Oleh: Syaikh Nashiruddin al-Albani رَحِمَهُ اللهُ
Sebagian orang sering bertanya kepadaku tentang sebab mengapa terkadang ada ucapan keras (mungkin juga terasa kasar menurut sebagian orang) dalam bantahanku terhadap sebagian penulis (meskipun dari yang mengaku ahlussunnah) yang menyelisihiku?
Maka aku jawab: Hendaklah para pembaca mengetahui bahwa aku - الحَمْدُ لِلّٰهِ - tidak akan membantah seseorang yang membantahku dengan bantahan yang ilmiah dan tidak asal-asalan (alias ngawur), bahkan aku sangat berterima kasih kepadanya.
Namun apabila ada ucapan yang keras dalam bantahanku
maka itu kembali kepada salah satu dari dua keadaan:
1. Sebagai bantahan atas orang yang membantahku terlebih dahulu dan dia berbuat curang/zalim serta bersikap buruk kepadaku dengan kedustaan dan kebohongannya[*].
Orang-orang yang zalim[**] seperti mereka itu menurut keyakinanku tidak bermanfaat (tidak layak) dimaafkan dan (disikapi dengan) lemah lembut. Bahkan itu bisa memudharatkan mereka dan menjadikan mereka terus berbuat zalim dan permusuhan.
Seorang penyair berkata:
إذا أنت أكرمت
الكريم ملكته
وإن أنت أكرمت
اللئيم تمردا
Jika engkau memuliakan orang yang baik maka engkau akan memilikinya
Tapi jika engkau berbuat baik kepada orang yang jahat maka dia akan memberontak
Bahkan kezaliman orang-orang yang berprofesi sebagai pemberi nasihat kepada manusia (ustadz, dosen agama) terkadang melebihi batas kemampuan manusia. Oleh karena itulah, syariat Islam memperhatikan hal ini. Syariat Islam - الحَمْدُ لِلّٰهِ - tidak mengatakan seperti dalam kitab Injil (sekarang), ‘Jika ada orang yang memukul pipi kananmu maka berikan pipi kirimu dan jika ada yang meminta selendangmu maka berikan pakaianmu.’
Namun Allah berfirman,
فَمَنِ ٱعْتَدَىٰ
عَلَيْكُمْ فَٱعْتَدُوا۟ عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا ٱعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ
‘Barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, semisal dengan serangannya terhadapmu.’ [QS. al-Baqarah(2): 194], dan
وَجَزَٰٓؤُا۟
سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى
ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ - وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ
ظُلۡمِهِۦ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَا عَلَیۡهِم مِّن سَبِیلٍ - إِنَّمَا ٱلسَّبِیلُ
عَلَى ٱلَّذِینَ یَظۡلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَیَبۡغُونَ فِی ٱلۡأَرۡضِ بِغَیۡرِ
ٱلۡحَقِّۚ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمࣱ - وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ
ذَ ٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ
‘Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim. Tetapi orang-orang yang membela diri setelah dizalimi, tidak ada alasan untuk menyalahkan mereka. Sesungguhnya kesalahan hanya ada pada orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapat siksa yang pedih. Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.’ [QS. asy-Syuura(42): 40-43]
Aku meyakini bahwa memaafkan yang terpuji dan bersabar yang berpahala itu terhadap orang-orang yang menurut perkiraaan yang kuat itu akan bermanfaat bagi yang berbuat zalim dan tidak memudharatkannya (tidak semakin merajalela) serta bisa memuliakan yang sabar dan tidak merendahkannya. Sebagaimana yang ada dalam sejarah Nabi ﷺ terhadap musuh-musuh beliau.
2. Jika ada kesalahan yang parah tentang hadits[***] tertentu yang dilakukan oleh orang-orang yang dikenal dengan sedikit penelitiannya (terhadap hadits). Maka terkadang aku keras dalam membantahnya sebagai bentuk kecemburuanku terhadap hadits Rasulullah ﷺ.
[Muqaddimah Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha'ifah, (1/27-31) oleh Imam al-Albani]
Keterangan:
[*] Ada segerombolan dai atau ustadz atau dosen agama yang jika salah satu anggota mereka memulai nyinyiri kita dengan kedustaan dan ucapan yang kasar mereka pura-pura tuli, bisu, dan buta. Tapi jika kita mulai bantah oknum tersebut yang jelas-jelas ucapannya di medsos menyelisihi aqidah dan manhaj salaf maka tegaklah kiamat mereka, merengek-rengek kesana-kemari, teriak-teriak tentang akhlak. Apakah mereka tidak pernah bercermin?! Sungguh benar sabda Rasulullah ﷺ, “Jika engkau tidak punya rasa malu berbuatlah semaumu.” [HR. Bukhari]
Sungguh miripnya mereka dengan gerombolan hizbiyyin harakiyyin?!
[**] Yang lebih parah lagi, untuk menutupi kedok kezaliman mereka, mereka berhujjah dengan takdir. Ini mengingatkan kita kepada kisah pencuri di zaman Umar bin Khaththab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
ألا لعنة الله على الظالمين
“Ketahuilah bahwa laknat Allah atas orang-orang yang berbuat zalim.” [QS. Huud(11): 18]
[***] Demikian pula yang menyimpang atau yang mencla-mencle dalam masalah aqidah serta manhaj yang terang benderang.
[Dikutip dari akun FB Ustadz Abdurrahman Thoyyib حَفِظَهُ اللهُ]
Tambahan:
Redaksi lengkap hadits tentang rasa malu adalah,
عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ
بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ
كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.(رواه
البخاري)
Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu ialah, ’Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu’’.” [HR. Bukhari]
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Komentar
Posting Komentar