Waspada Ghisy dalam Berjualan

Ghisy berarti menipu atau curang. Kata ini tentu bermakna sangat umum sehingga meliputi segala bentuk penipuan atau kecurangan dalam akad jual-beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, gadai, atau muamalah lainnya. 

Contohnya, menutup kurma jelek dengan kurma bagus di atasnya bila berjualan, melebih-lebihkan gambar produk dari aslinya agar orang lain tertarik membeli padahal produk yang dijual tidak sama dengan yang ada pada gambar. 

Dari Shahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda, 

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ

“Barang siapa berbuat curang kepada kami, dia bukan dari golongan kami, dan makar serta penipuan itu tempatnya di neraka.” [HR. Ibnu Hibban (2: 326), Thabrani, Mu’jamul Kabir, dan Mu’jamush Shaghir] 

Rasulullah bersabda, 

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Dua orang yang bertransaksi jual-beli itu punya hak khiyar (memilih) selama belum berpisah. Apabila keduanya jujur dan menerangkan (apa adanya), keduanya akan diberi berkah dalam jual-belinya. Namun, apabila mereka berdusta dan menyembunyikan (cacat), akan dihilangkan keberkahan jual-beli atas keduanya.” [HR. Bukhari dan Abu Dawud] 

Contoh Ghisy pada zaman Rasulullah , adalah berdasarkan hadits Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, 

أَنَّ رَسُولَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيْهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا، فَقَالَ: مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ؟ قَالَ: أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ؛ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي

“Rasulullah melewati tumpukan makanan (yang dijual). Beliau memasukkan tangannya ke dalamnya dan mendapati tangan beliau basah. Beliau mengatakan, ‘Ada apa ini, wahai pemilik makanan?’ ‘Terkena hujan, wahai Rasulullah,’ jawabnya. 

Beliau mengatakan, ‘Tidakkah engkau letakkan di bagian atas makanan itu supaya orang melihatnya? Orang yang menipu bukan dari golongan kami’.” [HR. Muslim No.102, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Thabrani] 

Syaikh ‘Abdullah al-Fauzan berkata, “Pengelabuan atau akal-akalan pada sesuatu yang telah Allah haramkan menyebabkan murka dan laknat Allah. Orang yang melakukan akal-akalan itu berdosa disebabkan karena melakukan tipu daya terhadap Allah Ta’ala. Orang seperti ini telah menyerupai orang-orang Yahudi yang terkena murka Allah. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka. 

Telah banyak bentuk akal-akalan di zaman ini, lebih-lebih dalam masalah jual beli. Itu bisa terjadi karena lemahnya iman dan kurangnya rasa takut pada Allah, juga karena meremehkan hukum syari’at. Ini pun disebabkan karena sudah terfitnah dengan dunia.” [Minhatul ‘Allam, (6: 17)] 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Komentar