Dosa ghibah, kita tahu adalah dosa yang sangat besar sekali. Menggunjing, membicarakan aib saudara kita tanpa sepengetahuannya di hadapan orang lain sekalipun aib tersebut benar-benar ada pada dirinya, ini adalah ghibah.
Kita tahu al-Qur’an berbicara tentang dosa ghibah dengan gambaran yang luar biasa buruk sekali terhadap pelakunya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ
وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن
يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ
ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Hujurat(49): 12]
Jika kalian tidak sudi memakan bangkai maka janganlah berbuat ghibah, menggunjing saudara kalian. Itulah perumpamaan seorang yang menggunjing, seolah-olah dia sedang memakan bangkai saudaranya. Waliya’udzubillah, sangat menjijikkan sekali.
Muncul suatu permasalahan, bagaimana jika kita terlanjur menggunjing saudara kita dan kemudian menyesalinya, sedangkan kita membutuhkan ampunan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan kerelaan dari orang yang telah kita gunjing?
Ketika kita berterus terang kepadanya bahwa pernah menggunjingkannya, maka boleh jadi hal tersebut justru akan menyakiti hatinya dan bahkan sampai tahap meretakkan hubungan persaudaraan.
Permasalahan
ini pernah ditanyakan oleh pelajar ketika berada di masjid Nabawi kepada Syaikh
Prof. DR. Abdul Muhsin al-Badr, kemudian beliau memberikan 3 solusi:
1.
Memuji
orang yang dighibahi di hadapan orang atau majelis dimana kita pernah mengghibah
orang tersebut.
2.
Kita
menyebutkan kebaikan-kebaikan orang tersebut di hadapan orang-orang yang
mengghibahi atau mendengar ghibah tersebut. Misalkan kita berada di majelis
dimana orang tersebut dighibahi maka di situlah kesempatan kita untuk menyebut
kebaikan dan memujinya.
3.
Mendoakan
kebaikan dan memohonkan ampunan untuknya kepada Allah tanpa sepengetahuannya.
Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjauhkan kita dari dosa besar yang sering tidak kita sadari ini.
[Dilansir dari https://youtu.be/dJVLFHBHTxw ]
Komentar
Posting Komentar