Gangguan dan Godaan Setan Pada Saat Sakaratul Maut

Oleh: Ustadz Azhar Khalid bin Seff, Lc, MA حَفِظَهُ اللهُ


Dari Abu Al-Yusr رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, sesungguhnya Rasulullah berdoa, 

الَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَدمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَرَدِّي ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الغَرَقِ وَالحَرَقِ وَالهَرَمِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدبِرًا ، وَأَعُوذُ بِكَ أَن أَمُوتَ لَدِيغًا )رواه أحمد، رقم 3/427، وأبو داود، رقم 1552 وسكت عنه ، والنسائي، رقم 5531 ، وقال الحاكم في المستدرك رقم 1/713 : صحيح الإسناد ولم يخرجاه ، وصححه الألباني في صحيح أبي داود

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimbun, aku berlindung kepada-Mu dari jatuh, aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, kebakaran dan pikun. Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan pada akal dan agama saat sakaratul maut. Aku berlindung kepada-Mu dari mati dalam keadaan kabur dari jihad di jalan-Mu, aku berlindung kepada-Mu dari mati karena terpatuk.” [HR. Ahmad (3/427), Abu Dawud No.1552 dan beliau tidak berkomentar, an-Nasai No.5531. Al-Hakim berkata dalam al-Mustadrak (1/713), “Shahih sanad tapi tidak dikeluarkan oleh keduanya (Bukhari Muslim),” dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Abu Dawud] 

Dikatakan dalam kitab Aunul-Ma’bud, (4/287), 

 ( أن يتخبطني الشيطان )

“Aku berlindung kepada-Mu dari gangguan setan (pada akal dan agama saat sakratul maut).” 

·      Maksudnya adalah oleh Iblis atau salah satu golongannya (bala tentaranya).

·      Ada yang mengatakan bahwa ”takhabbut” maknanya adalah merusak. Yang dimaksud adalah Merusak Akal dan Agama.

·      Pengkhususannya dengan sabdanya, “Saat sakratul maut” karena ruang lingkupnya adalah tentang akhir kehidupan manusia.

Al-Qadhi berkata, “Maksudnya adalah berlindung dari gangguan setan dan bisikannya yang dapat menggelincirkan kaki, dan menyerang akal pikiran.” 

Al-Khathaby berkata, “Permohonan perlindungan oleh Nabi dari gangguan setan saat sakratul maut adalah memohon agar tidak dikuasai setan saat dia meninggalkan dunia, sehingga setan dapat menyesatkannya dan menghalanginya dari taubat atau menghalanginya dari upayanya memperbaiki kondisinya dan keluar dari kegelapan yang ada di hadapannya atau membuatnya berputus asa dari rahmat Allah Taala, atau membenci kematian dan menyesali kehidupan dunia, sehingga dia tidak ridha dengan ketetapan Allah berupa kematian dan perpindahan ke kampung akhirat, sehingga dirinya mendapatkan akhir yang buruk berjumpa kepada Allah dalam keadaan marah kepada-Nya.

Diriwayatkan bahwa, ‘Tidak ada kondisi yang setan sangat bersungguh-sungguh menggoda anak Adam selain menjelang kematiannya.’ Dia berkata kepada golongannya (bala tentaranya), ‘Perhatikan perkara ini, karena, jika kalian tak berhasil hari ini, maka kalian tidak akan dapat melakukannya setelah hari ini.’ 

Kita berlindung kepada Allah dari keburukannya dan kami mohon kepada Allah semoga memberkahi kita dalam pertarungan ini serta menjadikan sebaik-baik hari kita adalah hari perjumpaan dengan-Nya.” 

Godaan setan dalam kondisi tersebut sangat berat, karena saat itu seorang muslim sangat lemah dan berat, makanya Nabi berlindung darinya dalam doa-doanya setiap shalat. 

Fitnah setan kepada seorang muslim saat sakratul maut adalah dengan menimbulkan keraguan sebagaimana mereka lakukan saat seseorang hidup. 

Akan tetapi, apakah terdapat riwayat shahih dalam sunnah yang menunjukkan bahwa setan berwujud dalam rupa orang yang paling dicintai oleh orang yang sedang sekarat, lalu dia mengajaknya ke dalam agama Nashrani dan Yahudi? 

Sebagian ulama menyebutkan dalam kitab-kitab mereka, Al-Qurthubi berkata dalam at-tazkirah fi ahwal al-mauta wa umuril akhirah (29-30): 

“Diriwayatkan dari Nabi , bahwa seorang hamba jika menghadapi sakratul maut maka ada dua setan yang duduk di sisinya. Yang satu di sisi kanannya dan yang satunya lagi di sisi kirinya. Yang berada di sisi kanannya memiliki ciri seperti bapaknya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sungguh aku sangat sayang dan cinta kepadamu, akan tetapi matilah dalam agama Nashrani, dia adalah sebaik-baik agama.’ Sedangkan yang di sebelah kiri berwujud seperti ibunya, dia berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya dahulu perutku menjadi tempatmu, ASI menjadi minumanmu, pahaku menjadi bantalmu, akan tetapi matilah dalam agama Yahudi, dia adalah sebaik-baik agama’.” 

Riwayat ini disebutkan oleh Al-Hasan Al-Qabisi dalam Syarah Ibnu Abi Zaid yang dia karang dan maknanya disebutkan pula oleh Abu Hamid, dalam kitab Kasyfu Ulumil Akhirah. 

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata, “Apa yang disebutkan oleh Al-Qurthubi tidak ada dalilnya dalam al-Quran maupun sunnah, karena tidak terdapat hadis shahih dalam masalah ini. Akan tetapi, itu hanya sejumlah riwayat yang saling dinukil oleh sebagian ulama dalam kitab-kitab mereka, akan tetapi tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits yang dijadikan pedoman (landasan dalam beragama). [As-Silsilah Adh-Dhaifah wal Maudhu’ah, (3/645)] 

As-Suyuthh berkata, “Saya tidak menemukan hadits ini (dalam riwayat shahih).” 

Maka tidak boleh menisbatkan masalah ini kepada syariat, tidak boleh pula menakut-nakuti orang-orang dengannya, tidak juga boleh mengatakan bahwa setan akan selalu menempel manusia menjelang kematiannya. Karena syariat tidak menyebutkan hal itu. Karena riwayat dan hikayatnya dusta. Yang ada riwayatnya adalah bisikan dan upaya penyesatan agar orang tidak menerima takdir karena beratnya kondisi yang dia alami. 

Meskipun tidak ada hadits yang shahih dalam masalah ini, akan tapi kita tidak dapat menafikannya, karena setan memiliki tipu daya yang banyak dan berbagai cara, dia mampu hadir dalam bentuk manusia dalam berbagai wujud. Dan hal itu kadang terjadi pada sebagian orang saat menjelang kematiannya. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya seperti tertera dalam kitab Majmu Al-Fatawa (4/255) tentang (gangguan dan godaan setan berupa) ditampilkannya agama-agama  saat menjelang kematian, apakah hal itu ada landasannya dalam al-Quran dan Sunnah atau tidak? 

Ibnu Taimiyah menjawab, “Alhamdulillahi Rabbil aalamiin. Adapun ditampilkannya agama kepada seorang hamba menjelang kematiannya bukanlah perkara yang umum berlaku kepada setiap orang, tapi juga tidak dapat dinafikan tidak terjadi pada setiap orang. Tapi ada orang yang mengalami godaan diperlihatkan agama-agama menjelang kematiannya, adapula yang tidak. Terjadi pada sebagian kaum. Itu semua masuk dalam katagori fitnah kehidupan dan kematian yang kita diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah dalam shalat-shalat kami. 

Akan tetapi saat menjelang kematian, setan lebih bersungguh-sungguh untuk menyesatkan manusia, adalah saat yang setan sangat bersungguh-sungguh untuk menyesatkan anak Adam, karena itu adalah saat mereka sangat membutuhkan. Dan Nabi bersabda dalam hadits shahih, 

الأَعمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

‘Amal (ditentukan) di akhirnya.’ 

Beliau juga bersabda, 

إِنَّ العَبدَ لَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ الجَنَّةِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَينَهُ وَبَينَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسبِقُ عَلَيهِ الكِتَابُ ، فَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ النَّارِ فَيَدخُلهَا ، وَإِنَّ العَبدَ لَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ النَّارِ ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَينَهُ وَبَينَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ ، فَيَسبِقُ عَلَيهِ الكِتَابُ ، فَيَعمَلُ بِعَمَلِ أَهلِ الجَنَّةِ فَيَدخُلُهَا

(رواه البخاري، رقم  3208 ومسلم، رقم 2643)

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dia dengannya tinggal sehasta, namun telah tercatat ketentuan baginya, lalu dia beramal dengan amal ahli neraka, maka dia masuk ke dalamnya. Dan sesungguhnya ada hamba yang melakukan amal ahli neraka hingga jarak antara dia dengannya tinggal sehasta, namun telah berlaku ketentuan terhadapnya, lalu dia beramal amalan ahli surga, maka dia masuk ke dalamnya.” [HR. Bukhari No.3208 dan Muslim No.2643] 

Karena itu, diriwayatkan bahwa saat yang paling diutamakan setan dalam menggoda manusia adalah saat menjelang kematiannya, dia berkata kepada anak buahnya, ‘Kalian goda orang itu! Sungguh jika kalian tidak dapat menggodanya, kalian tidak akan mendapat kesempatan lagi selamanya.’ 

Memang tidak semua orang mengalaminya. Ada yang mengalami kejadian demikian dan ada yang tidak mengalami.  Namun setidaknya ini menjadi peringatan bagi kita akan betapa mencekamnya sakaratul maut. Karena yang menentukan status manusia adalah ujung hidupnya. 

Nabi bersabda, 

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

‘Nilai amal, ditentukan keadaan akhirnya.’ [HR. Bukhari No.6493, Ibnu Hibban No.339, dan yang lainnya] 

Semoga Allah menyelamatkan kita dari semua tipu daya setan.” 

Peringatan !!! 

Jika seorang muslim menyadari besarnya ujian kematian saat sekarang dan bahwa dia akan menghadapi masa-masa yang berat tersebut, maka dirinya akan bersiap siaga dan membekali diri dengan amal saleh serta berharap semoga Allah menetapkan husnul khotimah baginya. Karena Allah Taala akan melindungi hambanya yang beriman. 

Jika orang tersebut diketahui memiliki hati dan rasa cinta yang jujur, maka Allah akan melindunginya dari ketergelinciran dan jauhkan dari kesesatan. Maka janganlah ada yang berprasangka buruk kepada Allah Taala, Dia Maha Adil dan Bijaksana, tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman.  Allah mengharamkan kezaliman untuk dirinya. 

Tidak akan anda dapatkan insya Allah orang yang berhasil digoda setan dalam kondisi seperti ini kecuali mereka yang dahulunya berpaling dari Allah, dan lebih dekat kepada setan. Inilah yang dibuat limbung oleh setan di saat kematiannya, kerena kehidupannya sudah dipengaruhi setan. 

Ibnu Qayim berkata dalam Al-Jawabul Kafi hal.62, “Bagaimana akan mendapatkan husnul khatimah orang yang hatinya lalai dari berzikir kepada Allah, lalu dia menuruti hawa nafsunya dan sikapnya tak terkendali? Maka, orang yang hatinya jauh dari Allah Taala, lalai dari beribadah dan tunduk pada hawa nafsu, lisannya kering dari berzikir, anggota badannya tak bergerak untuk taat kepada Allah, justru sibuk dalam kemaksiatan kepada Allah, jauh baginya untuk mendapatkan husnul khatimah.” 

والله أعلمُ ...

[Disalin dari WAG ABS Ikhwan dengan ustadz Khalid Azhar bin Seff sebagai pengasuhnya]

Komentar