Hukum Tahnik Pada Bayi

Oleh: Ustadz Dzulqarnain M Sunusi حَفِظَهُ اللهُ

 

Kalau tahnik itu dikunyahkan kurma kemudian diberikan kepada si bayi dan ini bentuk tabarruk. Sebab Nabi itu pada apa yang keluar dari beliau, bahkan air liurnya, ludahnya, atau dahaknya itu membawa berkah. Itu kekhususan Nabi . Jadi kalau beliau lakukan itu (mentahnik) adalah kekhususan Nabi . Selain Nabi maka tidak melakukan hal tersebut. 

Semoga Allah memberi taufiq kepada semuanya. 

[Dilansir dari laman https://youtu.be/T01unbdiZDQ] 

Tambahan: 

Perkara ini terdapat ikhtilaf di kalangan ulama karena sebagian ada yang berpendapat hukum tahnik pada bayi adalah sunnah dengan merujuk pada dalil: 

Dari Shahabat yang mulia Abu Musa رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, beliau berkata, 

وُلِدَ لِى غُلاَمٌ فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ

“Pernah dikaruniakan kepadaku seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya ke hadapan Nabi , maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan sebuah kurma.” [HR. Bukhari No.5467 dan Muslim No.2145] 

Dari Ummul Mukminin Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, beliau berkata, 

أُتِىَ النَّبِىُّ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَبِىٍّ يُحَنِّكُهُ ، فَبَالَ عَلَيْهِ ، فَأَتْبَعَهُ الْمَاءَ

“Didatangkan kepada Nabi seorang bayi laki-laki beliau mentahniknya, lalu bayi itu mengencinginya, kemudian beliau memercikkannya dengan air.” [HR. Bukhari No.5468 dan Muslim No.286, dan ini lafadz Bukhari] 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, 

التحنيك يكون حين الولادة حتى يكون أول ما يطعم هذا الذي حنك إياه ، ولكن هل هذا مشروع لغير النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم ؟ فيه خلاف : فمن العلماء من قال : التحنيك خاص بالرسول صلى الله عليه وعلى آله وسلم للتبرك بريقه عليه الصلاة والسلام ليكون أول ما يصل لمعدة هذا الطفل ريق النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم الممتزج بالتمر ، ولا يشرع هذا لغيره ، ومنهم من قال : بل يشرع لغيره ؛ لأن المقصود أن يطعم التمر أول ما يطعم ، فمن فعل هذا فإنه لا ينكر عليه ، أي من حنك مولودا حين ولادته فلا حرج عليه ، ومن لم يحنك فقد سلم ” انتهى

“Tahnik dilakukan ketika baru lahir dan hendaknya menjadi yang pertama kali masuk (ke mulut bayi), akan tetapi apakah tahnik disyariatkan kepada selain Nabi ? Terdapat perbedaan pendapat ulama. 

Ada ulama yang menyatakan bahwa tahnik adalah kekhususan bagi Rasulullah untuk bertabarruk dengan air liurnya, agar yang pertama kali masuk adalah air liur beliau ke perut bayi melalui kurma yang dikunyah. Tahnik tidak disyariatkan untuk selain beliau. 

Ada ulama juga yang menyatakan bahwa hal ini disyariatkan kepada selain beliau karena tujuannya adalah memberikan kurma sebagai yang pertama kali masuk. Bagi yang melakukan maka tidak diingkari yaitu melakukan tahnik kepada bayi yang baru lahir, hal ini tidak mengapa. Bagi yang tidak melakukan tahnik maka telah selamat.” [Fatwa Nur ‘Alad Darb, (6/228)] 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:

1.   Ustadz Raehanul Bahraen pada laman https://muslim.or.id/51629-tahnik-itu-sunnah-atau-kekhususan-bagi-nabi.html

2.   Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman https://rumaysho.com/3598-anjuran-dan-hukum-tahnik.html

3.   Ustadz Kholid Syamhudi pada laman https://almanhaj.or.id/5574-tahnk-bayi.html

Komentar