Mengurai Keabsahan dan Patokan Penggunaan Kata ‘Sayyidina’

Oleh: Ustadz Abu Hazim Mochamad Teguh Azhar al-Atsariy حَفِظَهُ اللهُ

 

Dimaklumi bahwa Rasulullah ﷺ adalah khayrul basyar, Asyraful Insan. Beliau adalah seorang hamba, tapi hamba terbaik-Nya. Dan beliau juga seorang Rasul, tentu khalil-Nya. Bahkan beliau sendiri mengatakan bahwa beliau adalah Sayyid (Tuan)-nya Bani Adam, 

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَومَ القِيَامَةِ ، وَأَوَّلُ مَن يَنشَقُّ عَنهُ القَبرُ ، وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah Sayyid-nya anak Adam di hari kiamat, dan yang pertama kali terbelah Quburnya (dibangkitkan), pertama kali memberi syafa'at dan pertama kali diberi syafa'at.” [HR. Muslim No.2278] 

Jika dimuthlaq-kan ke-Sayyid-an pada beliau maka tidaklah mengapa jika melihat dalil ini. 

Rasulullah ﷺ berkata tentang al-Hasan bin Ali ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, 

إِنَّ ابنِي هَذَا سَيِّدٌ

“Sesungguhnya anakku ini seorang Sayyid.” [HR. Bukhari No.2704] 

Beliau juga pernah berkata ke orang-orang Anshar ketika Sa'ad bin Mu'adz رَضِيَ اللهُ عَنْهُ datang, 

قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُم

“Berdirilah kalian semua untuk Sayyid kalian.” [HR. Bukhari No.3073 dan Muslim No.1768] 

Para shahabat ridhwanullah 'alayhim ajma'in juga memuthlaq-kan kata Sayyid antar mereka. Sebagai contoh, Umar bin al-Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mengatakan Sayyid pada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Bilal bin Rabah ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, 

أَبُو بَكرٍ سَيِّدُنَا وَأَعتَقَ سَيِّدَنَا : يعني بلال بن رباح

“Abu Bakr adalah Sayyid kami dan telah memerdekakan Sayyid kami juga (Yaitu Bilal bin Rabah).” [HR. Bukhari No.3754] 

Adapun hadits Abdullah bin Syakhir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , 

انطَلَقتُ فِي وَفدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقُلنَا : أَنتَ سَيِّدُنَا . فَقَالَ : السَّيِّدُ اللَّهُ...

“Aku bertolak sebagai delegasi Bani 'Amir kepada Rasulullahi ﷺ. Kemudian kami berkata, ‘Anda Sayyid kami.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Sayyid itu adalah Allah..’.” [HR. Abu Dawud No.4806] 

Bukan berarti bentuk pelarangan akan pengucapan “Sayyiduna” sebelum nama beliau ﷺ. Namun itu karena ketawadhu‘an dan kekhawatiran beliau akan sikap ghuluw seseorang jika ke-sayyid-an tidak segera diarahkan dan di-muthlaq-kan kepada pemilik maqam rububiyyah yaitu Allah جلّ وعلا. Agar jadi tanbih, bahwa hakikatnya ke-sayyid-an secara muthlaq adalah milik Allah. 

Dalam Mausu'ah Fiqhiyyah dikatakan,

أجمع المسلمون على ثبوت السّيادة للنّبيّ صلى الله عليه وسلم ، وعلى عَلَمِيَّتِه في السّيادة

قال الشّرقاويّ : فلفظ ( سيّدنا ) علم عليه صلى الله عليه وسلم " انتهى . الموسوعة الفقهية (11/346)

“Kaum muslimin telah ber-ijma' akan tetapnya ke-sayyid-an untuk Nabi ﷺ dan selainnya. Berkata asy-Syarqawiy, ‘Lafadz Sayyidina dimaklumi teruntuk beliau ﷺ’.” [al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah, (11/346)] 

Sampai di sini, kita bisa mengambil kesimpulan akan bolehnya mengucapkan “Sayyidina” sebelum nama Nabi ﷺ. Begitu pula sebelum nama para Shahabat رضي الله عنهم. Ini pula yang terkadang dipraktikkan para ulama dari zaman ke zaman. 

Hanya saja patut diingat bahwa ia bukanlah keharusan. Hanya kebolehan. Dan ia bukan berarti kesyirikan, melainkan bentuk penghormatan yang biasa dilakukan di tengah-tengah kehidupan mereka. Karena pasti mereka memahami betul bahwa hakikatnya Allah-lah yang paling tinggi ke-Sayyidan-nya. 

Bagaimana jika ucapan “Sayyidina” tersebut berkaitan dengan ibadah semisal shalawat, adzan, iqamah, tasyahud, dsb? 

Berikut rinciannya: 

Pertama, sebagaimana kita tahu bahwa shalawat, adzan, iqamah, tasyahhud, dan semisalnya adalah bentuk ibadah yang sudah ditentukan lafadznya. Sehingga jika kita hendak menambahkan sesuatu padanya dibutuhkan dalil yang menunjangnya. Sebab asal dari ibadah itu bathil, sampai ada dalil yang menunjukkan perintahnya. Sehingga, untuk ibadah-ibadah semisal tadi tentu yang lebih utama dan lebih tepat adalah tanpa tambahan “Sayyidina” padanya. 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, 

ونحن وغيرنا من المؤمنين لا نشك أن نبينا صلى الله عليه وسلم سيدنا ، وخيرنا ، وأفضلنا عند الله سبحانه وتعالى ، وأنه المطاع فيما يأمر به ، صلوات الله وسلامه عليه ، ومن مقتضى اعتقادنا أنه السيد المطاع ، أن لا نتجاوز ما شرع لنا من قول أو فعل أو عقيدة ، ومما شرعه لنا في كيفية الصلاة عليه في التشهد أن نقول : " اللهم صل على محمد ، وعلى آل محمد

“Dan kami serta selain kami dari Mukminin tidak pernah ragu bahwa Nabi kami ﷺ adalah Sayyid kami, dan yang terbaik, serta seutama-utamanya manusia di sisi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, dan bahwasannya beliau ditaati perintahnya shalawatullahi wa salamuhu 'alayhi. 

Dan di antara konsekuensi atas keyakinan kita bahwasnya beliau itu sayyid yang diikuti, maka kita tidak sepantasnya melewati batas-batas yang ia syari'atkan untuk kita baik perkataan, perbuatan, serta 'aqidah. Dan dari apa-apa yang ia bawa syari'atnya untuk kita berupa kaifiyyat shalawat atasnya dalam Tasyahud adalah kita mengucapkan, 

اللهم صل على محمد، وعلى آل محمد

(tanpa kata ‘sayyidina’).” 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani رَحِمَهُ اللهُ ditanya tentang mana yang lebih afdhal antara memakai Sayyidina atau mengikuti teks hadits secara letterlijk? 

Beliau menjawab, 

نعم اتِّباعُ الألفاظ المأثورة أرجح ...

“Ya. Ittiba' (mengikuti) lafadz-lafadz yang ma'tsur (dicontohkan) lebih rajih (kuat).” [Qaulul Badi' lis Sakhkhawi] 

Memang benar dalam madzhab Syafi'iyyah dibolehkan menambahkan Sayyidina seperti dikatakan Al-Malibariy dalam kitab Fathul Mu'in, 

ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد

“Dan tidak mengapa dengan penambahan kata sayyidina sebelum nama Muhammad di (dalam Tasyahud).” [Fathul Mu'in, hal.22] 

Na'am. Namun kalau kita cek kembali pada kitabnya secara utuh maka kita akan dapati bahwa beliau justru memilih shalawat Ibrahimiyah tanpa “Sayyidina” di dalamnya. Beliau mengatakan, 

أخير وهو اللهم صل على محمد...الخ

“Saya memilih shalawat dengan lafadz Allahumma shalli 'ala Muhammad...dst.” [Fathul Mu'in, hal.22] 

Sisi berikutnya kita perhatikan Fiqhul Lughah pada kalimat beliau “ولا بأس بزيادة سيدنا قبل محمد”. Itu menunjukkan kebolehan, bukan keharusan dan anjuran. Sehingga seseorang tidak bisa menggiringnya menjadi keharusan, dan menganggap yang menyelisihinya sebagai kesalahan. Ini keliru. 

Sehingga sampailah kita pada kesimpulan bahwa menambahkan kata “Sayyidina” sebelum nama Muhammad ﷺ, 

1.   Boleh, jika ia bukan pada shalawat yang terikat dengan ibadah khusus seperti tasyahud dalam shalat. Karena jika lafadz-lafadznya sudah diatur maka kembali pada kaidah bahwa ibadah itu pada asalnya tauqifiyyah, yaitu tidak melakukan kecuali dengan dalil. 

2.   Pengucapan tanpa “Sayyidina” bukanlah bentuk merendahkan Nabi ﷺ. Sebab pada dasarnya itu bagian dari konsekuensi mengikuti Nabi secara totalitas. Karena ketika beliau diminta mengajarkan shalawat, beliau menggunakan lafadz tanpa Sayyidina. Tentu sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau. Maka tanpa sayyidina justru lebih utama karena bersesuaian dengan Nabi ﷺ. 

3.   Menyalahkan penggunaan kata sayyidina yang bersifat umum (muthlaq), dan tanpa terikat dengan ibadah khusus adalah sikap berlebihan. Sebab salaf juga mempraktekkan hal tersebut sebagaimana diisyaratkan dalil-dalil di atas. 

4.   Penggunaan kata sayyidina dalam shalat memang dibolehkan dan tidak sampai membatalkan shalat, sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama. Hanya saja tanpa menggunakannya jauh lebih utama. 

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang mana yang lebih utama antara pakai sayyidina dan tidak? Mereka menjawab, 

الأمر فيه سعة ، فيجوز ذكر محمد صلى الله عليه وسلم ، أو سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم ؛ لأنه سيد الأولين والآخرين ، عليه الصلاة والسلام ، ولكن الأذان والإقامة لا يقال سيدنا ، بل يقال كما جاء في الأحاديث : ( أشهد أن محمدا رسول الله ) وهكذا في التشهد في الصلاة لا يقال : ( سيدنا ) بل يقال كما جاء في الأحاديث ؛ لأن ذلك أقرب إلى الأدب مع السنة وأكمل بلا تسييد بالاتباع  " انتهى.

“Perkara di dalamnya ada keluasan. Maka boleh menyebut Muhammad ﷺ atau Sayyiduna Muhammad ﷺ, karena beliau itu Sayyidul Awwalina wal Akhirin 'alayhish shalatu wassalam. 

Akan tetapi adzan dan iqamah tidak dikatakan padanya sayyidina, bahkan dikatakan padanya sebagaimana hadits-hadits, ‘Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.’ Begitulah juga dalam tasyahud pada shalat tidak dikatakan sayyidina, tapi dikatakan sebagaimana dalam hadits-hadits tanpa sayyidina. Karena itu lebih dekat pada adab bersama Sunnah dan lebih sempurna tanpa tas-yid (pengucapan sayyidina) untuk ittiba'. Selesai penukilan.” 

Demikian yang bisa kami hadirkan, semoga bermanfaat bagi semuanya. 

والله واليوت توفيق

Beusi, 10 Rabi'ul Akhir 1441

 

Komentar