Oleh: Ustadz Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi حَفِظَهُ اللهُ
بسم الله الرحمن الرحيم
الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ
شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا
مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
لا نَبِيَّ بَعْدَهُ
Saudara dan Saudariku yang dimuliakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى...
Dahulu saat belajar kami sering mendengar bahwa kebutuhan manusia kepada ilmu melebih kebutuhannya kepada makan dan minum.
Saat direnungkan, ternyata pernyataan itu sangat benar. Untuk makan dan minum, seorang bisa tiga kali sehari, bahkan bisa kurang. Akan tetapi ilmu, seseorang membutuhkannya setiap saat (setiap waktu).
Contoh:
1. Agar anak-anak kita selamat dari mara bahaya (dunia ghaib), kita memerlukan ilmu. Coba kita dengarkan sabda Rasulullah ﷺ,
إِذَا كَانَ جُنْحُ
اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ
يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ،
وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا
يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ،
وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا
عَلَيْهَا شَيْئًا ، وَأَطْفِئُوا
مَصَابِيحَكُمْ
2. Agar Syaithon-syaithon tidak masuk ke dalam rumah kita, kita memerlukan ilmu. Dari Jabir bin ‘Abdillah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – أَوْ أَمْسَيْتُمْ –
فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا
ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ اللَّيْلِ فَحُلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الأَبْوَابَ ،
وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا
“Jika hari mulai gelap tahanlah anak-anak kalian (untuk keluar rumah) karena saat itu setan sedang berkeliaran. Jika telah lewat sebagian malam biarkanlah mereka. Tutuplah pintu-pintu dan ucapkanlah bismillah, karena sesungguhnya setan tidak akan bisa membuka pintu yang tertutup.” [HR. Bukhari No. 5623 dan Muslim No.2012]
3. Agar selamat dari wabah penyakit, kitapun memerlukan ilmu. Dari Shahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia bercerita, “Aku pernah mendengar bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
غَطُّوا الإِنَاءَ، وَأَوْكُوا السِّقَاءَ، فَإنَّ فِي السَّنَةِ
لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ، لاَ يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ
غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ، إِلاَّ نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذلِكَ
الْوَبَاءِ
“Tutuplah bejana-bejana dan wadah-wadah air. Karena ada satu malam dalam satu tahun waba’/penyakit turun di pada malam itu. Tidaklah penyakit itu melewati bejana yang tidak tertutup, atau wadah air yang tidak ada tutupnya melainkan penyakit tersebut akan masuk ke dalamnya.” [HR. Muslim No.2014]
Dari semua contoh di atas kembali menekankan kepada kita akan pentingnya ilmu.
Dan pada masa ini beberapa orang berpendapat bahwa hari turunnya wabah penyakit terjadi pada hari Rabu terakhir di bulan Shafar. Itulah hari yang sebagian orang menyebutnya sebagai Rebo Wekasan.
Rebo artinya hari Rabu, wekasan artinya terakhir. Jadi arti dari Rebo Wekasan adalah Rabu terakhir, akan tetapi istilah ini khusus untuk bulan Shafar saja.
Kebanyakan orang di beberapa tempat, bukan hanya di Indonesia, meyakini bahwa pada malam tersebut akan turun wabah penyakit yang sangat banyak, ada yang mengatakan ribuan, ada yang mengatakan 300-an, bahkan ada yang mengatakan 300.000-an.
Entah mana yang benar, tapi itu yang mereka katakan.
Bukan hanya itu saja, pada bulan Shafar banyak orang yang tidak mau melakukan hajat-hajat besar (seperti) pernikahan, khitanan, bepergian, dan kegiatan penting lainnya.
Yang semuanya mengindikasikan, banyak dari masyarakat yang beranggapan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial (banyak bencana).
Dan hari Rabu terakhir bulan tersebut menjadi hari yang paling berat, susah dan naas.
Padahal dahulu Rasulullah ﷺ menikah dengan ibunda Khadijah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا pada bulan Shafar, begitu juga pernikahan Fathimah dan Ali ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ terjadi pada bulan Shafar.
Lalu untuk menghindari kesialan dari berbagai musibah tersebut kebanyakan orang melakukan shalat empat rakaat, dan setiap orang yang berbicara tentang shalat memiliki sifat yang berbeda.
Salah satu
sifat yang disebutkan oleh beberapa orang tersebut adalah:
1.
Pada
setiap rakaat setelah membaca surat al-Fatihah pada rakaat pertama membaca al-Kautsar
sebanyak 17 kali, dan sebagian mengatakan 7 kali.
2.
Rakaat
kedua membaca surat al-Ikhlas sebanyak 5 kali dan ada yang mengatakan 3 kali.
3.
Rakaat
ketiga membaca al-Falaq 1 kali.
4.
Rakaat
keempat membaca an-Naas 1 kali.
Mereka meyakini bahwa orang yang melakukan shalat itu, akan terhindar dari segala marabahaya, wabah, dan kesialan pada bulan tersebut.
Apakah ini fakta atau hanya mitos...?
Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita perlu mengingat bahwa mempercayai suatu hari sebagai hari yang naas, hari sial merupakan suatu hal yang bisa membawa kepada kesyirikan.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ،
اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ، اَلطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan, anggapan sial merupakan kesyirikan.” [HR. Abu Dawud No.3915 dan yang lainnya, serta dishahihkan Syaikh al-Albani]
Lalu apakah anggapan-anggapan seperti bulan Shafar adalah bulan sial, hari Rabu terakhir bulan Shafar adalah hari turunnya wabah dan malapetaka, apakah semua ini ada dasar dari al-Qur'an dan as-Sunnah...? Sehingga kita bisa beranggapan bahwa hari itu merupakan hari sial...? Dan dengan anggapan itu kita tidak terjatuh kepada kesyirikan...?
Kita jawab:
Sepanjang pengetahuan kami, belum ditemukan pernyataan dalam al-Qur'an ataupun sunnah Rasulullah ﷺ, bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar adalah hari turunnya segala wabah penyakit, belum ditemukan juga bahwa hari tersebut merupakan hari paling parah serta paling naas.
Bahkan Rasulullah ﷺ pernah bersabda yang berkaitan dengan bulan Shafar ini secara khusus,
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ،
وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, juga tidak ada anggapan sial, tidak pada burung hantu, begitu juga tidak pada bulan Shafar.” [HR. Bukhari No.5707]
Akan tetapi, bukan berarti kita terus merasa aman dari segala marabahaya. Dan harusnya setiap saat kita selalu waspada, bahkan Rasulullah ﷺ bersabda,
غَطُّوا الْإِنَاءَ، وَأَوْكُوا
السِّقَاءَ، فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ
بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ، إِلَّا
نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ
“Tutuplah bejana, wadah yang kalian miliki, karena dalam satu tahun akan ada suatu hari yang wabah penyakit turun, setiap bejana atau wadah yang tidak tertutup akan dimasuki wabah tersebut.” [HR. Muslim No.2014]
Kesimpulannya:
Kita belum bisa menyatakan bahwa hari Rabu terakhir bulan Shafar atau yang dinamakan Rebo Wekasan sebagai hari turunnya segala wabah penyakit dan bala. Kita juga tidak boleh mempercayai hal tersebut selama belum ada dalil yang menyatakannya, karena mempercayai suatu hari sebagai hari yang sial atau sebagai hari yang jelek termasuk thiyarah dan kesyirikan.
Akan tetapi, kita harus tetap berhati-hati dan waspada sebagaimana yang Rasulullah ﷺ tuntunkan kepada kita semua.
والله
أعلمُ بالـصـواب ... والله
واليوت توفيق
Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah kali ini, semoga memberikan manfaat untuk kita semua serta dapat dijadikan acuan untuk senantiasa memperbaiki amal kita di atas sunnah Nabi ﷺ dan tidak berbicara agama dengan menggunakan akal dan hawa nafsu melainkan dengan dalil yang shahih.
سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن
لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
Komentar
Posting Komentar