Oleh: Ustadz Wira Bachrun حَفِظَهُ اللهُ
Khutbah Jumat di Masjidil Haram pada 25 Shafar 1438 H yang disampaikan oleh Asy Syaikh Shalih bin Muhamad Al Thalib, membahas faedah-faedah dari surat Thaha. Cukup menarik faedah-faedah yang beliau sampaikan dari surat yang disebut oleh sebagian ulama sebagai surat Kalim ini. Terutama yang berkaitan dengan karakteristik dai ilallah.
Namun sebelumnya, tahukah Anda kenapa surat Thaha disebut juga sebagai surat Kalim?
Surat Thaha disebut juga sebagai surat Kalim (artinya orang yang diajak bicara) karena di dalamnya banyak sekali disebutkan kisah Nabi Musa عليه السلام. Beliau ini memiliki julukan “Kalimir Rahmaan” yang artinya seseorang yang diajak bicara langsung oleh Allah عزوجل sebagaimana firman-Nya,
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى
تَكْلِيمًا
“Dan Allah mengajak bicara Musa secara langsung.” [QS. an-Nisa(4): 164]
Menurut khatib, di dalam surat Thaha disebutkan beberapa faedah yang harus dipahami oleh para dai ilalallah:
Faedah pertama, bahwasanya dakwah yang mengajak manusia kepada tauhid inilah dakwah yang dibawa oleh para Nabi.
Ketika Nabi Musa عليه السلام berada di lembah suci Tuwa, maka Allah عزوجل mewahyukan kepada beliau bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang hak, dan Allah perintahkan agar beliau beribadah hanya kepada Allah.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ
يَامُوسَى (11) إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ
الْمُقَدَّسِ طُوًى (12) وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى (13)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ
لِذِكْرِي (14)
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” [QS. Thaha(20): 11-14]
Faedah yang kedua, bahwasanya seorang dai hendaknya memiliki dada yang lapang serta kesabaran ketika mengajak manusia kepada kebenaran. Oleh karena itu di antara doa yang dipanjatkan oleh Nabi Musa عليه السلام adalah meminta kelapangan dada dari Allah عزوجل. Beliau berdoa,
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي
صَدْرِي (25) وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي (26) وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي (27)
يَفْقَهُوا قَوْلِي (28)
“Berkata Musa, ‘Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku. Dan mudahkanlah untukku urusanku. Dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku’.” [QS. Thaha(20): 25-28]
Faedah yang ketiga, bahwasanya dakwah hendaknya dilakukan dengan penuh kelembutan. Nabi Musa عليه السلام diutus kepada Fir’aun, thoghut yang amat besar kekufurannya. Akan tetapi Allah عزوجل tetap memerintahkan Nabi Musa dan Harun عليه السلام untuk berucap dengan ucapan yang lembut,
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ
إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ
يَخْشَى (44)
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [QS. Thaha(21): 43-44]
Faedah yang keempat, hendaknya para dai ilallah menjaga persatuan di atas agama Allah, tidak berpecah belah. Nabi Musa عليه السلام sangat mengkhawatirkan terjadinya perpecahan di tengah umat beliau ketika meninggalkan mereka. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قَالَ يَاهَارُونُ مَا مَنَعَكَ
إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا (92) أَلَّا تَتَّبِعَنِ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي (93)
قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَنْ
تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي (94)
“Berkata Musa, ‘Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?’ Harun menjawab, ‘Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’’.“ [QS. Thaha(20): 92-94]
Faedah yang kelima, para dai ilallah hendaknya tidak takut dalam menyuarakan kebenaran, harusnya mereka yakin bahwa Allah عزوجل bersama mereka dan akan memberikan pertolongan kepada mereka. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قَالَ بَلْ أَلْقُوا فَإِذَا
حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَى
(66) فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُوسَى (67) قُلْنَا لَا تَخَفْ إِنَّكَ
أَنْتَ الْأَعْلَى (68) وَأَلْقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوا
إِنَّمَا صَنَعُوا كَيْدُ سَاحِرٍ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى (69)
“Berkata Musa, ‘Silakan kamu sekalian melemparkan.’ Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berkata, ‘Janganlah kamu takut, sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang). Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat.’ Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang.” [QS. Thaha(20): 66-69]
Faedah yang keenam, para dai ilallah hendaknya senantiasa konsisten dan tidak ragu dalam memegang kebenaran, jangan sampai dunia memalingkan mereka dari kebenaran sebagai para tukang sihir Fir’aun yang telah bertaubat. Setelah mengetahui kebenaran, mereka tak berpaling sedikit pun darinya, walaupun Fir’aun mengancam akan mengadzab mereka.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ
أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ
فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ
فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى (71)
قَالُوا لَنْ نُؤْثِرَكَ عَلَى مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي
فَطَرَنَا فَاقْضِ مَا أَنْتَ قَاضٍ إِنَّمَا تَقْضِي هَذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
(72) إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا
عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (73)
“Berkata Fir’aun, ‘Apakah kamu telah
beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya
ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka
sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang
secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada
pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita
yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.’
Mereka berkata, ‘Kami sekali-kali
tidak mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mu’jizat), yang telah
datang kepada kami dan daripada Rabb yang menciptakan Kami; maka putuskanlah
apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan
pada kehidupan di dunia ini saja.
Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya.’ Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” [QS. Thaha(20): 71-73]
Semoga bisa menjadi pencerahan bagi semua, terutama para dai ilallah.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
[Dikutip dari akun FB beliau]
Komentar
Posting Komentar