Tafsir Sahabat dan Israiliyyat

Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono ath-Thighali

 

Al-Imam Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ  telah menyebutkan bagaimana metode terbaik di dalam menafsirkan Al-Qur'an sebagaimana yang disebutkan dalam mukadimah kitab tafsirnya di mana beliau menulis, 

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَمَا أَحْسَنُ طُرُقِ التَّفْسِيرِ؟ فَالْجَوَابُ: إِنَّ أَصَحَّ الطُّرُقِ فِي ذَلِكَ أَنْ يُفَسَّر الْقُرْآنُ بِالْقُرْآنِ

“Jika ada yang bertanya, ‘apa cara terbaik dalam menafsirkan Al Qur’an?’ maka jawabannya adalah cara yang paling benar yakni menafsirkan Al Qur’an itu dengan (ayat lainnya dalam) Al Qur’an…” 

Kemudian beliau menjelaskan urutan berikutnya, yaitu berpegang dengan hadits Nabawi, sampai kepada perkataan beliau, 

إِذَا لَمْ تَجِدِ التَّفْسِيرَ فِي الْقُرْآنِ وَلَا فِي السُّنَّةِ وَلَا وَجَدْتَهُ عَنِ الصَّحَابَةِ، فَقَدْ رَجَعَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ إِلَى أَقْوَالِ التَّابِعِينَ

“Jika engkau tidak mendapatkan penafsirannya dalam (ayat Al Qur’an), tidak juga dalam hadits, begitu pun pendapat sahabat, maka kebanyakan Aimah merujuk kepada perkataan para Tabi’in.” 

Di sini beliau menyebutkan penafsiran sahabat sebagai salah satu referensi tafsir Al-Qur`an. Namun ada poin yang perlu diperhatikan di dalam menukil tafsiran para sahabat, sebagaimana telah dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar via Kitab al-Israiliyyat wa al-Maudhû'ât fî Kitâb at-Tafsir bahwa penafsiran para sahabat itu memiliki hukum marfu', yakni dianggap sebagai tafsir yang bersumber dari Nabi , jika terpenuhi padanya 2 syarat: 

الأول: أن يكون مما لا مجال للرأي فيه، كأسباب النزول، وأحوال القيامة، واليوم الآخر ونحوها

1.   Hal tersebut adalah bukan termasuk perkara yang ada peranan akal padanya, seperti Asbâbun Nuzûl, kejadian hari kiamat dan hari akhir serta semisalnya. 

الثاني: ألا يكون الصحابي معروفا بالأخذ عن أهل الكتاب الذين أسلموا، أي غير معروف برواية الإسرائيليات

2.   Sahabat tersebut tidak terkenal sebagai pihak yang biasa mengambil dari ahli Kitab yang sudah masuk Islam atau sahabat yang tidak dikenal meriwayatkan Israiliyyat. 

Oleh sebab itu, kita perlu mengetahui para sahabat yang sudah diverifikasi oleh para ulama bahwa dalam tafsirnya mereka dikenal mengambil dari bani Israil. Asy-Syaikh DR. Mizziy -Doktor bidang Tafsir dari Universitas al-Azhar- dalam kitabnya al-Israiliyyat wa Atsâruhâ fî Kutub at-Tafsîr dan DR. Muhammad adz-Dzahabi -guru besar Tafsir al-Azhar- dalam kitabnya al-Israiliyyat fî at-Tafsîr wa al-Hadîs, keduanya sepakat menyebutkan diantara para sahabat yang masyhur mengambil dari Israiliyyat sebagai berikut :

1.   Abdullah bin Abbas

2.   Abdullah bin Salâm

3.   Abdullah bin Amr bin Ash

4.   Abu Hurairah

5.   Tamîm ad-Dâriy 

Artinya ketika para sahabi Jalîl di atas menyebutkan tafsir berisi tentang kisah-kisah umat sebelum kita dengan tanpa menyebutkan sumbernya dari wahyu Ilahi maupun dari lisannya Shadiqul Mashdûq Nabi kita , maka itu patut diduga sumbernya adalah cerita Bani Israil alias Israiliyyat. Tim Islamweb mengatakan, 

فإن بإمكانك معرفة ذلك إذا كانت القصة من آثار اليهود والنصارى، أو أخبار الماضين التي لم يقصها الله علينا في محكم كتابه، أو على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم

"Mungkin kita mengetahui Israiliyyat jika kisahnya bersumber dari Yahudi dan Nasrani atau berita-berita orang terdahulu yang tidak dikisahkan oleh Allah dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Nabi-Nya ." 

Umumnya kisah Israiliyyat yang dibawakan oleh para sahabat diatas, bukanlah sesuatu yang berkaitan dengan Aqidah atau hukum, hanya sekedar pelengkap cerita untuk mendetailkan suatu peristiwa atau menyebutkan nama-nama yang terlibat dalam kisah yang tidak disebutkan secara personal namanya dalam Al-Qur'an. 

والله أعلمُ بالـصـواب

[Disadur dari akun facebook beliau]

Komentar