Atraksi Tukang Sihir Fir’aun adalah Sulap

Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono حَفِظَهُ اللهُ

 

Telah masyhur kisah tentang acara besar Fir'aun yang mengumpulkan seluruh tukang sihir yang ada di seantero negeri Mesir untuk melawan mukjizatnya Nabi Musa عليه السلام. Kisah ini Allah عَزَّ وَجَلَّ abadikan dalam al-Qur'an, misalnya dalam surat Thaha mulai dari ayat 55 sampai 76. 

Setelah terkumpul para tukang sihir -yang dikatakan oleh sejumlah ahli tafsir bahwa jumlah mereka ini mencapai 80 ribuan orang- pada hari dan tempat yang telah disepakati antara pihak Nabiyullah Musa عليه السلام dengan Fir'aun لعنه الله, dengan disaksikan oleh puluhan ribu pasang mata rakyat Mesir pada waktu itu. 

Mulailah adegan pertunjukan ilmu sihir dengan diawali tawaran dari para tukang sihir kepada Nabi Musa عليه السلام, mereka berkata, 

يَا مُوسَى إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَلْقَى

“Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) ataukah kami orang yang mula-mula melemparkan?” [QS. Thaha(20): 65] 

Nabi Musa عليه السلام menjawab, 

بَلْ أَلْقُوا

“Silakan kamu sekalian melemparkan.” [QS. Thaha(20): 66] 

Para tukang sihir tersebut segera melempar tali dan tongkat yang telah mereka persiapkan sebelumnya, sambil membaca mantra, 

بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ

“Demi kekuasaan Fir’aun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.” [QS. Asy-Syu'ara(26): 44] 

Maka tiba-tiba tali temali dan tongkat yang dilemparkan oleh tukang sihir tersebut bisa bergerak-gerak seperti makhluk hidup, Allah عَزَّ وَجَلَّ abadikan momen atraksi ini dalam ayat-Nya yang mulia, 

فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَ

“Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang oleh Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.” [QS. Thaha(20): 66] 

Atraksi ini sukses membuat orang yang melihatnya sangat ketakutan, sebagaimana Allah عَزَّ وَجَلَّ gambarkan situasinya, 

فَلَمَّا أَلْقَوْا سَحَرُوا أَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوهُمْ وَجَاءُوا بِسِحْرٍ عَظِيمٍ

“Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakjubkan).” [QS. al-A'raf(7): 116] 

Para Aimah kibar dalam ilmu tafsir, seperti al-Imam Thabari, Baghawi, Ibnu Katsir, Qurthubi dan selainnya رحمهم الله mengatakan bahwa tali dan tongkat itu berubah menjadi ular yang merayap bergeliat-geliat dan karena saking banyaknya sehingga membentuk seperti bukit ular yang mereka saling tindih-menindih satu sama lainnya. 

Yang menarik para ulama tafsir, seperti al-Imam Ibnu Katsir dan selainnya, laksana apa yang kita kenal sekarang dengan orang-orang yang membongkar trik tipuan kesaktian yang ternyata itu adalah teknik sulap semata. 

Al-Imam Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ dalam kitab tafsirnya membongkar rahasianya, kata beliau, “Demikian itu karena mereka memasukkan air raksa ke dalamnya yang menyebabkannya dapat bergerak dan bergetar serta melompat-lompat sehingga kelihatan pada pandangan mata seakan-akan tali-tali dan tongkat-tongkat para ahli sihir itu bergerak dengan sendirinya. Padahal kenyataannya hal itu hanyalah semata-mata tipu muslihat belaka. Para ahli sihir sangat banyak jumlahnya dan masing-masing dari mereka melemparkan tongkat dan talinya sehingga lembah itu penuh dengan ular ciptaan sihir mereka, sebagian darinya bertumpang tindih dengan sebagian lainnya.” -selesai-. 

Jadi ternyata mereka menggunakan cairan kimia yang dikenal dengan air raksa pada saat ini, dimana ketika cairan itu dioleskan ke tali dan tongkat dengan teknik tertentu, lalu tatkala bereaksi dengan sinar matahari, maka ia seolah-olah bergerak sendiri, padahal itu hanya reaksi kimia belaka. 

Namun ada sebagian ulama tafsir yang berpendapat bahwa itu adalah sihir yang nyata, yakni tukang sihir tersebut menyihir pandangan mata para pemirsanya, diawali menyihir pasangan Fir'aun, lalu Nabi Musa عليه السلام kemudian para hadirin yang ada di situ, sebagaimana hal ini disinggung juga oleh al-Imam Thabari رَحِمَهُ اللهُ  dalam kitab tafsirnya. 

Sebagian ulama yang berpegang kepada pendapat ahli tafsir bahwa atraksi sihir para tukang sihirnya Fir'aun sebagai atraksi yang kita kenal dengan atraksi sulap pada hari ini dengan memanfaatkan alat, semisal tongkat sulap dan cairan kimia, maka mereka mengambil kesimpulan hukum bahwa sulap hukumnya haram, karena peristiwa atraksi ini dalam konteks celaan kepada mereka yang melakukannya. 

Namun dapat kita sanggah bahwa bisa jadi keharamannya bukan lidzatihi artinya atraksi sulapnya itu sendiri, tapi yang diharamkan adalah lighoirihi, karena awalnya atraksi ini diniatkan oleh para tukang sihir untuk menipu orang-orang dan memakan hartanya Fir'aun, karena Fir'aun menjanjikan hadiah yang besar, jika mampu mengalahkan keajaiban yang dilakukan oleh Nabi Musa عليه السلام yang dituduh dengan bodoh oleh Fir'aun sama seperti sihir pada umumnya, padahal berkali-kali Nabi Musa menjelaskan kepadanya bahwa itu adalah mukjizat dari Tuhannya. 

Di akhir kisah, para tukang sihir tersebut bertaubat karena mereka dikalahkan oleh sesuatu yang sudah pasti itu bukan atraksi seperti mereka, tapi itu adalah mukjizat dari Allah عَزَّ وَجَلَّ. Imamul Mufassirin Abdullah bin Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengomentari taubatnya tukang sihir dengan perkataannya, 

كَانُوا أَوَّلَ النَّهَارِ كَفَرَةً سَحَرَةً وَأَصْبَحُوا آخِرَ النَّهَارِ شُهَدَاءَ بَرَرَةً

“Mereka pada pagi hari adalah tukang sihir yang kafir namun pada penghujung hari berubah menjadi para syuhada yang berbuat kebaikan.” 

Walhamdulillah. 

[Dikutip dari akun FB beliau]

Komentar