Membaca Shalawat Bukanlah Syarat Berdoa

Oleh: Ustadz Yani Fahriansyah حَفِظَهُ اللهُ

 

Membaca shalawat untuk Rasulullah ﷺ bukanlah syarat dalam doa. Namun begitu, ia adalah salah satu hal yang begitu dianjurkan dan merupakan faktor terijabahnya sebuah doa. 

Sahabat Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan, 

‎إن الدعاء موقوف بين السماء والأرض لا يصعد منه شيء حتى تصلي على نبيك صلى الله عليه وسلم

“Doa sejatinya bergantung di antara langit dan bumi. Tidak sedikitpun doa itu yang naik -tertuju ke langit- sebelum engkau bershalawat untuk Nabi-mu ﷺ.” [HR at-Tirmidzi, dihasankan oleh syaikh al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi] 

Dalam al-Adzkar, imam an-Nawawi رَحِمَهُ اللهُ  memberikan pernyataan, 

‎أجمع العلماء على استحباب ابتداء الدعاء بالحمد لله تعالى والثناء عليه ، ثم الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وكذلك تختم الدعاء بهما، والآثار في هذا الباب كثيرة مرفوعة

“Para ahli ilmu sepakat akan kesunnahan memulai doa dengan puja-puji terhadap Allah kemudian diiringi dengan shalawat teruntuk Rasulullah ﷺ. Demikian pula menutup doa dengan dua hal tersebut.” 

Tiga Urutan Shalawat dalam Doa (sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim dalam Jala-ul Afham) 

1.   Shalawat sebelum doa, tepatnya setelah memuji Allah جلّ وعلا. Ini berdasarkan wejangan Nabi ﷺ, 

‎إذا دعا أحدكم فليبدأ بتحميد الله والثناء عليه ثم ليُصلِّ على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليدع بعد بما شاء

“Jika salah satu di antara kalian berdoa, hendaknya ia awali dengan pujian kepada Allah lalu ia bershalawat untuk Nabi ﷺ Barulah setelah itu ia berdoa sesuai yang ia kehendaki.” [HR at-Tirmidzi, dishahihkan syaikh al-Albani] 

2.   Bershalawat di awal, tengah, dan akhir doa. 

3.   Bershalawat di awal dan akhir doa. Konten doa disebutkan di antara shalawat pertama di awal dan shalawat kedua di akhir. 

Hanya saja, mengawali shalawat dalam doa bukanlah syarat/keharusan namun bagian dari faktor doa yang terijabah. Siapa saja yang mungkin luput bershalawat dalam deretan pinta-pintanya kepada Allah جلّ وعلا, tetaplah ada kesempatan terijabah terlebih jika doa yang terlisankan itu disertai kekhusyu’an hati dan jiwa yang penuh harap lagi kembali kepada Allah ﷻ, sebagaimana fatwa yang disebutkan syaikh bin Baz رَحِمَهُ اللهُ. 

والله أعلمُ

[Disadur dari akun FB beliau]

Komentar