Oleh: Ustadz Herry Septiady حَفِظَهُ اللهُ
Sebelumnya Apa Itu Ijma’? Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ, menjelaskan definisi Ijma yakni,
اتفاق مجتهدي هذه الأمة بعد
النبي صلى الله عليه وسلم
“Kesepakatan ulama mujtahidin dari umat ini sepeninggal Nabi ﷺ.” [Al Ushul Min 'Ilmil Ushul hal.57]
Apa Dalil Ijma' Sebagai Sumber Hukum Islam?
Sabda Nabi ﷺ,
إن أمتي لا تجتمع على ضلالة
“Sungguh umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan.” [HSR. Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah]
Dan juga dalil dari al-Quran, Allah جلّ وعلا berfirman,
وَمَنْ يُّشَاقِقِ الرَّسُوْلَ
مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الْهُدٰى وَ يَـتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ
الْمُؤْمِنِيْنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصْلِهٖ جَهَـنَّمَ ۗ وَسَآءَتْ
مَصِيْرًا
“Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam Neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” [QS. an-Nisa'(4): 115]
Ketika menjelaskan ayat (وَ يَـتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيْلِ الْمُؤْمِنِيْن ), Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Imam Syafi'i menjadikan ayat ini sebagai dasar bahwa ijma adalah hujjah yang dilarang untuk menyelisihinya.
Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ dalam mukaddimah kitabnya Naqhdul Mantiq menafsirkan ayat ( سبيل المؤمنين ) “Jalannya orang-orang mukmin” maksudnya adalah mereka para shahabat.
Sehingga jika kita menggabungkan tafsiran-tafsiran para ulama ahlussunnah tentang ayat ini, maka ini menunjukkan bahwa Ijma` para shahabat adalah hujjah dalam agama Islam.
Ijma’ Yang Disepakati Adalah Ijma’ Para Shahabat
Ijma' yang disepakati alias yang tidak ada perselisihannya adalah ijma'nya para shahabat. Adapun ijma' setelah mereka terjadi banyak perselisihan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,
الإجماع متفق عليه بين عامة
المسلمين من الفقهاء والصوفية وأهل الحديث والكلام وغيرهم في الجملة، وأنكره بعض
أهل البدع من المعتزلة والشيعة، لكن المعلوم منه هو ما كان عليه الصحابة، وأما بعد
ذلك فتعذر العلم به غالباً، ولهذا اختلف أهل العلم فيما يذكر من الإجماعات الحادثة
بعد الصحابة واختلف في مسائل منه كإجماع التابعين على أحد قولي الصحابة والإجماع
الذي لم ينقرض عصر أهله حتى خالفهم بعضهم، والإجماع السكوتي وغير ذلك.
“Ijma` itu apa yang disepakati atasnya oleh kaum muslimin, termasuk didalamnya ulama fiqh, pengikut sufi, ahli hadits dan kalam, serta selain mereka secara umum.
Ijma' ini
diingkari sebagian ahli bid`ah dari kelompok Mu'tazilah dan Syia'h, namun
dimaklumi bahwa ijma' ini adalah apa yang para shahabat bersepakat di atasnya.
Adapun setelah zaman para shahabat, maka ghalibnya sangat sulit untuk mengetahui adanya ijma'.
Oleh karena itu para ulama berselisih terhadap setiap ijma' yang terjadi sepeninggal para shahabat.
Contoh:
Ijma'nya tabi'in atas salah satu dari dua perkataan shahabat, ijma'nya orang yang masih berlaku di suatu zaman, sampai datang orang setelahnya yang menyelisihi mereka, ijma' sukuti, dan jenis ijma' lain yang semisalnya.” [Majmu' Fatawa, Juz 11 Hal.341]
Banyak yang Klaim Ijma’ Padahal Nyatanya Bukan Ijma’
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,
الحمدلله، معنى الإجماع : أن
تجتمع علماء المسلمين على حكم من الأحكام. و إذا ثبت إجماع الأمة على حكم من
الأحكام لم يكن لأحد أن يخرج عن إجماعهم، فإن الأمة لا تجتمع على ضلالة، ولكن كثير
من المسائل يظن بعض الناس فيها إجماعا ولا يكون الأمر كذالك، بل يكون القول الآخر
أرجح في الكتاب و السنة
“Segala puji bagi Allah, adapun makna ijma' adalah bersepakatnya ulama muslimin atas suatu hukum dari hukum-hukum yang ada. Dan jika telah ada ijma' umat atas suatu hukum, maka tidak boleh seorang pun keluar dari ijma' mereka tersebut. Karena umat Islam tidak mungkin bersepakat dalam kesesatan.
Akan tetapi banyak permasalahan yang sebagian manusia menganggap perkara tersebut adalah ijma', padahal kenyataannya perkara tersebut tidaklah demikian, bahkan terkadang pendapat yang lainnya lebih kuat berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah.” [Majmu' Fatawa, Juz 20 Hal.10]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,
فإن عدم العلم ليس علما بالعدم
لا سيما في أقوال علماء أمة محمد صلى الله عليه وسلم التي لا يحصيها إلا رب
العالمين, و لهذا قال أحمد و غيره من العلماء : من ادعى الإجماع فقد كذب، و هذا
دعوي المريسي و الأصم، ولكن يقول: لا أعلم نزاعا، والذين كانوا يذكرون الإجماع
كالشافعي و أبي ثور و غيرهما يفسرون مرادهم : بأنا لا نعلم نزاعا، ويقولون هذا هو
الإجماع الذي ندعيه.
“Tiadanya ilmu pada seseorang bukanlah menunjukkan ilmu itu tidak ada, terlebih dalam pendapat-pendapat ulama umat Muhamad ﷺ, yang tidak ada bisa menghitungnya kecuali Allah Rabb alam semesta,
Oleh karenanya berkata Imam Ahmad dan selainnya dari kalangan ulama, ‘Barangsiapa mengklaim ijma', maka dia telah berdusta, dan klaim seperti inilah yang dilakukan oleh Al Marisi dan Ashim, akan tetapi katakanlah, ‘Aku tidak mengetahui ada perbedaan di dalamnya’.’
Dan adapun mereka yang menyebutkan ijma' seperti Imam Syafii dan Abu Tsaur dan selain dari keduanya, mereka menafsirkan maksud ijma` mereka, ‘Bahwasanya kami tidaklah mengetahui adanya perbedaan, dan mereka pun menganggap maksud kami ini sebagai ijma’.’” [Majmu' Fatawa, Juz 19 hal.271]
Semoga bermanfaat.
[Dinukil dari
akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar