Oleh: Ustadz Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar, MA حَفِظَهُ اللهُ
Allah عَزَّ وَجَلَّ senantiasa terus mempergilirkan keadaan manusia. Ini sudah Sunnatullah-Nya. Sehingga jangan aneh jika kemudian tetiba circle pertemanan kita berubah cepat, keadaan dalam suatu komunitas berbalik 180 derajat dengan cepat pula, sikap manusia pun berubah secara cepat, dan semuanya berganti dengan yang baru lagi.
Begitu pula kondisi kehidupan kita. Terkadang di atas, terkadang pula di bawah. Terkadang berjaya, terkadang merana. Ada tawa, ada sedih. Ada ikatan baik, ada putus hubungan. Ada yang terus bersama kita, ada yang mulai menjauh entah ke mana. Begitulah seterusnya.
Allah عَزَّ وَجَلَّ berfirman,
....
وَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ
النَّاسِ ۚ وَلِيَـعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ
شُهَدَآءَ ۗ وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ
“...Dan hari-hari itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim.” [QS. Ali 'Imran(3): 140]
Secara konteks, ayat di atas berbicara tentang kalah menang dalam peperangan. Namun para ulama banyak mengqiyaskan pada kehidupan. Bahwa semua yang fana akan selalu ada pergantian keadaan.
Rasulullah ﷺ dalam sebuah doa yang berkaitan dengan tetangga,
اللهم إني أعوذ بك من جار السوء
في دار المقام، فإن جار الدنيا يتحول ...
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari tetangga yang buruk di tempat tinggalku, karena tetangga di dunia itu senantiasa berubah setiap waktu.” [Al Bukhariy dalam Al Adabul Mufrad dan An-Nasaiy dalam Sunan-nya. Hadits shahih]
Hadits ini juga konteksnya dunia pertetanggaan. Namun syahid yang kita soroti di sini adalah kalimat, “...Karena tetangga di dunia itu senantias berubah setiap waktu”. Ya, maksudnya circle terdekat kita pun bisa berubah sewaktu-waktu, jika diqiyaskan dengan hadits itu.
Dan masih ada dalil lainnya yang menunjukkan bahwa kondisi tak akan selalu sama. Ada dinamika di sana. Allah عَزَّ وَجَلَّ pergilirkan orang-orang terdekat kita dengan yang lain. Bisa dengan karena kematian, perpindahan, pertengkaran, kepentingan, keperluan, dll.
Oleh karenanya, mereka yang kuat Aqidahnya, kuat Tauhidnya, meyakini bahwa yang kekal hanyalah Allah عَزَّ وَجَلَّ. Ia paham bahwa perubahan akan selalu terjadi dalam kehidupan dunia. Sehingga ia selalu berbahagia, karena ia telah berdamai dengan perubahan-perubahan itu. Ia telah memahami serta memaklumi hal demikian itu. Maka hatinya selalu santai dan hanya bergantung pada Allah عَزَّ وَجَلَّ saja...
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
[Disalin dari akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar