Oleh: Ustadz Wira Mandiri Bachrun حَفِظَهُ اللهُ
1. Amalan yang konsisten lebih besar pahalanya dan lebih dicintai oleh Allah تَعَالَى. Disebutkan dalam Hadits ‘Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, Nabi ﷺ bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” [HR. Muslim]
2. Amalan yang konsisten ini lebih mencocoki sunnah, karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ. Ummul Mukminin ‘Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا pernah ditanya,
كيف كان عمل رسول الله صلى الله
عليه وسلم ؟
قالت: كان عمله ديمة، وأيكم
يستطيع ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يستطيع
”Bagaimana kondisi amalan Rasulullah ﷺ?” ‘Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا menjawab, ”Amalan beliau adalah kontinyu (terus-menerus) dan setiap kalian mampu melakukan apa-apa yang beliau mampu.” [HR. Muslim)]
3. Amalan yang dilakukan secara konsisten akan lebih mudah dilakukan, karena diri kita bila sudah terbiasa maka akan mudah melakukannya.
4. Dengan konsisten melakukan amalan, kita akan tetap mendapatkan pahala walaupun suatu saat kita terhalang dari melakukannya.
Dari Abu Musa رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ
سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar, maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” [HR. Al Bukhari)]
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى
طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ
قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ
بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ
أَكْفِتَهُ إِلَىَّ
“Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, ‘Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya’.” [HR. Ahmad]
5. Syaithan akan berputus asa dari orang yang sudah konsisten dengan amalannya. Dia akan merasa bosan menggoda.
Al Hasan Al Bashri رَحِمَهُ اللهُ menyebutkan,
إذا نظر إليك الشيطان فرآك
مداوِما في طاعة الله، فبغاك وبغاك،
فرآك مداوما مَلّكَ ورفضك، وإذا
كنت مرة هكذا ومرة هكذا طمع فيك
“Bila syaithan melihat melihatmu, dia melihat engkau selalu taat kepada Allah, maka dia akan berupaya menggodamu dan terus menggodamu. Namun bila dia melihat konsistensimu dalam amalan, dia akan merasa bosan dan akhirnya meninggalkanmu. Namun bila kamu tidak konsisten, kadang beramal kadang tidak, maka engkau akan jadi sasaran empuknya.”
6. Bila seseorang selalu konsisten dalam amalannya, maka setiap waktunya akan diisi dengan kebaikan. Berbeda dengan orang yang tidak konsisten. Akan ada jeda baginya untuk terjatuh pada kemaksiatan. Al Imam Ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ menyebutkan,
أنَّ مداوم الخير ملازم
للخدمة،
وليس مَن لازم الباب في كل يوم
وقتا ما، كمن لازم يوما كاملا ثم انقطع
“Seseorang yang konsisten di atas kebaikan, maka dia akan konsisten pula dalam beribadah. Tidaklah sama, seorang yang menjaga pintu gerbang di sepanjang waktu dengan orang yang menjaga pintu gerbang sehari kemudian dia tinggalkan.”
والله
أعلمُ بالـصـواب
[Faedah dari dauroh kitab Al Washoya wat Taujihat fi Fiqhit Taabbud li Rabbil Ibad bersama Asy Syaikh Ibrahim Ar Ruhaili حَفِظَهُ اللهُ]
Komentar
Posting Komentar