Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا
فَٱطَّهَّرُوا۟
“Dan jika kamu junub maka mandilah.” [QS. al-Maidah(5): 6]
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
وَٱللَّهُ يُحِبُّ
ٱلْمُطَّهِّرِينَ
“Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” [QS. at-Taubah(9): 108]
Rasulullah ﷺ bersabda :
إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ
الْمَاءِ
“Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani).” [HSR. Muslim]
Imam Syafi'i رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Junub dalam bahasa Arab adalah hubungan biologis suami istri, walaupun tidak keluar mani, tapi karena meletakkan kemaluan di kemaluan, maka wajib mandi.”
Adapun tata cara mandi janabah sesuai sunnah telah disampaikan dalam 2 riwayat berbeda, yakni:
Dari hadits Ummul Mukminin Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا,
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ
النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ النَّبِي– صلى الله عليه وسلم – كَانَ
إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ
كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى الْمَاءِ ،
فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ
بِيَدَيْهِ ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ
“Dari Aisyah, isteri Nabi ﷺ, bahwa jika Nabi ﷺ mandi junub, beliau memulainya dengan mencuci kedua telapak tangannya. Kemudian beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menggosokkannya ke kulit kepalanya, kemudian menyiramkan air ke atas kepalanya dengan cidukan kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengalirkan air ke seluruh kulitnya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Hadits kedua dari Maimunah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا,
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
قَالَتْ مَيْمُونَةُ وَضَعْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَاءً
يَغْتَسِلُ بِهِ ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ ، فَغَسَلَهُمَا مَرَّتَيْنِ
مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ، ثُمَّ أَفْرَغَ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ ،
فَغَسَلَ مَذَاكِيرَهُ ، ثُمَّ دَلَكَ يَدَهُ بِالأَرْضِ ، ثُمَّ مَضْمَضَ
وَاسْتَنْشَقَ ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ ثُمَّ غَسَلَ رَأْسَهُ ثَلاَثًا
، ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى جَسَدِهِ ، ثُمَّ تَنَحَّى مِنْ مَقَامِهِ فَغَسَلَ
قَدَمَيْهِ
“Dari Ibnu Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, ‘Aku pernah menyediakan air untuk mandi untuk Rasulullah ﷺ. Kemudian beliau menuangkan air pada kedua tangannya lalu mencuci kedua tangan tersebut dua kali-dua kali, atau tiga kali.
Kemudian menuangkan air di tangan kanannya beliau menuangkan air pula pada telapak tangan kirinya. Setelah itu beliau mencuci kemaluannya, serta menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya.
Setelah itu
beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di
tempat yang berbeda).” [HR. Bukhari dan Muslim]
Dari keterangan 2 hadits tersebut, maka dapat disimpulkan cara mandi janabat (junub), yakni:
1. Hendaknya mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan ke dalam bejana.
2. Mencuci kemaluan serta kotoran dengan tangan kiri.
3. Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan cara menggosokkan ke tanah atau bisa dengan menggunakan sabun.
4. Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.
5. Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.
6. Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.
Dalam sebuah riwayat,
يُعْجِبُهُ
التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ
“Nabi ﷺ mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, bersisir, bersuci & setiap perkara (yang baik).” [Muttafaqun ‘Alaih. HSR. Bukhari dan Muslim]
7. Menyela-nyela rambut.
8. Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan kemudian dilanjutkan sebelah yang kiri.
Syaikh Abu Malik حَفِظَهُ اللهُ berkata, “Tata cara mandi (hadits Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan.”
Lantas bagaimana bila mandi dengan cara biasa tanpa menggunakan kedua riwayat di atas, apakah ia telah sah bersuci?
Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi حَفِظَهُ اللهُ mengatakan bahwa orang tersebut dianggap telah bersuci dari hadats junub. Qadarullah, saat mengikuti kajian ustadz Muhammad Tuasikal حَفِظَهُ اللهُ, kami mendengar bahwa beliau berkata, “Ketika seseorang menyelam di sungai atau berendam di bak dengan kondisi seluruh tubuhnya basah terendam air, maka ia dianggap telah menunaikan kewajiban mandi oleh sebab junub.”
وَاللَّهُ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Komentar
Posting Komentar