Riwayat-Riwayat Palsu Tentang Keutamaan Maulid Nabi ﷺ

Oleh: Ustadz Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi حَفِظَهُ اللهُ

 

Di antara riwayat-riwayat yang dianggap hadits oleh sebagian para penggemar dan pembela maulid Nabi untuk membesarkan atau mengagungkan sekaligus membenarkan ritual maulid Nabi adalah sebagai berikut ini, yang kita nukilkan apa adanya: 

1.      Abu Bakar ash-Shiddiq

Telah berkata Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq, “Barangsiapa yang menafkahkan satu dirham bagi menggalakkan bacaan Maulid Nabi , maka ia akan menjadi temanku di dalam surga.” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii]

2.      Umar bin Khattab al-Furqan

Telah berkata Sayyidina ‘Umar , “Siapa yang membesarkan (memuliakan) majelis maulid Nabi , maka sesungguhnya ia telah menghidupkan Islam.” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

3.      Utsman bin ‘Affan Dzun-Nuraini

Telah berkata Sayyidina Utsman, “Siapa yang menafkahkan satu dirham untuk majelis membaca maulid Nabi , maka seolah-olah ia menyaksikan peperangan Badar dan Hunain.[Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

4.      Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah

Telah berkata Ali, “Siapa yang membesarkan majelis maulid Nabi saw. dan karenanya diadakan majelis membaca maulid, maka dia tidak akan keluar dari dunia melainkan dengan keimanan dan akan masuk ke dalam surga tanpa hisab.” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

5.      Syeikh Hasan al-Bashri

Telah berkata Hasan Al-Bashri, “Aku suka seandainya aku mempunyai emas setinggi gunung Uhud, maka aku akan membelanjakannya untuk membaca maulid Nabi .” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

6.      Syeikh Junaid al-Baghdadi

Telah berkata Junaid Al-Baghdadi semoga Allah mensucikan rahasianya, “Siapa yang menghadiri majlis maulid Nabi dan membesarkan kedudukannya, maka sesungguhnya ia telah mencapai kekuatan iman. [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

7.      Syeikh Ma’ruf al-Karkhy

Telah berkata Ma’ruf Al-Karkhi, “Siapa yang menyediakan makanan untuk majlis membaca maulid Nabi , mengumpulkan saudaranya, menyalakan lampu, memakai pakaian yang baru, memasang bau yang wangi dan memakai wangi-wangian karena membesarkan kelahiran Nabi , niscaya Allah akan mengumpulkannya pada hari kiamat bersama kumpulan yang pertama di kalangan nabi-nabi dan dia berada di surga yang teratas (Illiyyin).[Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

8.      Fakhruddin ar-Rozi

Telah berkata seorang yang unggul pada zamannya, Imam Fakhruddin Al-Razi:

a)  “Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi ke atas garam atau gandum atau makanan yang lain, melainkan akan zahir keberkatan padanya, dan setiap sesuatu yang sampai kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut, maka makanan tersebut akan bergoncang dan tidak akan tetap sehingga Allah mengampunkan orang yang memakannya. 

b)  “Sekiranya dibacakan maulid Nabi ke atas air, maka orang yang meminum seteguk dari air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya seribu sifat dengki, penyakit dan tidak mati hati tersebut pada hari dimatikan hati-hati. 

c)  “Siapa yang membaca maulid Nabi , pada suatu dirham yang ditempa dengan perak atau emas dan dicampurkan dirham tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh ke atas dirham tersebut keberkatan, pemiliknya tidak akan fakir dan tidak akan kosong tangannya dengan keberkatan Nabi .”

[Lihat kitab Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

9.      Imam as-Syafii

Telah berkata Imam Asy-Syafi’i, “Siapa yang menghimpunkan saudaranya (sesama Islam) untuk mengadakan majlis maulid Nabi , menyediakan makanan dan tempat serta melakukan kebaikan, dan dia menjadi sebab dibaca maulid Nabi itu, maka dia akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat bersama ahli siddiqin (orang-orang yang benar), syuhada’ dan shalihin serta berada di dalam surga-surga Na’im.” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

10.   As-Sary as-Saqothy

Telah berkata As-Sariyy As-Saqothi, “Siapa yang pergi ke suatu tempat yang dibacakan di dalamnya maulid Nabi maka sesungguhnya ia telah pergi ke satu taman dari taman-taman surga, karena tidaklah ia menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan lantaran karena cintanya kepada Nabi . Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda, “Siapa yang mecintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam surga.” [Anni’matul Kubro ‘Alaa al-’Aalam Fii Maulid Sayyidii Waladii Aadam karya Imam Syihabuddin Ahmad ibnu Hajar al-Haitami as-Syafii] 

11.   Syihabuddin Ahmad Ibnu Hajar al-Haitami

“Siapa yang hendak membesarkan maulid Nabi maka cukuplah disebutkan sekedar ini saja akan kelebihannya. Bagi siapa yang tidak ada di hatinya hasrat untuk membesarkan maulid Nabi sekiranya dipenuhi dunia ini dengan pujian ke atasnya, tetap juga hatinya tidak akan tergerak untuk mencintai Nabi . 

Semoga Allah menjadikan kami dan kalian di kalangan orang yang membesarkan dan memuliakannya dan mengetahui kadar kedudukan Baginda serta menjadi orang yang teristimewa di kalangan orang-orang yang teristimewa di dalam mencintai dan mengikutinya. Aamiin, wahai Tuhan sekalian alam. Semoga Allah melimpahkan rahmat atas penghulu kami Nabi Muhammad , keluarganya, dan shahabat-shahabatnya sekalian hingga Hari Kemudian.”

Komentar atas riwayat-riwayat di atas: 

Perkataan serupa dinisbatkan juga kepada Shahabat Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, sebagaimana dalam kitab Madarij ash-Shu’udh hal.15 karya Syaikh Nawawi Banten. [Lihat Hadits-Hadits Bermasalah, Prof. Ali Musthofa Ya'qub hal.102]

Bahkan juga dinisbatkan kepada Hasan al-Bashri, Ma’ruf al-Karkhi, al-Junaid dan lainnya. [Sebagaimana dalam Hasyiyah I’anah Tholibin, (3/571-572), karya Abu Bakr Syatha] 

Hadits-hadits tersebut tidak ada asalnya.

Sejak awal kali mendengar ucapan yang dianggap hadits ini, bagaimana mungkin hadist ini shahih? Sedangkan maulid tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para Shahabatnya?!!! 

Jadi, hadits-hadits ini tidak ada asalnya, itu semua bukan hadits.. 

Ketika hadits ini ditanyakan kepada Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman حَفِظَهُ اللهُ -Beliau adalah salah seorang murid Imam ahli hadits besar, Syaikh Nashiruddin al-Albani, yang sudah beberapa kali pernah berkunjung ke Indonesia dalam rangka dakwah. Pertanyaan ini ditanyakan kepada beliau pada hari Rabu 6 Muharrom 1423 H, sebelum shalat Dhuhur di masjid al-Irsyad, Surabaya-, 

Jawaban Syaikh:

Ini merupakan kedustaan kepada Rasulullah yang hanya dibuat-buat oleh para ahlul bid’ah. 

Kepada saudara-saudara kami yang berhujjah dengan hadits ini, kami katakan, Dengan tidak mengurangi penghormatan kami, datangkan kepada kami sanad hadits ini agar kami mengetahuinya!!! 

Singkat kata, hadits tersebut di atas adalah dusta, tidak berekor dan berkepala (yakni, tanpa sanad). Aneh dan lucunya, setelah itu ada seseorang yang melariskan hadits tersebut dengan berkata, Walaupun hadits ini lemah, tetapi bisa dipakai dalam Fadhailul A’mal. 

Hanya kepada Allah kita mengadu dari kejahilan manusia di akhir zaman!!! 

Pekara ini juga didapati dalam kitab Tahdzirul Muslimin Minal Ahadits al-Maudhu’ah ‘ala Sayyidil Mursalin hal.87 oleh Muhammad al-Basyir al-Azhari, beliau mengatakan, Di antara hadits-hadits yang banyak berbau dusta adalah kisah-kisah tentang maulid Nabi. 

Adapun dari segi matan hadits, bagaimana bisa hadits ini shahih padahal perayaan maulid Nabi tidaklah dikenal pada zaman Nabi , para Shahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in? Bahkan hal tersebut juga tidak dikenal di kalangan imam-imam mazhab: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Imam Ahmad رحمهم الله sekalipun karena memang perayaan ini adalah perkara baru dalam agama. 

Adapun orang yang pertama kali mengadakannya adalah Mu’iz Lidinillah dari Bani Ubaid al-Qoddakh yang menamai diri mereka dengan “Fathimiyyun”. Mereka memasuki kota Mesir tahun 362 H. Berakar dari sinilah kemudian mulai tumbuh dan berkembang bentuk-bentuk perayaan maulid secara umum dan maulid Nabi secara khusus. 

والله أعلمُ ...

 


Komentar