Oleh: Ustadz Dika Wahyudi حَفِظَهُ اللهُ
Ahlul bathil selalu menggunakan dalil mutasyabih (rancu) tanpa mengembalikan kepada dalil yang muhkam (jelas dan gamblang). Karena dalil yang mutasyabih mengandung beberapa kemungkinan yang bisa mereka tarik agar sesuai dengan ra’yu (pendapat) mereka. Mereka itulah orang yang disifati Allah تَعَالَى dalam firman-Nya,
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ
عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ
مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا
تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا
بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا
الْاَلْبَابِ
“Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali ulul albab.” [QS. Ali 'Imran(3): 7]
Nabi ﷺ bersabda,
فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ
يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ
فَاحْذَرُوهُمْ
“Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat maka merekalah orang yang disebutkan Allah, berhati-hatilah terhadap mereka.” [HR. Bukhari No.4547 dan Muslim (1-2665)]
Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, “Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ
قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ
‘Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan.’
Maksudnya adalah kesesatan dan keluar dari hak kepada kebatilan.
فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ
‘mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat.’
Mereka mengambil yang mutasyabih yang memungkinkan mereka untuk menyelewengkannya kepada tujuan mereka yang rusak dan menempatkannya pada keinginan mereka; karena lafadznya mengandung kemungkinan kepada makna yang ingin mereka selewengkan.
Adapun yang muhkam maka tidak ada bagian mereka terhadapnya (mereka tidak bisa menyelewengkannya); karena yang muhkam akan menyangkal dan membatalkan argumentasi mereka. Oleh kerena itu Allah berfirman,
ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ
‘untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan.’
Maksudnya adalah menyesatkan pengikutnya dengan memberikan khayalan kepada mereka bahwa seakan-akan mereka memiliki hujjah dengan al-Qur’an atas kebid’ahan mereka.
Hal ini justru menghujat mereka bukan membela mereka. Sebagaimana jika ada seorang nashrani yang berhujjah bahwa al-Qur’an telah menyatakan bahwa Isa adalah ruh Allah dan kalimat-Nya yang diucapkan kepada Maryam, sedangkan mereka meninggalkan berhujjah dengan firman-Nya,
﴿
اِنْ هُوَ اِلَّا عَبْدٌ اَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنٰهُ مَثَلًا لِّبَنِيْٓ
اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ ٥٩ ﴾
‘Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami anugerahkan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai pelajaran (tanda kekuasaan Kami) bagi Bani Israil.’ [QS. az-Zukhruf(43): 59]
Dan firman-Nya,
﴿
اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ
ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ ٥٩ ﴾
‘Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah kemudian berfirman kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka, jadilah sesuatu itu.’ [QS. Ali 'Imran(3): 59]
Dan selainnya dari ayat yang muhkamat dan gamblang bahwa ia (Nabi Isa) adalah salah satu makhluk Allah, hamba, dan salah seorang dari utusan-Nya. Dan firman-Nya,
ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ
‘untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan).’
maksudnya adalah menyelewengkan ayat sesuai keinginan mereka.” [Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, (II/6)]
Oleh karena itu ahlul bathil senantiasa menggunakan dalil yang mutasyabihat dan meninggalkan yang muhkam. Karena yang mutasyabihat bisa mengandung kemungkinan yang mendukung kebatilan mereka, sedangkan yang muhkam tidak mungkin mendukung kesesatan dan kebatilan mereka.
Contoh Syubhat Mereka:
Orang musyrik berdalil dengan firman Allah تَعَالَى,
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ
لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih.” [QS. Yunus(10): 62]
Mereka berkata: “Bukankah ayat ini menunjukkan bahwa para wali memiliki kedudukan di sisi Allah? Kalau sekiranya mereka memiliki kedudukan di sisi Allah, maka boleh menjadikan mereka perantara kepada Allah.!?
Mereka juga berdalil dengan sabda Nabi ﷺ,
شَفَعَتِ الْمَلَائِكَةُ،
وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ، وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا أَرْحَمُ
الرَّاحِمِينَ
“Para malaikat telah memberikan syafa’at. Para nabi telah memberikan syafa’at. Orang-orang yang beriman telah memberikan syafa’at. Dan tidak tersisa kecuali Arhamur Rohimin (Dzat Yang Paling Penyayang).”
Mereka berkata: “Bukankah telah ditetapkan dalam hadits ini bahwa para malaikat, Nabi-Nabi dan orang beriman bisa memberikan syafa’at? Jika mereka bisa memberikan syafa’at maka boleh meminta sesuatu kepada mereka dan meminta syafa’at kepada mereka.”
Jawaban:
Dalil yang mereka bawakan adalah dalil mutasyabih. Adapun dalil yang muhkam, yang jelas maknanya dan tidak mengandung kemungkinan ini dan itu adalah firman Allah تَعَالَى,
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ
الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا
نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ
يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا
يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ
“Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.” [QS. az-Zumar(39): 3]
وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ
اللّٰهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هٰٓؤُلَاۤءِ
شُفَعَاۤؤُنَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗقُلْ اَتُنَبِّـُٔوْنَ اللّٰهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ
فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat. Mereka berkata, ‘Mereka (sembahan) itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah sesuatu di langit dan di bumi yang tidak Dia ketahui?’ Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” [QS. Yunus(10): 18]
Jelaslah dalam ayat ini bahwa kesyirikan kuffar Quraisy adalah dalam masalah syafa’at dan tawashuth (menjadikan berhala sebagai perantara mereka kepada Allah). Kedudukan mereka yang tinggi tidak menjadikan mereka boleh diminta selain Allah. Syafaat yang Allah تَعَالَى berikan kepada mereka tidak menjadikan mereka sebagai Tuhan yang boleh berdoa, meminta hajat dan syafa’at kepada mereka, karena Allah عزوجل melarangnya.
والله
أعلمُ بالـصـواب
[Disalin dari akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar