Oleh: Ustadz Berik Said حَفِظَهُ اللهُ
Ana insya Allah akan mengulas ini dengan bahasa semudah mungkin, agar bisa dipahami semua kalangan.
Definisi Ilmu Tenaga Dalam
ilmu yang mempelajari cara membangkitkan kekuatan/tenaga dalam (inner power) dengan cara-cara tertentu, antara lain: teknik pernafasan yang disertai dengan jurus-jurus tertentu dan dengan cara meditasi (tafakur).
Tenaga Dalam Terkait Dengan Khowaariqul ‘Aadat
Khoriqul ‘adat yang jamaknya adalah khowaariqul ‘aadat secara
bebas bermakna segala perkara yang menyelisihi dari kebiasaan umum. Sebagai contoh:
Api itu hukum asalnya secara umum pasti panas. Saat api bisa terasa dingin, maka peristiwa itu masuk dalam Khoriqul ‘adat.
Dua Macam Garis Besar
Pertama, Khoriqul ‘Adat yang tidak bisa dipelajari. Yakni terjadinya spontanitas dan tak bisa berulang-ulang sekehendak kita. Contoh, ada tembok cukup tinggi, logikanya dalam keadaan ‘sadar’, seseorang tak akan mampu melompatinya.
Namun bisa saja suatu ketika seseorang yang karena begitu takutnya dikejar anjing misalnya, dan di hadapannya ada tembok tinggi itu, lantas ‘tanpa sadar’ ia mampu melompati tembok tersebut, maka ini termasuk Khoriqul ‘Adat.
Tentu saja hal itu dalam kondisi sadar tak bisa lagi ia lakukan. Kejadian itu mungkin akan terjadi hanya sekali dalam seumur hidupnya.
Bagian Khowaariqul ‘Aadat yang tidak bisa dipelajari. Mu’jizat misalnya, ini adalah khowaariqul ‘aadat yang Allah عَزَّ وَجَلَّ anugerahkan kepada para Nabi dan Rosul عليه الصلاة والسلام.
Seperti tongkat Nabi Musa عليه الصلاة والسلام bisa berubah menjadi ular, membelah lautan, dan sebagainya -tentu dengan seizin Allah-.Juga Nabi ﷺ mampu mengeluarkan air dari jari jemari -dengan seizin Allah- dan hal lainnya yang ‘aneh-aneh’, maka segala mu’jizat ini masuk khoriqul ‘adat yang tidak bisa dipelajari.
Makanya tak setiap waktu Nabi Musa alaihis sholaatu wa sallam bisa mengubah lautan menjadi daratan, dan juga tongkatnya tak bisa kapanpun menjadi ular sekehendaknya! Seumur hidupnya hanya sekali terjadinya.
Ciri-ciri
umum Khoriqul ‘Adat yang tak bisa dipelajari:
1. Hanya
terjadi sekali-kali, dan nyaris tak bisa diulang.
2. Umumnya orang yang mendapatkannya tak menyadari. Sebagai contoh, awalnya Nabi Musa عليه الصلاة والسلام tak tahu tongkatnya bisa mengubah lautan jadi daratan, atau bisa berubah menjadi ular dengan seizin Allah. Itu adalah tongkat biasa saja yang beliau gunakan untuk bersandar dan merontokkan daun yang tinggi sebagai bahan makanan bagi kambing yang beliau ternak.
Silakan simak hal ini di QS. Thoha, dimana saat beliau ditanya oleh Allah tentang tongkat apa yang ada di tangannya -dan tentu pada dasarnya Allah Maha Tahu-, maka Nabi Musa عليه الصلاة والسلام di antaranya menjawab,
هِيَ عَصَايَ
أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي ...
“Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku …” [QS. Thoha(20): 18]
3. Mu’jizat tidak bisa dipelajari. Dia datang spontan begitu saja semata-mata pertolongan Allah atas hamba-Nya untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dan bukti kebenaran Rosul-Nya.
Termasuk semisal mu’jizat ini adalah apa yang sebagian ulama mengistlahkannya sebagai Irhas, Ma’unat, dan Karomah Wali Allah. Kesemuanya itu termasuk Khoriqul ‘Adat yang tak bisa dipelajari.
Kedua, Khoriqul ‘Adat yang bisa dipelajari. Ini seperti sihir dan sejenisnya. Semisal, hukum asal orang yang anggota tubuhnya dibacok dengan benda tajam, tentu berdarah atau bahkan bisa terputus.
Jika ada seseorang di suatu ketika misal dirampok lalu bahkan dibacok oleh perampok, dan saat itu tidak apa-apa, maka itu adalah Khoriqul ‘Adat yang masuk bagian pertama. Ini pertolongan Allah padanya -insya Allah-.
Tapi itu tentu saja kejadian yang mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya, yakni saat kasus itu saja. Adapun dalam kondisi biasa, maka jangankan dibacok golok, tertusuk jarum pun dia akan berdarah.
Namun jika setiap waktu dia dibacok namun tetap kebal, tentu hampir dipastikan dia pernah belajar ilmu ‘Kanuragan’ dan ‘proses spiritual’ tertentu, maka ini sudah masuk jenis sihir atau istidraj.
Ini seperti pemain Debus, bisa berulang-ulang, dipelajari, dimana hukumnya haram!
Yang jenis kedua ini orang musyrik pun ahlinya, bahkan jagonya.
Di India misalnya, ribuan biksunya mampu misal dibakar, dibacok tidak mempan, dan sebagainya, dan bisa dilakukan berulang-ulang melalui metode khusus tertentu. Andai semua ini disebut 'Karomah para wali', maka pendeta Hindu karomahnya paling banyak?!!
Sudah pasti itu semua akan melalui serangkaian ritual tertentu!
Jika telah dipahami hal di atas, maka kini kita masuk pembahasan terkait tenaga dalam.
Orang yang memiliki tenaga dalam di antaranya ada yang memiliki kemampuan misal menjatuhkan lawan dari jarak jauh tanpa menyentuh tubuh lawannya tersebut. Nyatanya kemampuan ini hampir pasti melalui serangkaian pelatihan dan diiringi dengan semacam meditasi tertentu, dan bahkan menggunakan dzikir atau bacaan tertentu.
Iya, ada yang coba mengilmiahkan masalah tenaga dalam ini, seakan sama sekali tidak terkait dengan spiritual tertentu. Namun dalam realitanya kita mendapati hampir semua tenaga dalam ini akan diraih melalui serangkaian ritual tertentu.
Bukti masalah ini di antaranya setiap ada -misalnya- kenaikan pangkat level kesaktian tenaga dalam di kalangan mereka, selalu saja ada ritul tertentu seperti mandi di sungai/sumur tertentu, pembacaan wirid-wirid tertentu, bahkan penentuan malam tertentu untuk acara tersebut.
Tragisnya bahkan jika ini terjadi pada kaum muslimin, setan untuk menipunya terkadang mensyaratkan dengan sesuatu yang kelihatan benar tapi dengan tujuan utama akhirnya terjerumus pada kesyirikan.
Misal disyaratkan untuk sholat hajat atau membaca ayat Qur’an tertentu, tidak boleh mabuk-mabukan, dan sebagainya. Bagi orang awam khususnya dengan persyaratan yang zhohirnya baik itu, maka mereka menganggap bahwa ini adlaah ilmu yang baik dan ‘aliran putih’. Padahal nanti di ujungnya selalu akan ada ritual tertentu lainnya yang menjurus pada berbagai kebid’ahan, bahkan kemusyrikan.
Karena itu tidak heran, seseorang saat akan menggunakan tenaga dalamnya, maka biasanya dia akan melakukan gerakan dan jurus tertentu, semisal diawali dengan memejamkan mata, lalu menarik nafas yang telah diatur sedemikian rupa, kemudian mulutnya berkomat-kamit membaca dzikir atau doa tertentu.
Di antara bukti kuat lain yang menunjukkan tenaga dalam biasanya berujung pada supranatural adalah biasanya mereka yang demikian, ujung-ujungnya akan jadi dukun. Ada pula yang menganggap dirinya pemilik karomah wali Allah. الله المستعان.
Sesungguhnya justru yang belajar ilmu semacam ini tak sadar kebanyakan bersekutu dengan jin. الله المستعان .
Patut diketahui, tak aneh kalau ilmu tenaga dalam ini hampir semuanya awalnya bersumber dari negeri yang musyrik. Bahkan dalam Wikipedia disebutkan bahwa ilmu tenaga dalam ini telah ada tahun 4000 SM, dan dikenal oleh orang Mesir kuno.
Orang Mesir kuno menyebut ilmu tenaga dalam ini sebagai Krachtologi, dari kata “logos” yang berarti belajar dan “krachtos” yang berarti tenaga.
Lalu disebutkan di Wikipedia itu:
Dari Mesir, Krachtologi berkembang ke Babylon, Yunani, Romawi dan Persia. Di Persia tenaga semacam ini dinamakan Dacht. Dalam Dahtayana disebutkan bahwa pada suku Bukht dan Persia, terkenal ilmu perang dinamakan Dahtuz ialah merobohkan musuh dari jarak jauh. Kaum bangsawan Persia dilatih sejenis senam waktu dini hari sehingga mereka mempunyai tenaga Daht itu.
Orang-orang
Tionghoa, Tartar, Patan, Moghul, mengenal beberapa silat yang dapat merobohkan
orang dari jauh. Di Tiongkok terkenal beberapa macam silat yang mempergunakan
Kracht, di antaranya Gin Kang, Kwie Kang dengan jurus tinju dan Wie Kang dengan
jurus terbuka. Wie Kang disebut jurus sepuluh, jurus ini tersebar sampai
Vietnam, Campa, Malaya, dan Indonesia. Tumbuhlah menjadi beberapa aliran, di
antaranya silat Mandar dari Sulawesi, silat Timpung dari Jawa Timur, dan silat
Nampon dari Jawa Barat, dlsb.
(https://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_dalam)
Sungguh kita tahu ada ribuan shahabat رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ yang mereka terluka dan berdarah saat perang bahkan wafat di sana.
Andai ilmu semacam ini memang bisa dan dibenarkan untuk dipelajari dengan amaliah tertentu, maka Nabi ﷺ lebih pantas mengijazahkan ilmu ini kepada para shahabatnya رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ, sebagaimana kaum sufi yang dekat dunia kesyirikan mengijazahkan amalan semacam ini kepada para muridnya yang telah tertipu karomah wali Allah. الله المستعان .
Atas dasar ini pesan ana, jauhkan kita dari perkara yang dapat merusak aqidah!
Sungguh mempelajari ini semacam ini bahkan tak sedikit menjadikan pelakunya menjadi takabur. Apa manfaat semua ini?
Bukankah Nabi ﷺ pernah bersabda,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ
الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” [HR. Tirmidzi No.2317, dll. Kata Syaikh al-Albani dalam Shohih at Targhib No.2881, ‘hasan dengan adanya jalur pendukungnya’]
Semoga tulisan ini bermanfaat, wal hamdu lillaahi robbil ‘aalamiin, wa shollalloohu ‘alaa Muhammadin…
[Disalin dari
akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar