Hukum Wanita Mengumandangkan Adzan

Shahabiyyah jalil dikatakan membawakan hadits marfu’, 

ليس على النساءِ أذانٌ ولا إقامةٌ، ولا جمعةٌ ولا اغتسالُ جمعةٍ

“Tidak ada kewajiban atas wanita untuk adzan, iqamat, Jum'at dan mandi Jum'at...” 

Namun status hadits di atas adalah palsu, sebagaimana penilaian Imam al-Albani رَحِمَهُ اللهُ  dalam adh-Dhaifah No.879. 

Akan tetapi Aimah (Imam Madzhab) yang empat ditambah Zhahiri sepakat atas tidak wajibnya wanita beradzan dan iqamat, bahkan mayoritas ulama mengatakan tidak boleh bagi wanita beradzan untuk laki-laki dan mengatakan tidak sahnya adzan mereka, jika ditujukan untuk shalat berjamaah bersama laki-laki. 

Namun jika wanitanya shalat tidak bersama dengan laki-laki yaitu dalam berjamaah sesama wanita, maka jika ada salah satu di antara mereka adzan dan iqamat itu tidak masalah. Shahabi Jalil Abdullah bin Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ pernah ditanya, 

هل على النساء أذان؟ فغضب، وقال: أَنْهى عن ذكر الله؟!!

“Apakah wanita boleh beradzan? Maka beliau marah sambil berkata, ‘Apakah aku akan melarang dari dzikir kepada Allah?!” [HR. Ibnu Abi Syaibah, dihasankan oleh asy-Syaikh Abu Malik Kamal] 

Shahabi jalil Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ pernah ditanya juga apakah wajib bagi wanita adzan dan iqamat, maka beliau menjawab, 

لا، وإن فعلن فهو ذكر

“Tidak wajib, namun jika mereka melakukannya, maka itu adalah dzikir.” 

Kemudian al-Imam asy-Syafi’i رَحِمَهُ اللهُ memberikan arahan bagaimana teknis adzannya wanita, kata beliau, 

ولا تجهر المرأة بصوتها، تؤذن في نفسها، وتسمع صواحباتها إذا أذَّنت، وكذلك تقيم إذا أقامت

“Janganlah ia mengeraskan suaranya, ia adzan dengan suara pelan untuk dirinya sendiri dan didengar oleh teman-temannya jika adzan, demikian juga iqamatnya jika ia beriqamat...” 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

[Faedah dari kitab Shahih Fiqh as-Sunnah karya asy-Syaikh Abu Malik Kamal حَفِظَهُ اللهُ sebagaimana kami nukil dari akun facebook ustadz Abu Sa'id Neno Triyono حَفِظَهُ اللهُ]

 

Komentar