Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam حَفِظَهُ اللهُ
Terkait pengadaan shalat tarawih 2 waktu yang dilakukan setelah shalat Isya’ dan jam 2 malam sampai menjelang Shubuh, maka saya sampaikan:
Pertama, Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا mengatakan,
مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ
الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ
رَكْعَةً
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 rakaat.” [Muttafaqun ‘alaih. HSR. Bukhari No.1147 dan Muslim No.738]
Rasulullah ﷺ tidak pernah lebih dari 11 rakaat, maka apakah kita tidak ridha bagi diri kita yang Rasulullah ﷺ ridha untuk dirinya? Kalau Rasulullah ﷺ ridha untuk dirinya 11 rakaat maka apakah kita tidak ridha? Ini yang pertama.
Yang kedua, mengapa sampai dibuat pada jam 2 malam sampai Shubuh, dasarnya apa? Kalau dikatakan bahwa shalat malam lebih utama dikerjakan pada ⅓ akhir malam, maka saya katakan betul tapi Rasulullah ﷺ shalat malamnya ketika di bulan Ramadhan adalah di awal malam (setelah Isya’) bukan di akhir malam. Shalat tarawih yang dikerjakan Rasulullah ﷺ semasa hidupnya hanya 3 kali dan dilakukan di awal malam. Adakah riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ dan para shahabat melakukannya di akhir malam? Tidak ada.
Para shahabat ketika di zaman Umar bin Khaththab, mereka memulai shalat tarawih di awal malam. Justru jika kita melihat praktik Rasulullah ﷺ dan para shahabat melakukannya di awal malam.
Kalau ada orang yang mengatakan, “Tapi mereka shalat semalam suntuk sementara kita tidak. Oleh karena itu kami membaginya menjadi 2.” Memang sebagaimana di Mekkah dan Madinah melakukan hal tersebut, tapi caranya adalah tidak menyertakan witir. Mereka memulainya jam 9-11 malam tanpa witir, kemudian jam 1 mulai lagi dengan melanjutkan shalat sebelumnya ditambah witir, sehingga niatnya masih merupakan 1 paket.
Jadi jika dilakukannya
dengan membagi setengah di awal malam kemudian sisanya ditambah witir di akhir
malam dengan asumsi ingin mendapatkan lailatul qadar -misalnya- maka ini tidak
mengapa karena shalat malam itu dimulai setelah shalat Isya’ hingga terbit
fajar. Namun jika shalat tarawih 11 rakaat termasuk witir kemudian dia shalat
lagi 11 rakaat di akhir malam dengan witir juga maka adakah dalilnya? Karena
agama ini ilmiah.
والله
أعلمُ بالـصـواب
[Dilansir
dari https://youtu.be/GqyQS_S-G-I ]
Komentar
Posting Komentar