Oleh: Ustadz Ahmad Hendrix Eskanto حَفِظَهُ اللهُ
[1]- Antara Kezaliman Hamba dan Ampunan Allah
“Perhatikanlah nikmat-nikmat Allah terhadapmu: maka sangat luas dan mencakup (nikmat) agama maupun dunia. Dari sini engkau mengetahui kebenaran dari ayat ini,
Allah تَعَالَى berfirman,
...وَإِن
تَعُدُّواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٞ
كَفَّارٞ
‘...Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).’ [QS. Ibrahim(14): 34]
Dan Allah تَعَالَى berfirman,
وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ
لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ
‘Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.’ [QS. An-Nahl(16): 18]
Maka Allah jelaskan... keadaan hamba berupa kezaliman dan kekufuran (pengingkaran), hamba menzalimi diri sendiri dan kufur terhadap nikmat Rabb-nya.
Adapun Rabb عَزَّ وَجَلَّ maka Allah hadapi kezaliman dan kekufuran ini dengan ampunan dan rahmat.
Alhamdulillaah.”
[Asy-Syarhul Mumti', (I/102-103) karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ]
[2]- Kehinaan Seorang Hamba: Ketika Tidak Merasa Butuh Kepada Rabb-Nya
“Dia-lah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Pemilik keperkasaan, kekuasaan dan kemenangan. Sedangkan seluruh makhluk berada pada puncak kehinaan dan kefakiran, serta sangat membutuhkan-Nya. Tidak satupun makhluk yang terlepas dari perbuatan baik dan kebaikan-Nya, walau sekejap mata. Manusia hanya akan mengira dan menyangka bahwasanya ia mampu berdiri sendiri dan tidak membutuhkan Rabb-nya, ketika dia dikuasai oleh sikap melampaui batas. Allah تَعَالَى berfirman,
كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ
لَيَطۡغَىٰٓ * أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ * إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ
‘Sekali-kali tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui batas, apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh, hanya kepada Rabb-mulah tempat kembali(mu).’ [QS. Al-'Alaq(96): 6-8]”
[Sittu Durar Min Ushuuli Ahlil Atsar hlm.26 karya Syaikh 'Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani حَفِظَهُ اللهُ]
Di antara do'a yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ untuk diucapkan pada dzikir pagi dan petang,
يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنِيْ إِلَى
نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنِ
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Maha Berdiri Sendiri (tidak butuh akan segala sesuatu yang lain), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku, dan janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku meski sekejap mata sekali pun (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).” [HR. An-Nasa-i dalam 'Amalul Yaumi Wal Lailah dan Al-Hakim. Lihat: Do'a & Wirid hlm.170 karya Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حَفِظَهُ اللهُ]
[3]- Kebodohan Seorang Hamba Ketika Merasa Memiliki Hak yang Harus Allah Penuhi
“Di antara hak Allah (yang harus dipenuhi oleh hamba) adalah menaati-Nya dan tidak bermaksiat kepada-Nya, mengingat-Nya dan tidak melupakan-Nya, serta bersyukur kepada-Nya dan tidak kufur (mengingkari nikmat-Nya).
Barangsiapa yang melihat kepada hak Rabb-nya ini, niscaya dia akan mengetahui secara pasti bahwa dirinya tidak menunaikan hak tersebut sebagaimana mestinya serta tidak ada yang diharapkan melainkan maaf dan ampunan (dari Allah)...
(Tapi) jika engkau perhatikan keadaan dari kebanyakan manusia, maka akan engkau dapati tidak semacam ini. Mereka justru (hanya) melihat hak mereka yang harus dipenuhi oleh Allah dan tidak melihat kepada hak Allah yang wajib mereka laksanakan.
Dari sinilah mereka terputus dari Allah dan terhalang hati mereka dari mengenal-Nya, mencintai-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa nikmat ketika berdzikir mengingat-Nya.
Inilah puncak kebodohan manusia terhadap Rabb-nya bahkan terhadap dirinya sendiri."
[Ighaatsatul Lahfaan hlm.154-155 - Mawaaridul Amaan karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah رَحِمَهُ اللهُ]
وبالله التوفيق والهداية
[Dikutip dari
akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar