Mengkhususkan Kajian Tertentu Selain Tauhid

Oleh: Ustadz Fadlan Fahamsyah حَفِظَهُ اللهُ

 

Faedah dari Daurah fadhilat asy-Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily حَفِظَهُ اللهُ . 

Beliau (Syaikh Ibrahim)  ditanya tentang da'i yang mengkhususkan kajiannya di bidang ilmu tertentu selain Tauhid, seperti mengkhususkan kajian muamalah, rumah tangga, fiqh, akhlak, tajwid, bahasa Arab, atau siroh. 

Beliau menjawab (fiima ma'na), “Bahwa memang begitulah seharusnya, inilah yang shahih, setiap orang punya kekhususan (spesialisasi) dalam ilmu, ada yang ahli dalam mengajar tauhid tapi dia tak ahli di bidang tajwid, ada yang ahli lughoh tapi dia tidak ahli dalam mengajar tauhid, tidak semua orang bisa mengajarkan tauhid asma wa shifat, sebagaimana mata kuliah di Ma'had (atau universitas) tidak mungkin semua mengajar tauhid, tapi ada yang mengajar fiqh, ada yang mengajar tauhid, ada yang mengajar Ushul, ada yang ngajar lughoh,.. 

Justru harus ada di antara da'i yang menutup pintu celah yang ada, harus ada yang bisa fiqh, tajwid, muamalah, dan seterusnya. 

Yang tidak boleh adalah da'i yang tidak mau mengajarkan tauhid dan memerangi dakwah tauhid (meremehkannya dan  menganggapnya tak penting, dan seterusnya). 

Adapun orang yang memuliakan tauhid, mengamalkan tauhid tapi dia menutup celah yang ada dengan mengajar ilmu yang lain, maka ini tidak mengapa. والله أعلمُ.” 

Sebagian orang beranggapan bahwa mengajarkan tauhid harus pakai kitab-kitab tauhid atau kitab-kitab Aqidah dan semisalnya. 

Padahal tidak juga seperti itu, seseorang bisa menjelaskan tauhid ketika mengajar tafsir. Tafsir surat-surat pendek seperti al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq, an-Naas, al-Kautsar, dan lain-lain. Surat-surat di atas sangat jelas menerangkan tauhid beserta macam-macamnya. 

Bisa juga dengan siroh, dengan menjelaskan bagaimana peran Rasulullah dan shahabat dalam memperjuangkan tauhid. 

Bisa dengan kitab-kitab hadits seperti kitab Riyadhus Shalihin. Di situ ada bab ikhlas di awal bab, ada juga bab tawakkal dan sabar, itu semua adalah bagian dari tauhid. 

Bisa juga dengan Arbain Nawawi terutama hadits ke 1, 2 dan 3.... 

Yang tak benar itu klaim sebagian orang yang menganggap kajian selain kitab aqidah atau kitab tauhid dianggap tidak memprioritaskan tauhid. 

Dakwah itu dari akar kata da'aa  yad'uu دعا-يدعو “ yang artinya mengajak, mengajak itu perlu sikap persuasif, membimbing dan membujuk dengan memperhatikan kondisi masyarakatnya. Tidak mungkin di tengah masyarakat awam yang anti sunnah kita ajarkan kitab Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid,  tapi mari kita ajarkan kepada mereka terlebih dahulu “titik kesepakatan” kita dengan mereka, seperti belajar al-Qur'an; baik dengan belajar membacanya, memaknainya dan menafsirinya, dari situ engkau bisa tanamkan tauhid. 

Jadi saudaramu yang mengajarkan tafsir, hadits, siroh itu bukan berarti tidak mengajarkan tauhid. 

والله تعالى أعلم

[Disadur dari akun FB beliau]

Komentar