Oleh: Ustadz Abu
Sa'id Neno Triyono حَفِظَهُ اللهُ
Al-Imam Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan surat Al-An'am ayat 30, beliau berkata,
وَالرُّسُلُ مِنَ الْإِنْسِ
فَقَطْ وَلَيْسَ مِنَ الْجِنِّ رُسُلٌ، كَمَا قَدْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ مُجَاهِدٌ
وَابْنُ جُرَيْجٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ
“Para rasul itu hanyalah dari golongan manusia saja, tiada satu pun dari kalangan makhluk jin yang menjadi rasul. Demikianlah menurut apa yang telah dinashkan oleh Mujahid dan Ibnu Juraij serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan para imam, baik yang Salaf maupun yang Khalaf.” -selesai-.
Al-'Allamah Ibnu Hajar al-Haitsamiy رَحِمَهُ اللهُ dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah (via dorar.net) mengatakan,
وجمهور الخلف والسلف أنه لم يكن
فيهم رسول ولا نبي خلافاً للضحاك
“Mayoritas ulama khalaf dan salaf mengatakan tidak ada Rasul dan Nabi dari kalangan bangsa jin, berbeda dengan pendapatnya adh-Dhahhak رَحِمَهُ اللهُ.” -selesai-.
Di antara dalil mayoritas ulama yang menyatakan bahwa para rasul itu hanyalah dari kalangan manusia yaitu:
a) Firman Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang mengatakan,
وَمَا أَرْسَلْنَا
قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ
وَيَمْشُونَ فِي الأسْوَاقِ
“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu. melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar.” QS. al-Furqan(25): 20]
Istidlalnya telah dimaklumi bahwa yang berjalan-jalan di pasar dan makan makanan adalah bangsa manusia, karena ini nampak bagi yang diajak bicara dalam ayat ini.
b) Firman-Nya,
وَمَا أَرْسَلْنَا
مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى
“Kami tidak mengutus sebelum kamu. melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk kota.” [QS. Yusuf(12): 109]
Istidlalnya adalah laki-laki dari penduduk kota adalah dari bangsa manusia.
c) Firman-Nya,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا
نُوحاً وَإِبْرَاهِيمَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Kitab.” [QS. al-Hadid(57): 26]
Al-'Allamah Ibnu Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ beristidlal dengan ayat ini untuk mengatakan tidak ada Rasul dari kalangan jin, kata beliau,
والجن ليسوا من ذرية نوح ولا
إبراهيم فليس منهم رسول
“Jin bukanlah anak keturunan Nabi Nuh dan tidak pula Nabi Ibrahim, sehingga tidak ada dari mereka Rasul.” -selesai-.
Pendapat mayoritas ulama adalah yang rajih, karena kuatnya dalil-dalil yang disampaikan. Adapun sanggahan terhadap al-Imam adh-Dhahhak dan yang sepakat dengannya berdalil dengan surat al-An'am ayat 130,
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ
وَالإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri.”
Yang memberi kesan bahwa ada Rasul min (dari) manusia dan ada juga Rasul min Jin, maka Jumhur menyanggahnya bahwa maksud ayat tersebut adalah “rasul dari salah satu dari dua golongan yang disebutkan”. Hal ini mirip dengan susunan ayat-Nya yang mulia,
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ
يَلْتَقِيَانِ
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.” [QS. ar-Rahman(55): 19]
Sampai pada firman-Nya,
يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ
وَالْمَرْجَانُ
“Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” [QS. ar-Rahman(55): 22]
Padahal mutiara dan marjan hanyalah keluar dari air laut, bukan dari air tawar. Sehingga makna ayat tersebut adalah “keluar dari salah satu di antara keduanya”.
والله تعالى أعلم
[Dikutip dari akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar