Di Antara Metode Salaf dalam Mengambil Ilmu

Oleh: Ustadz Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar حَفِظَهُ اللهُ

 

ما رأيت أحدا أحسن صلاة من ابن جريج

“Belum pernah aku melihat orang yang paling bagus shalatnya (di masa itu) dari Ibnu Juraij.” [Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya] 

Demikian Imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ  berkomentar... 

Ini menunjukkan keutamaan Ibnu Juraij رَحِمَهُ اللهُ dalam Ibadah. Bagusnya kaifiyyat serta kekhusyu'an membuat Imam Ahmad terkagum padanya. 

Pertanyaannya, mengapa Ibnu Juraij bisa demikian? 

Ternyata, beliau mengambil tatacara shalat dari 'Atha. 'Atha mengambilnya dari Ibnuz Zubair. Ibnuz Zubair mengambilnya dari Abu Bakr Ash-Shiddiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Dan Abu Bakr mengambilnya tentu dari Rasulullah . 

Mari kita soroti bagaimana mereka mengambil ilmu. Kita bagi menjadi beberapa sudut dan faedah, di antaranya: 

Pertama, Para Sahabat رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ begitu bersemangat dalam mengajarkan Ilmu beserta cara mengamalkannya. Mereka meneladankan baik melalui pengajaran langsung maupun tak langsung. 

Sebagai contoh lain adalah apa yang diriwayatkan Imam Malik dalam Al-Muwaththa, bahwasanya 'Umar bin al-Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengajarkan Tasyahhud shalat kepada manusia di atas mimbarnya. Di sisi lain Ibnu 'Umar meneladankan hal itu kepada murid-muridnya. Pun Ibunda 'Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا mengajarkan juga ketika beliau ditanya tata caranya. Silakan cek ke kitab Al-Muwaththa'-nya Imam Malik bin Anas al-Ashbahiy رَحِمَهُ اللهُ  di Bab Tasyahhud. 

Kedua, para salaf mengambil ilmu dari Ahli Ilmu sekaligus Ahlussunnah. Tiada yang meragukan keilmuan 'Atha bin Abi Rabah. Sampai-sampai orang berjejer mengantre meminta fatwa beliau di Haram, dari kalangan Awam hingga Amirul Mu‘minin. Manusia mengambil ilmu darinya lafzhan wa ma'nan. Tiada pula yang meragukan 'Atha sebagai Ahlussunnah. 

Ketiga, para Salaf mengambil ilmu dari para guru, bukan kitab. Terutama pada hal yang bersifat praktik semisal fiqih shalat dan semisalnya.

Banyak kita dapati sebagian thullabul 'ilmi yang mencukupkan diri mengambil dari buku-buku terjemahan tanpa berguru. Sehingga pada praktiknya sering terjadi kekeliruan. 

Berbeda halnya jika ia berguru. Ia bisa mengambil tatacaranya dari guru, disertai penjelasan dalil-dalilnya, disamping ia juga rajin membaca buku-buku dan mengkonfirmasikan fahamannya pada pada para guru, tentu ibadahnya lebih berkualitas lagi. 

Semoga bermanfaat... 

[Disalin dari akun FB beliau]

Komentar