Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono
Seseorang ketika jelas posisinya membela sunnah Nabi ﷺ dan jamaah kaum muslimin, menerangkan posisinya yang memberikan loyalitas kepada ahli sunnah dan para ulamanya, dimulai dari Para Sahabat رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ, kemudian juga kepada Aimah setelahnya, mencintai para sahabat dan para ulama kaum Muslimin secara umum, dan membela manhaj ahli sunnah, maka ia adalah seorang suniy, pengikut ahli sunnah. Orang-orang semacam ini tidak boleh kita sembarangan mengeluarkan dari cakupan ahli sunnah, karena mengeluarkan seseorang dari ahli sunnah adalah sesuatu yang berat. Al-Imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ berkata,
إِخْرَاجُ النَّاسِ مِنَ
السُّنَّةِ شَدِيدٌ
“Mengeluarkan manusia dari sunnah itu berat.”
[atsar ini
diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar Kholal dalam kitabnya as-Sunah no.513 dengan sanad shahih]
Namun para ulama telah menerangkan rambu-rambu atau dhawabit yang dapat dijadikan pegangan untuk menentukan bahwa seseorang telah keluar dari ahli sunnah, sehingga nama ahli bid’ah atau ahli ahwa dapat disematkan kepadanya, jika melakukan perkara-perkara berikut ini :
1. Menyelisihi salah satu atau lebih pokok dari pokok-pokok ahlus sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,
نعم من خالف الكتاب
المستبين والسنة المستفيضة أو ما أجمع عليه سلف الأمة خلافا لا يعذر فيه فهذا
يعامل بما يعامل به أهل البدع
“Benar, barangsiapa yang menyelisihi Al Qur’an yang terang, sunnah yang masyhur atau sesuatu yang telah disepakati oleh ulama salaf dengan perselisihan yang tidak alasan padanya, maka ia diperlakukan sebagaimana memperlakukan ahli bid’ah.” [Majmu Fatawa (24/96)]
Di tempat lain beliau berkata,
فالمبتدع هو من خالف
أصلا من أصول أهل السنة
“Ahlu bid’ah adalah orang yang menyelisihi salah satu pokok dari pokok-pokok ahlus sunnah.” [Majmu Fatawa (12/485-486)]
2. Sekalipun ia menyelisihinya dalam perkara furu’/cabang/amaliyah, namun ketika ia banyak berbuat bid’ah dalam masalah ini, maka dianggap sama seperti menyelisihi masalah pokok.
Al-Imam asy-Syatibi dalam kitabnya al-I’tishom (2/200-202) berkata,
...ويجرى مجرى القاعدة
الكلية كثرة الجزئيات ، فإن المبتدع إذا أكثر من إنشاء الفروع المخترعة عاد ذلك
على كثير من الشريعة بالمعارضة ، كما تصير القاعدة الكلية معارضة أيضا ...
“...dan diperlakukan juga dalam kaedah kuliyyah adalah ketika banyak (perselisihannya dalam) masalah juz`iyyah (cabang), maka seorang ahli bid’ah jika banyak membuat-buat bid’ah dalam masalah cabang, maka ujungnya juga adalah banyak menyelisihi syariat, sehingga menjadi seperti menyelisihi kaedah kuliiyah (pokok) juga.”
3. Sekalipun penyelisihannya hanya satu-dua dalam masalah cabang, namun masalah cabang tersebut sudah ter-branded (terkenali dengan jelas) bahwa ini adalah pembeda antara ahli sunnah dengan ahli bid’ah, maka diperlakukan juga sebagai ahli bid’ah.
Seperti menolak untuk mengusap khuf, dimana sekte rofidhoh dan sekte sesat lainnya menolak untuk mengusap khuf. Al-Imam Thahawi dalam Akidah Thahawiyyah-nya memasukkan masalah mengusap khuf sebagai bagian dari ushul sunnah, padahal telah maklum bahwa mengusap khuf adalah permasalahan fiqih. Al-‘Allamah Prof. DR. Sholih bin Fauzan al-Fauzan dalam Ta’liqnya terhadap Aqidah Thahawiyyah (ha.184) berkata,
لماذا جاء بهذه
المسألة -وهي مسألة فقهية- في العقيدة؟ لأن هذه المسألة أنكرها المبتدعة، وأثبتها
أهل السنة
“Mengapa masalah mengusap khuf –yakni ini adalah masalah fiqih- dimasukkan ke dalam masalah akidah disini?, jawabannya, karena masalah ini diingkari oleh ahli bid’ah dan ditetapkan oleh ahlu sunnah”.
4. Perselihannya dalam masalah bid’ah amaliyah, namun ia membangun loyalitas dan disloyalitas padanya.
Al-‘Allamah Ubaid al-Jaabiriy berkata ketika menjelaskan kapan seseorang keluar dari manhaj salaf atau salafiyyah,
كذلك قالوا حتى في
الفروع إذا خالف فرعا من فروع الدين فأصبح يوالي ويعادي في ذلك فإنه يخرج من
السلفية
“Demikian juga para ulama mengatakan, sampai pun dalam masalah furu’ jika ia menyelisihi satu cabang dari cabang-cabang agama, kemudian ia jadikan itu sebagai patokan dalam memberikan loyalitas dan disloyalitas, maka ia telah keluar dari salafiyyah.” -selesai-.
Wallahu A’lam.
[Dikutip dari
akun facebook beliau]
Komentar
Posting Komentar