Oleh: Ustadz Mochamad Teguh Azhar Al-Atsariy
Bedanya ilmu qiraat dengan tafsir itu, yang satu menjaga ashalah (keaslian) pelafalan, yang satu menganalisis ayat-ayat untuk diungkap maknanya, baik secara periwayatan maupun ijtihad.
Ilmu qiraat membahas tata cara pengungkapan lafazh-lafazh Al Quran dan perbedaan yang terjadi di dalamnya. Hebatnya, itu semua dinisbahkan pada para perawinya. Imam Ibnul Jazariy mendetilkan ini di Munjid al-Muqriîn. Hal senada juga disampaikan Syaikh 'Abdul Fattâh al-Qâdhiy dalam Al-Budûr az-Zâhirah.
Ilmu qiraat sangat mengandalkan lisan untuk mengucapkan kata-kata Al Quran dari semua seginya, sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi ﷺ. Sementara Ilmu tafsir lebih ke menganalisis makna di balik teks-teks Al Quran.
Ilmu qiraat sangat terkait dengan praktik membaca. Tak hanya teoritikal, ia menuntut ketepatan dalam praktik. Intensitas praktik berpengaruh besar terhadap keberhasilan seseorang menguasainya. Imam Ibnul Jazariy dalam Thayyibah an-Nasyr mengatakan,
وليس بينه وبين تركه # إلا
رياضة امرئ بفكه
“Maksudnya, kualitas bacaan seseorang tergantung pada intensitas praktiknya.”
Ilmu qiraat itu komponen ilmu riwayat yang given (sudah jadi). Tak ada ruang kreasi di sini. Ia didapat melalui periwayatan dari satu Syaikh ke Syaikh lain hingga muttashil (bersambung) kepada Rasulullah ﷺ.
Berbeda dengan ilmu tafsir yang tugasnya menganalisis dari segi makna. Pada proses analisis, di samping merujuk pada hadits Nabi ﷺ dan perkataan sahabat ridhwânullah 'alaihim ajma'în serta para tabi'in dan generasi awal lainnya, sang mufassir juga melalui daya Ijtihad dan kreativitas. Jika Ijtihadnya berdasarkan pada kriteria penafsiran yang telah disepakati, walaupun berbeda dengan hasil ijtihad penafsir lain, maka itu masih ditoleransi. Berbeda dengan ilmu qiraat, sama sekali tidak menoleransi adanya perbedaan yang didasarkan ijtihad. Jadi, perbedaan yang bisa ditoleransi dalam qiraat itu jika betul-betul berasal dari Nabi ﷺ.
Asy-Syâthibiy dalam Hirzul Amâniy mengatakan,
وما لقياس في القراءة مدخل #
فدونك ما فيه الرضا متكفلا
"Tak ada pintu masuk bagi qiyas (Ijtihad) dalam ilmu qiraat. Terimalah dengan ridha apa yang ada pada qiraat."
Dengan adanya silsilah sanad dalam ilmu qiraat inilah orisinalitas (ashalah) dan kemurnian Al Quran masih tetap terjaga.
Dengan berbedanya ruang lingkup antara ilmu qiraat dan tafsir, bukan berarti keduanya bisa dipisahkan. Justru keduanya tak bisa dipisahkan. Bahkan As-Suyuthi menyebutkan salah satu syarat jadi penafsir Al Quran itu harus mengerti ilmu qiraat. Sebab perbedaan dari sisi qiraat bisa saja menimbulkan perbedaan jangkauan makna serta cakupannya. Demikian jelasnya di Al-Itqân. Silakan merujuk ke sana.
Ilmu qiraat dan tafsir itu di antara komponen yang harus berkait dalam penafsiran Al Quran. Jika penafsir tak faham ilmu qiraat, maka penafsirannya itu bak sayur tanpa micin.
Semoga bermanfaat.
[Dicuplik
dari akun facebook beliau dengan beberapa gubahan serta tambahan kata tanpa
menghilangkan esensi kalimat]
Komentar
Posting Komentar