Bid’ah-Bid’ah Dalam Pengumandangan Adzan

Oleh: Ustadz Abu Sa'id Neno Triyono حَفِظَهُ اللهُ

 

Asy-Syaikh Sayyid Sabiq رَحِمَهُ اللهُ dalam kitabnya Fiqh as-Sunnah (I/84-85, cet. Daar al-hadits, Kairo) menyebutkan sekitar 5 poin yang biasanya ditambahkan dalam pengumandangan adzan yang bukan bagian dari syariat yang murni. 

Beliau berkata dalam poin ke-21 Hal-hal yang ditambahkan kepada adzan dan tidak termasuk di dalamnya: 

الاذان عبادة، ومدار الامر في العبادات على الاتباع. فلا يجوز لنا أن نزيد شيئا في ديننا أو ننقص منه

“Adzan adalah ibadah dan dasar dalam perkara ibadah adalah mengikuti apa yang telah disyariatkan, sehingga tidak boleh bagi kita menambahkan atau mengurangi sesutu dalam agama kita.” 

Kemudian beliau menyebutkan 5 buah contoh bid'ah yang biasanya terjadi di masyarakat terkait adzan, sebagai berikut: 

1.   Ucapan muadzin sewaktu adzan dan iqamat,

أشهد أن سيدنا محمدا رسول الله

Asyhadu Anna Sayyidinaa Muhammadaan Rasulullah 

Menurut Al Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, tidak boleh tambahan “Sayyidina” dimasukkan dalam dzikir yang berasal dari Nabi . 

2.   Menyapu kedua mata dengan kedua kuku jari telunjuk bagian dalam, sewaktu mendengar muadzin mengucapkan “Asyhadu Anna  Muhammadaan Rasulullah,” ia menjawab, “Asyhadu Anna  Muhammadaan 'Abduhu wa Rasuluh, radhitu billahi rabbaan, wabil Islami Diinaan, wabi Muhammadin Nabiyyaan.”  

Imam ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad-nya bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ melakukan hal di atas, kemudian tatkala Rasulullah melihatnya, Beliau bersabda, 

من فعل فعل خليلي فقد حلت له شفاعتي

“Barangsiapa yang melakukan apa yang diperbuat kekasihku (maksudnya Abu Bakar radhiyallahu anhu), maka halal baginya syafa'atku.” 

Hadits di atas dinukil oleh asy-Syaikh Ismail al-'Ajluuniy dalam kitabnya Kasyf al-khinaa’, lalu beliau menerangkan bahwa hadits ini dhaif. 

3.   Melagukan atau mengiramakan adzan dan lahn dengan menambahkan satu huruf atau harakat atau tanda panjang, ini adalah makruh, namun jika sampai merubah makna, maka ini adalah haram. Dari Yahya al-Bukaa’, beliau berkata, 

رأيت ابن عمر يقول لرجل إني لابغضك في الله، ثم قال لاصحابه: إنه يتغنى في أذانه، ويأخذ عليه أجرا.

“Aku melihat Ibnu Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata kepada seseorang, sesungguhnya aku membencimu karena Allah, lalu beliau berkata kepada rekan-rekannya,  ‘ia adalah orang yang menyanyikan adzan dan mengambil bayaran dari itu’.” 

4.   Tasbih sebelum fajar. Penulis kitab al-Iqnaa' dan syarahnya -kitab fiqih dalam madzhab Hanbali- berkata, “Dan selain adzan sebelum fajar, berupa tasbih, bernasyid, mengeraskan suara, dan berdoa serta semisalnya di tempat-tempat adzan, tidaklah termasuk sunnah ..." 

Imam ibnul Jauzi رَحِمَهُ اللهُ dalam Talbiis al-Ibliis berkata, “Aku melihat sendiri pada waktu sepanjang malam, orang yang berjaga-jaga di atas menara pada waktu malam untuk memberi nasihat dan pengajaran, berdzikir, dan membaca salah satu surat al-Qur'an dengan suara keras, hingga mengganggu orang tidur dan mengacaukan bacaan orang yang sedang shalat tahajjud. Semua itu termasuk perbuatan mungkar.” 

5.   Muadzin mengeraskan bacaan sholawat dan salam kepada Rasulullah setelah adzan. Hal ini tidak disyariatkan, bahkan ini adalah perbuatan bid'ah yang makruh. Ibnu Hajar al-Asqalani menukil fatwa dari sebagian masyaikhnya bahwa sholawat setelah adzan, pada dasarnya sholawat itu sunnah, namun tata caranya (setelah adzan dengan mengeraskannya) adalah bid'ah. 

Kemudian asy-Syaikh Sayyid Sabiq رَحِمَهُ اللهُ menutup pasal pembahasan ini dengan berkata, 

ولا عبرة بقول من قال: إن شيئا من ذلك بدعة حسنة، لان كل بدعة في العبادات على هذا النحو فهي سيئة  ومن ادعى أن ذلك ليس فيه تلحين فهو كاذب

“Dan tidaklah dianggap ucapan orang yang mengatakan bahwa itu semua adalah bid'ah hasanah, karena bid'ah dalam ibadah semacam ini adalah jelek, dan barangsiapa yang mengklaim tidak ada kesalahan padanya, maka ia telah berdusta.” 

والله تعالى أعلم

[Disadur dari akun FB beliau]

Komentar