Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono
Ied sendiri itu maknanya adalah suatu hari yang diperingati secara berulang, sedangkan Adha asalnya dari kata " الأُضحية “ (Al-Udhhiyyah), hal ini karena orang-orang mulai melaksanakan penyembelihan kurban pada hari tersebut.
Ini adalah hari raya yang disyariatkan dalam Islam ,di samping ada juga hari raya lainnya, yaitu Iedul Fitri. Idul Adha ini sendiri tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Nabi Ibrahim عليه السلام yang Allah perintahkan untuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail عليه السلام. Sebagian ulama tafsir menyebutkan bahwa peristiwa penyembelihan Nabi Ismail terjadi pada bulan Dzulhijjah, dalam kitab at-Tafsir al-Kabir yang ditulis oleh Al Imam ar-razi rahimahullah ketika beliau menafsirkan firman Allah,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ
السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ
فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى
"Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai Anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’." [QS. Ash-Shaffat(37): 102]
Al-Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam kitabnya di atas mengatakan terkait penafsiran ayat ini,
وروي من طريق آخر أنه رأى ليلة
التروية في منامه ، كأن قائلا يقول له : إن الله يأمرك بذبح ابنك هذا ، فلما أصبح
تروى في ذلك من الصباح إلى الرواح ، أمن الله هذا الحلم أم من الشيطان ؟ فمن ثم
سمي يوم التروية ، فلما أمسى رأى مثل ذلك ، فعرف أنه من الله فسمي يوم عرفة ، ثم
رأى مثله في الليلة الثالثة فهم بنحره فسمي يوم النحر ، وهذا هو قول أهل التفسير
"Diriwayatkan dari jalan lain bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام bermimpi pada malam hari Tarwiyyah (8 Dzulhijjah), dalam mimpinya ada yang mengatakan, "Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini."
Pada keesokan
harinya (8 Dzulhijjah), Beliau عليه
السلام bimbang memikirkan mimpinya dari pagi sampai petang, apakah
mimpi ini benar dari Allah atau datangnya dari setan?.
Oleh sebab
itu, hari ini sekarang dikenal dengan nama hari Tarwiyyah (yang secara makna
adalah pikirannya masih berbolak-balik alias bimbang, pent.).
Malam harinya,
Beliau melihat mimpi yang sama. Maka tahulah Beliau bahwa ini datangnya dari
Allah, sehingga hari itu dinamakan dengan hari Arafah (yang maknanya
mengetahui, pent.).
Kemudian bermimpi lagi pada malam yang ketiga, maka Beliau paham untuk segera melaksanakan penyembelihannya, maka dinamakan dengan hari Nahr. Ini adalah pendapat dari kalangan ahlu tafsir." -selesai-.
Al-Imam Baghawi dalam kitab tafsirnya menyebutkan riwayat di atas dari al-Imam Ibnu Ishaq, sejarawan Islam Mutaqadimin ternama, kemudian beliau menukil pendapat al-Imam Muqatil, ahli tafsir dari kalangan Tabi'in yang mengatakan,
رأى ذلك إبراهيم ثلاث ليال
متواليات
"Nabi Ibrahim عليه السلام bermimpi hal tersebut selama tiga malam berturut-turut."
Kini hari peristiwa disembelihnya Nabi Isma'il عليه السلام yang kemudian Allah ganti dengan domba yang besar, diperingati oleh umat Islam sebagai hari raya Iedul Adha.
Sebagian ulama sejarah mengatakan bahwa hari raya Iedul Adha resmi diperingati sebagai hari raya oleh kaum Muslimin pada tahun kedua dari hijrahnya Nabi ﷺ, Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ
وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ
قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا
خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ
"Pada masa Rasulullah ﷺ baru tiba ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang biasanya mereka bersenang-senang pada hari tersebut. Maka Rasulullah ﷺ bertanya, 'Perayaan apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?' Penduduk Madinah pun menjawab, 'Dahulu di masa Jahiliyyah, kami biasa merayakannya dengan bersenang-senang.’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Iedul Adha dan Iedul fithri’." [HR. Abu Dawud No.959 via Ensiklopedi Hadits dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]
Kemudian dengan kemurahan Allah, hari raya penyembelihan ini diperpanjang sampai 3 hari setelahnya yaitu pada tanggal 11-13 Dzulhijjah, yang biasa dikenal dengan hari Tasyrik. Uqbah bin Amir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ
وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ
وَشُرْبٍ
"Hari 'Arafah dan Hari Kurban, serta hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita, orang-orang Islam. Hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum." [HR. Abu Dawud No.2066 via Ensiklopedi Hadits, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]
Dalam lafazh lain,
يومُ الفِطْرِ، ويومُ النحرِ،
وأيامُ التشريقِ، عيدُنا أهلَ الإسلامِ، وهىَ أيامُ أكْلٍ وشُرْبٍ
“Hari raya Iedul Fitri dan Hari Kurban, serta hari-hari Tasyriq adalah hari raya kita, orang-orang Islam. Hari-hari tersebut adalah hari-hari makan dan minum." [Shahih al-Jami'’ No.8192]
Al-Imam Syaukani رَحِمَهُ اللهُ mengatakan,
إنّ هذا الحديث فيه دلالةٌ على
أنّ أيّام التشريق الثلاثة هي من أيّام العيد
"Hadits ini menunjukkan bahwa hari Tasyrik adalah termasuk hari raya."
وبالله التوفيق والهداية
[Disalin dari akun facebook beliau]
Komentar
Posting Komentar