Istidraj

Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah عزوجل berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi azab baginya apakah dia bertaubat atau semakin jauh. 

Dari Shahabat yang Mulia Uqbah bin Amir رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda, 

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” [HR. Ahmad, (4:145), Thabrani dalam Al Ausath No.9268, Al Haitsami No.17.796. Dihasankan oleh as-Suyuthi dalam Jaam’us Shaghir No.625 serta Syaikh Syu’aib al-Arnauth. Namun dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Al Jaami No.561]

Sebagian salaf berkata, “Kerap kali orang-orang yang ditimpa istidraj dengan nikmat Allah kepadanya dalam keadaan ia tidak mengetahui, kerap kali orang yang tertipu dengan ditutupi (aibnya) oleh Allah dalam keadaan ia tidak mengetahui, dan kerap kali orang yang terfitnah dengan pujian manusia atas dirinya dalam keadaan ia tidak mengetahui. [ad-Da’u wa ad-Dawa' hal.37-38]

Maka hendaknya kita mewaspadai jebakan kenikmatan ini karena azab Allah عزوجل datang dengan tiba-tiba bahkan menyebabkan seseorang berputus asa karena banyaknya nikmat yang telah ia raih mendadak hilang dalam sekejap. 

Allah عزوجل berfirman, 

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” [QS. al-An’am(6): 44] 

Selayaknya kita dapat membedakan antara nikmat dan istidraj melalui rutinitas bermuhasabah. Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata, 

وأما تمييز النعمة من الفتنة: فليفرق بين النعمة التي يرى بها الإحسان واللطف، ويعان بها على تحصيل سعادته الأبدية، وبين النعمة التي يرى بها الاستدراج، فكم من مستدرج بالنعم وهو لا يشعر، مفتون بثناء الجهال عليه، مغرور بقضاء الله حوائجه وستره عليه

“Adapun (kemampuan) membedakan antara nikmat dan fitnah, yaitu untuk membedakan antara kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya -berupa kebaikan-Nya dan kasih sayang-Nya, yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan abadi- dengan kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah. 

Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan (dibiarkan tenggelam dalam kenikmatan, sehingga semakin jauh tersesat dari jalan Allah, Pen), sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah.” [Madarijus Salikin, (1/189), Darul Kutub Al-‘Arabi, Beirut, cet. III, 1416 H, Syamilah]

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:

1.   Ustadz Berik Said pada laman http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/10/mengapa-mereka-ahlul-maksiat-lebih-sukses-ekonominya.html

2.   Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal pada laman https://rumaysho.com/10828-istidraj-jebakan-berupa-limpahan-rezeki-karena-bermaksiat.html

3.   Ustadz dr. Raehanul Bahraen pada laman https://muslimafiyah.com/istidraj-kebahagiaan-yang-lebih-semu-lagi.html

4.   https://salafy.or.id/kerap-kali-orang-yang-ditimpa-istidraj-dengan-nikmat-allah-atasnya-dalam-keadaan-ia-tidak-mengetahui/ | Salafy.or.id

Komentar