"Kemudian bangkit dari ruku' dengan bertasbih dan bertahmid, tanpa memperpanjang i’tidalnya." 

ثم كبر - صلى الله عليه وسلم -، فسجد سجوداً طويلاً مثل ركوعه

9.      Kemudian Nabi bertakbir, lalu sujud dengan sujud yang lama seperti pada waktu ruku'. 

Catatan :

Al-Imam asy-Syafi'i dan al-Imam Ishaq bin Rahawaih sebagaimana dinukil oleh al-Imam Ibnul Mundzir dalam kitabnya "al-Ausath" tidak mensyariatkan sujud dengan durasi yang lama, karena umumnya riwayat tidak menyebutkan sifat sujud yang panjang, namun dalam Shahih Bukhari (no. 1056) disebutkan penetapan sunnah ini : 

ثُمَّ رَفَعَ فَسَجَدَ سُجُودًا طَوِيلًا

"Kemudian mengangkat kepalanya, lalu sujud dengan sujud yang panjang." 

Al-Imam bin Baz رَحِمَهُ اللهُ  kelihatannya ingin menggabungkan dua hal di atas dengan berkata :

أما السجدتان في الركعتين فيسن تطويلهما تطويلًا لا يشق على الناس؛ لأن النبي عليه الصلاة والسلام فعل ذلك

"Adapun dua sujud pada dua rakaat, maka disunnahkan memperpanjangnya dengan ukuran yang tidak memberatkan jamaah, karena Nabi mengerjakannya." 

ثم كبر، ورفع رأسه وجلس، فأطال الجلوس

10.   Kemudian Nabi bertakbir sambil mengangkat kepalanya, lalu duduk (di antara dua sujud), dan Beliau memperlama duduknya. 

Catatan :

Sebagian para ulama tidak menetapkan bahwa duduk di antara dua sujud itu durasinya lama, semisal Darul Ifta Yordania mengatakan : 

ولا يطيل الجلوس بين السجدتين

"Tidak memperlama duduk diantara dua sujud." 

Asy-Syaikh al-Albani رَحِمَهُ اللهُ mendapatkan faedah tambahan di atas dalam riwayat Nasa’i dari Abdullah bin Amr ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ  : 

وَسَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، وَجَلَسَ فَأَطَالَ الْجُلُوسَ

"Nabi sujud dan memperlama sujudnya, kemudian mengangkat kepalanya, lalu duduk di antara dua sujud dengan memperlama duduknya." 

ثم كبر ، فسجد، فأطال السجود، وهو دون السجود الأول

11.   Kemudian Beliau bertakbir, lalu sujud dan memperlama sujudnya, namun kurang dari sujud yang pertama. 

Catatan :

Tambahan durasi sujud yang kedua yang ukurannya kurang dari sujud pertama ada dalam riwayat Bukhari dan lebih lengkap lagi dalam riwayat Nasa'i dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : 

ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، ثُمَّ رَفَعَ، ثُمَّ سَجَدَ فَأَطَالَ السُّجُودَ، وَهُوَ دُونَ السُّجُودِ الْأَوَّلِ

"Lalu Beliau sujud dan memperlama sujudnya, lalu mengangkat kepalanya, lalu sujud (kedua) dan memperlama sujud (keduanya), namun kurang dari sujud yang pertama." 

12.   Kemudian bangkit ke rakaat kedua dan lakukan sama persis seperti rakaat pertama, hanya saja ukurannya lebih pendek dari rakaat pertama. 

13.   Untuk sujud terakhir pada rakaat kedua ada tambahan : 

وجعل يبكي في آخر سجوده وينفخ، أف أف، ويقول: «رب ألم تعدني ألا تعذبهم وأنا فيهم؟ رب ألم تعدني ألا تعذبهم وهو يستغفرون؟ ونحن نستغفرك»

"Nabi menangis pada akhir sujudnya, lalu meniup dengan bersuara uf..uf..lalu berdoa : 

رَبِّ، أَلَمْ تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَأَنَا فِيهِمْ ؟ أَلَمْ تَعِدْنِي أَلَّا تُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ؟

‘Wahai Rabbku, bukankah Engkau telah berjanji untuk tidak menyiksa mereka, sedangkan aku masih berada di tengah-tengah mereka? Bukankah Engkau telah berjanji untuk tidak menyiksa mereka, sedangkan mereka senantiasa memohon ampunan?’” [HR. Abu Dawud] 

Catatan :

Sependek pengetahuan kami, belum ada ulama yang menganjurkan untuk meniru sifat sujud terakhir Rasulullah di atas, namun jika seorang mengikutinya, maka tentunya ini adalah hal yang baik, hanya saja mungkin lafazh doanya tidak sama persis seperti itu, karena itu kekhususan Nabi , namun dapat diubah dengan redaksi yang kontennya adalah permohonan ampunan dan dijauhkan dari siksanya. Zhahirnya doa tersebut dibaca jahr, karena perawi hadits dapat meriwayatkan apa yang Beliau baca dalam sujud terakhirnya tersebut.

ثم تشهد، ثم سلم

14.   Kemudian Nabi bertasyahud akhir lalu salam. 

[Disalin dari akun facebook beliau]

Komentar