Darah Yang Pertama Tertumpah

 Oleh: Ustadz Idral Harits Thalib Abrar حفظه الله تعالى

 

Setelah Allah menciptakan Adam dan meniupkan ruh ke tubuh Adam yang saat itu masih berwujud tembikar, Adam bersin dan mengucapkan Alhamdulillah. Dia memuji Allah dengan izin-Nya. Maka berkatalah Rabbnya kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu, hai Adam. Pergilah kepada para Malaikat itu -yang sedang duduk- ucapkanlah, ‘Assalamu'alaikum’.”

Adam pun mengucapkannya kepada para malaikat. Para Malaikat itu berkata, “Wa’alaikumussalam.” Kemudian Adam kembali dari tempat para Malaikat membawa jawaban salam mereka. Allah سبحانه وتعالى berkata kepada beliau, “Itulah salam penghormatan buatmu dan anak cucumu.” 

Adam bertanya, “Anak cucuku? Apa itu?“ 

Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Adam memilih salah satu yang ada di antara kedua Tangan-Nya. Adam memilih yang kanan, dan kedua Tangan-Nya adalah yamin (penuh berkah). Kemudian Allah membentangkan Tangan-Nya, ternyata di situ ada Adam dan anak cucunya. 

Adam berkata, “Wahai Rabbku, apa mereka ini?” Kata Allah, “Mereka adalah anak cucumu.” 

Ternyata masing-masing manusia telah tertulis umur mereka di antara kedua matanya. Di antara mereka ada seseorang yang sangat terang, atau termasuk yang paling terang cahayanya. Kata Adam, “Wahai Rabbku, siapakah ini?“ 

Allah berfirman, “Dia adalah anakmu, Dawud. Aku tetapkan umurnya 60 tahun.” 

“Wahai Rabbku, tambahkan umurnya.” Kata Allah, “Itulah yang sudah Aku tetapkan untuknya.” 

“Duhai Rabbku, sungguh aku telah berikan untuknya 40 tahun dari umurku.” Kemudian Allah berfirman, “Itulah keputusanmu.” 

Kemudian Adam menetap di surga selama waktu yang dikehendaki Allah, lalu diturunkan darinya. Ketika itu Adam selalu menghitung-hitung umurnya. 

Suatu ketika, datanglah Malaikat Maut. Maka Adam berkata kepadanya, ”Kamu tergesa-gesa. Bukankah sudah ditetapkan umurku adalah seribu tahun?” 

“Betul, tetapi kamu telah memberikan untuk anakmu Dawud sebanyak 40 tahun.” Adam mengingkari, maka anak cucunya juga mengingkari. Adam lupa, anak cucunya juga lupa. 

Sejak saat itulah diperintahkan perlu adanya catatan dan saksi. [HR. at-Tirmidzi No.3368 dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dishahihkan oleh Syaikh aIAlbani] 

Dalam hadits ini dengan tegas disebutkan bahwa Adam tidak diciptakan di negeri abadi yang tidak akan mati-mati di sana. Tetapi di dunia fana yang telah Allah سبحانه وتعالى tentukan untuk dunia tersebut dan para penghuninya, ajal mereka masing-masing. 

Diriwayatkan pula dari ‘Umar bin Al Khaththab رضي الله عنه, bahwa beliau mendengar Rasulullah bersabda, “Allah menciptakan Adam, kemudian mengusap punggung Adam dengan Tangan kanan-Nya dan mengeluarkan anak cucu Adam. LaIu berkata, ‘Aku menciptakan mereka ini untuk (menghuni) surga dan beramal dengan amalan penduduk surga.’ Kemudian Dia mengusap punggung Adam dan mengeluarkan darinya anak cucu Adam. Lalu berkata, ‘Aku menciptakan mereka ini untuk (menghuni) neraka dan dengan amalan penduduk neraka pula mereka beramal’.” 

Tiba-tiba ada seorang shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas untuk apa beramal?” 

Kata Rasulullah , “Sesungguhnya apabiIa Allah عزوجل menciptakan seseorang untuk (menghuni) surga, Dia mengarahkannya untuk beramal dengan amalan ahli surga sampai hamba itu mati di atas salah satu amalan penduduk surga lalu masuk surga. Sebaliknya, jika Dia menciptakan seseorang untuk menghuni neraka, Dia arahkan orang tersebut untuk beramal dengan amalan penduduk neraka sampai  dia mati di atas salah satu amalan penduduk neraka lalu masuk neraka.” [HR. Abu Dawud No.4705 dan at-Tirmidzi No.3075, berkata Syaikh al-Albani, ”Shahih li ghairih.” (Lihat Takhrij Ath Thahawiyah hlm.266)] 

Dalam riwayat lain yang lebih shahih, ketika Rasulullah ditanya dengan pertanyaan di atas, beliau berkata, “Beramallah kamu, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa dia diciptakan.” 

Anak cucu Adam diciptakan secara bertahap dari setetes mani hingga menjadi manusia. ltu semua terjadi di dalam rahim seorang wanita. Di situ pula ditetapkan empat hal yang pasti dijalaninya sampai dia menghadap Allah سبحانه وتعالى. 

Empat hal tersebut ialah ajalnya (umurnya), rezekinya, amal perbuatannya, bahagia ataukah celaka yang didapatkannya. Untuk keempat hal tersebut, Allah سبحانه وتعالى memberi kemudahan kepada mereka menuju kepada apa mereka diciptakan. 

Sebelum mereka dilahirkan ke dunia, ketika mereka masih di dalam sulbi bapak-bapak mereka, Allah mengambil kesaksian dari mereka bahwa Dia adalah Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi rezeki, dan Mengatur) mereka. Semua memberikan persaksiannya. 

Persaksian itu sudah tentu menuntut sebuah konsekuensi yang tidak bisa ditawar-tawar. Bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah satu-satunya yang berhak menerima peribadatan dari seluruh manusia. Demikianlah pula Allah سبحانه وتعالى menciptakan hamba-hamba-Nya, semua berada di atas fitrahnya, dalam keadaan hanif (lurus), sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsi, 

وَ إِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِ ينِهِمْ

”Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (lurus) semuanya. Dan sungguh, syaithan mendatangi mereka lalu menyesatkan mereka dari agama mereka.” [HR. Muslim No.7386 dari 'Iyadh bin Himar Al Mujasyi'i رضي الله عنه] 

Turun ke Dunia 

Setelah sempat merasakan kenikmatan surga, Adam dan Hawwa عليه السلام akhirnya harus turun ke bumi. Sebab, di situlah mereka harus mewujudkan tujuan mereka diciptakan, sebagai khalifah yang akan mengatur kehidupan di muka bumi hingga waktu yang telah ditentukan. 

Para ulama berbeda pendapat tentang di mana Adam dan Hawwa diturunkan. Ada yang mengatakan bahwa Adam diturunkan di India, sedangkan Hawwa di Jeddah. Ada pula yang berpendapat Adam turun di Shafa, sedangkan Hawwa di Marwah. 

Yang jelas, mereka semua diturunkan ke bumi. Sejak saat itu, mulailah keduanya merasakan berbagai kesulitan yang belum pernah mereka rasakan selama di dalam surga. 

Beberapa waktu kemudian, Hawwa mulai mengandung dan tak lama lahirlah anaknya. Setelah itu lahir pula anak mereka yang berikutnya. 

Anak-anak tersebut tumbuh berkembang di bawah pengawasan kedua orang tua mereka. Mulailah mereka berusaha mengolah bumi ini, mencari rezeki Allah سبحانه وتعالى. 

Ketika dua anak tersebut sudah tumbuh dewasa, dan masing-masing mempunyai usaha untuk penghidupannya, suatu saat, bapak mereka, Adam, memerintahkan agar mereka mengorbankan sebagian harta mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى. 

Melalui perintah itu, terlihatlah kadar ketulusan dan kejujuran dari keduanya dalam melaksanakan perintah itu. 

Qabil yang Iebih tua, bertubuh sedang, tidak begitu kekar, dan sehari-harinya bekerja sebagai petani. Ketika perintah ini diberlakukan, dia memilih beberapa jenis buah dan biji-bijian atau sayuran yang sudah busuk dan rusak. 

Habil yang lebih muda dan lebih kekar, bekerja menggembalakan ternak. Setiap hari dia memeriksa dan merawat ternaknya. Semua ternaknya terlihat gemuk dan sehat. Disiapkannya ternak yang hendak dipersembahkan kepada Allah سبحانه وتعالى sebagai kurban. Dia memilih yang paling bagus dan paling gemuk. 

Pada hari yang ditentukan, mereka bersama-sama meletakkan persembahan itu di sebuah tempat yang telah ditetapkan oleh Allah melalui ayahanda mereka, Adam عليه السلام. Persembahan yang diterima adalah kurban yang habis dimakan api yang turun dari langit. Itulah ajaran yang termuat dalam syariat umat-umat terdahulu. 

Keesokan harinya, Adam membawa putra-putranya untuk menyaksikan kurban siapa yang diterima oleh Allah سبحانه وتعالى. Ternyata, hasil panen yang dipersembahkan Qabil masih tetap di tempatnya, bahkan semakin busuk dan layu. 

Berbeda dengan ternak yang dikurbankan Habil, sudah dimakan oleh api yang turun dari langit. Tentu saja kejadian ini menimbulkan dendam di hati Qabil. Akhirnya, dengan penuh kebencian, dia berkata kepada Habil, sebagaimana yang Allah kisahkan dalam al-Maidah ayat 27-31 yang artinya, “Aku pasti membunuhmu.”   

Tetapi Habil hanya mengatakan, sebagaimana diceritakan dalam ayat, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa. Dosa dan kesalahan apa yang saya lakukan hingga harus kamu bunuh?” 

Qabil semakin jengkel dan berambisi ingin membunuh Habil. Sedangkan Habil tidak menanggapi dan hanya mengingatkan saudaranya, “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kaIi tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu.” 

Seakan-akan, Habil hendak mengatakan bahwa seandainya Qabil mendahului membunuhnya, maka dia tidak akan memulainya, tidak puIa membalas. Habil tetap mengingatkan saudaranya itu agar takut kepada Allah Rabb semesta alam. 

Demikianlah, Habil tidak ingin membela dirinya andaikata Qabil benar-benar nekat hendak membunuhnya. Habil menerangkan alasannya mengapa dia tidak mau membalas, sebagaimana disebutkan dalam ayat yang artinya, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.” 

Sebab, orang yang benar-benar takut kepada Allah, tentu tidak akan berani berbuat dosa, terlebih dosa-dosa besar. 

Sikap yang ditunjukkan oleh Habil, tidak mau membalas atau membela diri sangat langka terjadi. Tetapi inilah yang diarahkan oleh Rasulullah ketika terjadi perselisihan, 

 إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًاوَ يُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًاوَ يُصْبِحُ كَافِرًا القَاعِدُ فِيهَا خَيرٌ مِنَ القَا ئِمِ

وَالْمَاشِى فِيهَا خَيرٌ مِنَ السَّاعِى فَكَسِّرُوا قِسِيَّكُمْ وَقَطِّعُوا أَوْتَارَكُمْ وَاضْرِبُوا سُيُو فَكُمْ بِالْحِجَارَةِ فَإِنْ دُ خِلَ - يَعْنِي عَلَى أَحَدٍ مِنْكُمْ - فَلْيَكُنْ كَخَيْرِ ابْنَى آدَمَ

“Sesungguhnya, menjelang hari kiamat banyak fitnah-fitnah seperti kepingan malam yang gelap gulita. Waktu itu, di pagi harinya seseorang masih sebagai mukmin, tetapi sore harinya sudah menjadi kafir, atau sore harinya masih  sebagai mukmin, namun pada pagi harinya sudah menjadi kafir. Yang duduk pada masa itu, lebih baik daripada yang berdiri. Yang berjalan pada masa itu, lebih baik daripada yang berlari. 

Sebab itu, pecahkanlah busur-busur panah kalian, putuskanlah senar-senarnya, dan pukulkanlah pedang-pedang kalian ke batu. Kalau kalian -salah seorang dari kalian- dikejar sampai masuk ke dalam rumahnya, hendaklah dia menjadi putra Adam yang terbaik.” [HR. Abu Dawud No.4261, dishahihkan oleh Syaikh aI-Albani]  

Artinya, meniru sikap Habil. Tidak memulai apalagi membalas. Dia tetap mengingatkan saudaranya agar takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Habil mengatakan, sebagaimana dalam ayat yang artinya, “Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.” 

Artinya, aku ingin agar kamu kembali kepada Allah yang telah menciptakan kita pada hari kiamat, dengan membawa dosa pembunuhan yang kau lakukan terhadapku dan dosa yang kau bawa selama hidupmu, sehingga dengan sebab itu engkau akan menjadi penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik. 

Sayangnya, targhib dan tarhib inipun tidak berguna bagi Qabil. Syaithan benar-benar telah menguasai dan mengisi hatinya dengan hasad dan dendam kepada saudaranya. Akhirnya, “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya.” 

Hawa nafsu Qabil semakin menggelegak dan menumbuhkan keberaniannya. Bahkan membuat matanya gelap hingga perbuatan dosa itu sangat indah menurut pandangannya. Akhirnya, dia mengambil sebuah batu dan memukul kepala saudaranya sekeras-kerasnya. 

Tumpahlah darah HabiI. Tetapi, itu tidak melunakkan hati Qabil. Itulah kejahatan yang pertama dalam sejarah manusia. Semua itu ditimbulkan oleh rasa iri dan dengki. Itulah kemaksiatan pertama yang dengan itu Allah سبحانه وتعالى didurhakai di muka bumi. و الله المستعان. 

Setelah membunuh Habil, Qabil  termangu-mangu menatap jenazah saudaranya. Apa yang harus kukerjakan, bisiknya dalam hati. Kalau dibiarkan di sini tentu dimakan binatang buas. Muncul rasa iba dalam hatinya, tetapi tidak ada gunanya. 

Terlihatlah betapa Iemahnya manusia. Betapa zalim dan bodohnya mereka. Akal dan pikiran Qabil buntu. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap jenazah saudaranya. Tubuhnya lemas. Sayup-sayup dia mendengar suara ayahnya memanggil. 

Qabil diam saja tidak berani menyahut. Lalu dengan cepat dia memanggul jenazah Habil dan membawanya menjauhi tempat itu. Setelah agak jauh dan tidak mungkin tersusul, dia menurunkan jenazah Habil. 

Dengan izin Allah سبحانه وتعالى, turunlah dua ekor gagak berkejar-kejaran dan saling menyerang, hingga salah satunya mati. Gagak yang masih hidup menggali tanah dengan paruh dan cakarnya, lalu menyeret bangkai temannya dan menimbunnya dengan tanah." 

Qabil semakin menyesali kebodohannya. Demikianlah apabila manusia sudah tertutup hati, telinga, dan matanya dari kebenaran. Mereka jatuh terpuruk lebih rendah dari binatang. 

Allah سبحانه وتعالى berfirman, 

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

”Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia,  mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” [QS. al-A'raf(7): 179] 

Telah diciptakan untuk mereka, hati (akal), pendengaran, dan penglihatan sebagai alat untuk membantu mereka melaksanakan perintah Allah, tetapi mereka menggunakannya untuk sebaliknya, durhaka kepada Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih sesat daripada binatang ternak. Karena binatang ternak itu mampu menggunakan akal, pendengaran, dan penglihatannya untuk memilih mana yang bermanfaat dan meninggalkan apa yang merugikannya. Dari sisi ini alangkah rendahnya keadaan seorang manusia yang telah diberi perangkat tersebut oleh Allah سبحانه وتعالى, tetapi tidak mampu memanfaatkannya untuk taat kepada Allah سبحانه وتعالى.و الله المستعان. 

ltulah kisah yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam al-Quran. Kisah yang pasti mengandung pelajaran. Sebagaimana yang Allah سبحانه وتعالى tegaskan dalam ayat yang lain, 

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur‘an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat.” [QS. Yusuf(12): 111] 

Allah سبحانه وتعالى berfirman yang artinya, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil), dan tidak diterima dari yang Iain (Qabil). Ia berkata (Qabil), ‘Aku pasti membunuhmu.’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa. 

Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekaIi-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. 

Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim.’ 

Maka hawa nafsu (Qabil) menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi. 

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. 

Berkata (Qabil), ‘Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, Ialu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?’ Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal.” [QS. al-Maidah(5): 27-31] 

Di dalam ayat-ayat yang mulia ini, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menceritakan kepada Bani Israil secara khusus, dan kaum muslimin secara umum tentang buruknya akibat kedengkian, pelanggaran hak orang Iain, dan kezaliman. 

Dengki adalah penyakit berbahaya yang pernah menjangkiti bangsa manusia sebelum kita. Rasulullah bersabda, 

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لاَ أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ

“Telah datang dan menyebar kepada kalian penyakit umat manusia sebelum kalian; (yaitu) dengki dan kebencian, yang ini merupakan pencukur. Saya tidak katakan dia mencukur rambut, tetapi mencukur agama.” [HR. at-Tirmidzi dan Iainnya, dishahihkan oleh Imam al-Albani dalam Al Irwa' (2/290)] 

Bahkan, hasad atau dengki adalah salah satu pilar kekafiran, meski orang yang hasad belum tentu kafir. Hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat (duniawi dan ukhrawi) yang ada pada seseorang. Tetapi ada bentuk lain yang mirip dengan hasad, meskipun dinamakan juga hasad, yaitu ghibthah. 

Ghibthah ialah sikap seseorang yang tidak menyukai hilangnya nikmat itu dari orang lain. Tidak pula membencinya bila orang Iain memperoleh nikmat tersebut, atau selalu merasakannya. Akan tetapi dia ingin memperoleh nikmat yang serupa. Pada keadaan inilah Rasulullah mengatakan, 

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٍ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٍ آتَاهُ اللهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

”Tidak ada hasad kecuali pada dua hal: seseorang yang Allah beri harta lalu dihabiskan di jalan al haq dan seseorang yang diberi Allah hikmah, lalu dia memutuskan setiap persoalan dengannya dan mengajarkannya.” [HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه] 

Al Hasan AI Bashri رحمه الله menasihatkan, “Hai Bani Adam (manusia), mengapa engkau dengki kepada saudaramu? Kalau sesuatu yang diberikan kepadanya itu adalah kemuliaan baginya, mengapa engkau dengki kepada orang yang dimuliakan oleh Allah سبحانه وتعالى ? Dan seandainya bukan, untuk apa engkau dengki kepada orang yang tempat kembalinya adalah neraka?” [Al Lubab fi 'Ulumil Kitab, (7/282)] 

Orang yang dengki menunjukkan dia tidak ridha dengan qadha dan qadar Allah سبحانه وتعالى, serta pembagian-Nya. 

Pada hakikatnya, kedengkian adalah salah satu ungkapan rasa permusuhan terhadap Allah سبحانه وتعالى. Karena, pelakunya tidak senang ketika nikmat Allah tercurah kepada salah seorang hamba-Nya yang dicintai-Nya. Kemudian orang yang dengki itu ingin agar nikmat itu lenyap dari hamba tersebut, padahal Allah tidak menyukai hal itu. Maka ini berarti dia melawan Allah dalam qadha dan qadar-Nya, cinta dan benci-Nya. 

Setelah kejadian itu, tidak lagi terdengar berita tentang Qabil. Meskipun Qabil sudah mati, tetapi sunnah sayyiah (ajaran jelek) yang telah dicontohkannya terus berlanjut sampai hari kiamat. 

lnilah yang diingatkan oleh Rasulullah yang bersabda, 

وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Dan siapa yang melakukan satu sunnah yang buruk lalu diamalkan (orang lain) sepeninggalnya, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah itu sepeninggalnya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” [HR. Muslim] 

Beliau juga bersabda, 

مَا مِنْ نَفْسٍ تُقْتَلُ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ اْلأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا ذَلِكَ بِأَنَّهُ أَوَّلُ مَنْ سَنَّ الْقَتْلَ

“Tidak ada satu pun jiwa yang terbunuh secara zalim melainkan anak Adam yang pertama juga menanggung bagian dari darahnya. Karena dialah yang mula-mula melakukan sunnah pembunuhan.” [HR. Bukhari (2/79) dan Muslim (3/1303)] 

Karena itu pula, Allah سبحانه وتعالى berfirman, 

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ

“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” [QS. aI-Maidah(5): 32] 

ltulah pelajaran pertama yang dapat dipetik dari kisah ini. 

Yang kedua, kejinya tindak pembunuhan. Dan, hukumannya yang sangat besar di sisi Allah سبحانه وتعالى. Bahkan Allah سبحانه وتعالى berfirman, 

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya. Dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [QS. an-Nisa(4): 93] 

Di dalam hadits shahih, Rasulullah bersabda, 

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهَ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh, lenyapnya dunia ini lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” [HR. at-Tirmidzi dari lbnu ‘Umar رضي الله عنهما, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami' No.5077] 

Mengapa demikian mulia ihwal seorang muslim? Karena Allah سبحانه وتعالى menciptakan dunia ini untuk si muslim. Agar dia melintasinya menuju kampung akhirat dan menjadikan dunia ini sebagai ladang, bertanam amal shalih, jasa, dan kebaikan. Oleh sebab itu, siapa yang melenyapkan seorang manusia (muslim), yang dunia ini diciptakan untuknya, berarti dia sedang berusaha untuk melenyapkan dunia. 

Pelajaran ketiga, hasad itu sudah bersemayam di dalam diri manusia, maka beruntunglah orang-orang yang membersihkan dirinya dari sifat tercela ini. 

والله أعلم

[Dikutip dari Majalah Qudwah Edisi 05 dan https://t.me/Majalah_Qudwah]

Komentar