Menyakiti Hati Orang Mukmin, Tempatnya di Neraka

Berhati-hatilah dalam memberikan komentar atau pernyataan-pernyataan yang menyakiti hati seseorang terlebih ia seorang mukmin lagi ahlussunnah. Dosa dan keberadaan di neraka adalah hukuman yang diancamkan Allah عزوجل kepada mereka yang melakukannya. 

Allah عزوجل berfirman, 

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا﴿٥٧﴾وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah  akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [QS. al-Ahzab(33): 57-58] 

Tengok pula sebuah riwayat berikut, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : «لاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَتَنَاجَشُوا، وَلاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخوَاناً. المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَايَحْقِرُهُ. التَّقْوَى هَاهُنَا -وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- بِحَسْبِ امْرِىءٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ المُسْلِمَ. كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling tanajusy (menyakiti dalam jual beli), janganlah saling benci, janganlah saling membelakangi (mendiamkan), dan janganlah menjual di atas jualan saudaranya. 

Jadilah hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara untuk muslim lainnya. Karenanya, ia tidak boleh berbuat zalim, menelantarkan, berdusta, dan menghina yang lain. Takwa itu di sini -beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang berdosa jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya itu haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya’.” [HR. Muslim No.2564, Arba’in an-Nawawi No.35] 

Dalam riwayat lain, juga dari Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda, 

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ مَالُهُ وَعِرْضُهُ وَدَمُهُ حَسْبُ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Setiap Muslim terhadap Muslim yang lainnya haram harta, kehormatan dan darahnya. Cukuplah seseorang dianggap melakukan keburukan jika dia meremehkan saudaranya Muslim.” [HR. Abu Dawud No.4884 dan Ibnu Majah No.4213. Lafadz ini adalah lafadz Abu Dawud. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir No.4509] 

Dari Ummul Mukminin Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا bahwa Rasulullah pernah bersabda kepada para Shahabat, 

تَدْرُونَ أَزْنَى الزِّنَا عِنْدَ اللهِ ؟ قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : فَإِنَّ أَزْنَى الزِّنَا عِنْدَ اللهِ اسْتِحْلاَلُ عِرْضِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ ، ثُمَّ قَرَأَ {وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا }

“Apakah kalian tahu apakah zina yang paling parah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya-lah yang lebih mengetahui.” Beliau menjawab, “Sesungguhnya zina yang paling parah adalah menghalalkan kehormatan seorang muslim.” Kemudian beliau membaca ayat, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat.” [HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya No.4686. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan, “Isnad-nya shahih.”] 

Rasulullah pernah ditanya oleh seorang Shahabat, 

ياَ رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟

”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Fulanah rajin shalat malam, rajin pula shaum pada siang hari, dan gemar bersedekah, tapi dia menyakiti tetangganya dengan lisannya!” Maka Beliau menjawab, 

لاَ خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ أهْلِ النَّارِ. قَالَ : وَ فُلاَنَة تُصَلِّيْ المَكْتُوْبَةَ وَ تَصَدَّقُ بِأثْوَارِ مِنَ الأقِطِ وَ لاَ يُؤْذِيْ أحَدًا ؟ فَقَالَ: هِيَ مِنْ أهْلِ الجَنَّةِ

“Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka.” Lalu Shahabat itu bertanya lagi, ”Fulanah (wanita) yang lain rajin shalat fardhu, gemar bersedekah dengan sepotong keju, dan tidak pernah menyakiti seorang pun?” Maka Beliau menjawab, ”Dia termasuk penduduk surga.” [HR Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad No.119 dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Min Adabil Islam hal. 32] 

Menjaga lisan adalah hal terberat bagi siapapun, terlebih bila dirinya tengah menghadapi fitnah. Membalas keburukan dengan mendoakan kebaikan bagi pemfitnah adalah hal berat juga namun insya Allah, malaikat akan turut serta mendoakan kebaikan pada yang mendoakan (tertuduh). 

Rasulullah bersabda, 

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ. كُلَّمَا دَعَا ِلأَخِيْهِ بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِيْنَ. وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada Malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka Malaikat tersebut berkata, ‘Aamiin dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan'." [HSR. Muslim pada kitab adz-Dzikr wad Du’aa’ wat Taubah wal Istighfaar bab Fadhlud Du’aa’ lil Muslimiin bi Zhahril Ghaib (IV/ 2094 No.2733 (88)] 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:

1.   https://almanhaj.or.id

2.   Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman https://rumaysho.com  

3.   Ustadz Raehanul Bahraen pada laman https://muslim.or.id/58881-mendoakan-saudara-tanpa-sepengetahuannya-adalah-tanda-jujurnya-keimanan.html

Komentar