Menyoal Taat Pada Ulil Amri

Oleh: Ustadz Hafidin Achmad Luthfie حَفِظَهُ اللهُ

 

Ulil amri adalah terminologi syariat. Sudah tentu, cara memahaminya harus dikembalikan pada maksud pembuat syariat dan lisan para fuqohanya. 

Allah تَعَالَى yang menurunkan syariat berfirman, 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” [QS. an-Nisa’(4): 59] 

Imam Asy-Syaukani رَحِمَهُ اللهُ dalam Fathul Qodir menegaskan bahwa ulil amri adalah orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang yang  muktabar dalam pandangan syariat. Beliau berkata, 

وأولو الأمر: هم الأئمة والسلاطين والقضاة وكل من كان له ولاية شرعية لا ولاية طاغوتية

 “Ulil amri adalah para khalifah, sulthan, dan qodhot. Serta semua orang yang punya kekuasaan yang syar'i bukan kekuasaan thoghuti.” 

Dari penjelasan Imam Asy-Syaukani رَحِمَهُ اللهُ  dapat disimpulkan ada dua model kekuasaan:

1)  Kekuasaan syar'i, dan

2)  Kekuasaan thoghuti. 

Kekuasaan yang syar'i adalah kekuasaan yang berdasarkan syariat. Penguasa melaksanakan kitab Allah تَعَالَى dan sunnah Rasulullah . 

Sedang kekuasaan thoghuti adalah kekuasaan yang tidak berdasarkan syariat. Penguasa tidak melaksanakan kitab Allah تَعَالَى dan sunnah Rasulullah . 

Jadi, garis pemisah antara ulil amri syar'i dan ulil amri thoghuti adalah terletak pada iltizamnya dengan syariat dan melaksanakannya. 

Ulil amri syar'i wajib ditaati walaupun ia tergolong zalim. Demi menjaga stabilitas politik dan mencegah pertumpahan darah di antara kaum muslimin. 

Sedang ulil amri thoghuti tak punya legalitas dalam syariat. Maka, ketaatan kita bukan berangkat dari tuntutan syariat namun sebagai warga negara. Dan sebatas pada maslahat-maslahat umum yang yang tak bertentangan dengan syariat. 

Ucapan para fuqoha yang mewajibkan taat adalah pada ulil amri syar'i bukan ulil amri thoghuti. Al-Barbahari رَحِمَهُ اللهُ berkata, 

والسمع والطاعة للأئمة فيما يحب الله ويرضى، ومن ولي الخلافة بإجماع الناس عليه ورضاهم به فهو أمير المؤمنين، ولا يحل لأحد أن يبيت ليلة ولا يرى أن عليه إماماً براً كان أو فاجراً

“Dan wajib mendengar dan taat kepada pemimpin-pemimpin dalam hal-hal yang dicintai dan diridhai Allah. Barangsiapa diangkat menjadi khalifah dengan konsensus (musyawarah) dan kerelaan kaum muslimin maka dia disebut  amirul mukminin. Dan tak halal bagi seseorang bermalam satu malam tanpa dia memiliki seorang pemimpin yang wajib ditaati baik pemimpin baik maupun buruk.” 

Para imam juga memberikan fatwa tak boleh memberikan ketaatan pada penguasa-penguasa syar'i yang jahil. Imam Izzuddin bin Abdussalam رَحِمَهُ اللهُ  berkata, 

وكذلك لا طاعة لجهلة الملوك والأمراء إلا فيما يعلم المأمور أنه مأذون في الشرع

“Begitu pula tidak boleh taat pada raja-raja dan amir-amir yang bodoh kecuali terbatas pada perkara yang sudah dibenarkan dalam syariat.” 

Imam Al-Qurthubi رَحِمَهُ اللهُ  juga berkata, 

وشرط الأمراء أن يكونوا آمرين بما يقتضيه العلم، وكذلك كان أمراء رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، وحينئذ تجب طاعتهم، فلو أمروا بما لا يقتضيه العلم حرمت طاعتهم

“Syarat boleh mentaati para pemimpin adalah hendaknya mereka memerintahkan sesuatu sesuai dengan tuntutan ilmu. Demikianlah para umaro yang menjadi wakil Rasulullah . Ketika itu wajib menaati mereka. Dan seandainya mereka memerintahkan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan ilmu maka haram menaati mereka.” 

Celakanya teks-teks para ulama yang ditujukan pada ulil amri syari oleh sebagian salafi kontemporer diberlakukan juga pada ulil amri sekular dan tak berhukum pada syariat--yang dalam istilah Imam Asy-Syaukani diistilahkan dengan “kekuasaan thoghuti”. 

Al-Hafizh Ibnu Hajar رَحِمَهُ اللهُ menceritakan bahwa sebagian penguasa Daulah Umawiyyah mendebat sebagian tabi'in agar menaati mereka karena status mereka sebagai ulil amri. Al-Hafizh رَحِمَهُ اللهُ  berkata, 

ومن بديع الجواب قول بعض التابعين لبعض الأمراء من بني أمية لما قال له: أليس الله أمركم أن تطيعونا في قوله: {وأولي الأمر منكم} فقال له: أليس قد نزعت عنكم ـ يعني الطاعة ـ إذا خالفتم الحق بقوله: {فإن تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر

“Dan di antara jawaban yang indah adalah perkataan sebagian tabi'in kepada sebagian umaro dari Bani Umayyah ketika berkata, ‘Bukankah Allah memerintahkan kamu agar menaati kami dengan firman-Nya, ‘.. dan ulil amri di antara kamu,’ maka ia menjawab, ‘Bukankah kewajiban taat itu telah dicabut dari kalian bila kalian menyalahi kebenaran dengan firman-Nya, ‘Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.’.’” 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

[Disalin dari akun FB beliau]

Komentar