Sahkah Shalat Gerhana Tanpa Khutbah?

Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono at-Tighali

 

Terkait pensyariatannya, maka tidak semua ulama sepakat atasnya. Dalam Maushu'ah al-Kuwaitiyyah (19/187) disebutkan : 

ذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّهُ لاَ خُطْبَةَ لِصَلاَةِ الْكُسُوفِ، لأَِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِالصَّلاَةِ دُونَ الْخُطْبَةِ

"Hanafiyyah dan Hanabilah berpendapat bahwa tidak ada khutbah untuk salat gerhana, karena Nabi memerintahkan untuk shalat tanpa ada perintah untuk berkhutbah." -selesai-.

Adapun Syafi'iyyah, maka al-Imam asy-Syafi'i sendiri berpendapat adanya khutbah salat gerhana, dalam kitabnya al-Umm (1/270), beliau menyampaikan : 

وَيَخْطُبُ الْإِمَامُ فِي صَلَاةِ الْكُسُوفِ نَهَارًا خُطْبَتَيْنِ يَجْلِسُ فِي الْأُولَى حِينَ يَصْعَدُ الْمِنْبَرَ ثُمَّ يَقُومُ فَإِذَا فَرَغَ مِنْ الْخُطْبَةِ الْأُولَى جَلَسَ ثُمَّ يَقُومُ فَيَخْطُبُ الثَّانِيَةَ فَإِذَا فَرَغَ نَزَلَ

"Imam berkhutbah pada salat gerhana Matahari siang hari dengan dua khutbah, duduk pertama ketika naik mimbar, lalu berdiri, jika sudah selesai khutbah pertama, lalu duduk, kemudian berdiri melanjutkan khutbah kedua, kemudian setelah selesai, turun dari mimbar." 

Pensyariatan khutbah salat gerhana didukung oleh hadits Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا dalam Shahihain :

ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ، فَخَطَبَ النَّاسَ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ

"....kemudian Rasulullah selesai mengerjakan shalat, dalam kondisi gerhana sudah berakhir dengan bersinarnya kembali matahari, lalu Beliau berkhutnah di hadapan jamaah, Beliau memuja dan memuji Allah...." 

Kemudian terkait dengan teknis khutbahnya, maka al-Imam asy-Syafi'i menyamakannya dengan khutbah salat Jum'at dan hari raya yang terdapat dua khutbah padanya. Sedangkan jika melihat zhahir haditsnya maka khutbahnya Nabi pada shalat gerhana adalah satu kali khutbah, inilah yang dirajihkan oleh al-'Allamah Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ , misalnya dalam kitabnya asy-Syarh al-Mumti' (5/188), beliau berkata, 

وقال بعض العلماء: يسنّ لها خطبة واحدة، وهذا مذهب الشافعي، وهو الصحيح

"Sebagian ulama berpendapat dianjurkannya khutbah satu kali dan ini adalah mazhabnya Syafi'i dan ini pendapat yang benar." 

Khutbah satu kali juga inilah yang dirajihkan oleh Imam al-Albani رَحِمَهُ اللهُ dalam tanya jawab yang direkam dalam kaset yang berjudul rekaman yang berbeda-beda, kaset no. 44. 

Adapun pesan dalam isi khutbah shalat gerhana, maka al-Imam asy-Syafi'i sudah menyampaikan point-pointnya sebagai berikut : 

وَيَجْعَلُهَا كَالْخُطَبِ يَبْدَأُ بِحَمْدِ اللَّهِ وَالصَّلَاةِ عَلَى رَسُولِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَحَضِّ النَّاسِ عَلَى الْخَيْرِ، وَأَمْرِهِمْ بِالتَّوْبَةِ وَالتَّقَرُّبِ إلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

"Jadikan isi khutbahnya diawali dengan hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah , motivasi jamaah untuk berbuat kebaikan, perintahkan mereka untuk bertaubat dan mendekatkan diri kepada Allah عَزَّ وَجَلَّ." -selesai-. 

Terkait isi khutbah Rasulullah , maka Ummul Mukminin Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا telah mendokumentasikan di antara cuplikan khutbah Beliau : 

فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ : " إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا، وَتَصَدَّقُوا ". ثُمَّ قَالَ : " يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ، يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

"Kemudian Beliau berkhutbah kepada manusia, maka Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua buah ayat (tanda) dari tanda-tanda kebesaran Allah, yang keduanya tidaklah mengalami gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihat itu; berdoalah kepada Allah dan bertakbir, shalatlah dan bersedekahlah.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada satupun yang lebih cemburu dari Allah ketika ada yang menzinahi budaknya atau menzinahi budak wanitanya. Wahai umat Muhammad! Seandainya kalian tahu apa yang aku tahu; tentulah kalian akan sedikit ketawa, dan sungguh kalian akan banyak menangis.’” [Muttafaqun alaih] 

Kesimpulannya, khutbah gerhana bukanlah syarat sahnya gerhana, hukumnya adalah sunnah, jika dilaksanakan shalat gerhana berjamaah tanpa adanya khutbah, maka boleh-boleh saja, namun penulis menyarankan pandangan al-Imam al-Albani dalam salah satu fatwanya berikut: 

لكن إذا كان الإمام يعلم أنُّ هناك عقائد وخرافات سائدة في أذهان الناس بمناسبة الكسوف أو الخسوف فهنا يجب الخطبة

"Akan tetapi jika Imam mengetahui bahwa masyarakat setempat memiliki keyakinan dan khurafat yang menyimpang terkait momen gerhana matahari atau bulan, maka ketika itu wajib berkhutbah." -selesai-. 

[Dicuplik dari akun facebook beliau]

Komentar