Oleh: Abu Hanan As-Suhaily Utsman As-Sandakany حَفِظَهُ اللهُ
Asy Syaikh Al Allaamah bin Baz رَحِمَهُ اللهُ pernah ditanya,
كيفية بر الوالدين بعد موتهما
كيف أبر أمي بعد موتها؟[1] من (س.م) نجران - السعودية
ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه سأله سائل فقال يا رسول الله: ((هل بقي من بر أبوي شيء أبرهما به بعد موتهما؟ فقال عليه الصلاة والسلام: الصلاة عليهما والاستغفار لهما، وإنفاذ عهدهما من بعدهما، وإكرام صديقهما وصلة الرحم التي لا توصل إلا بهما)) هذا كله من بر الوالدين بعد وفاتهما. فنوصيك بالدعاء للوالدة والاستغفار لها وتنفيذ وصيتها الشرعية وإكرام أصدقائها، وصلة أخوالك وخالاتك وسائر أقاربك من جهة الأم، وفقك الله ويسر أمرك، وتقبل منا ومنك ومن كل مسلم، والله الموفق
[1] من ضمن الأسئلة المقدمة من
المجلة العربية
Bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua setelah keduanya meninggal ?
Jawab:
Telah shahih hadits dari Nabi ﷺ bahwa ada yang bertanya kepada beliau,
يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ
بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ
نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا
مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا
وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
“Wahai Rasulullah ﷺ, apakah masih tersisa sesuatu perbuatan bakti kepada orang tua yang masih bisa saya lakukan sepeninggalnya mereka berdua? Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Berdoa untuk mereka, memohonkan ampunan, menunaikan janji mereka, memuliakan teman-teman mereka dan menyambung tali silaturahim yang tidak akan terhubung kecuali melalui mereka berdua’.”
Ini semuanya merupakan bentuk berbakti kepada orang tua setelah keduanya meninggal. Kami menasehatkan agar kamu berdoa dan memohonkan ampun bagi orang tuamu, melaksanakan wasiatnya yang sesuai syariat, memuliakan sahabat-sahabatnya, menyambung silaturahmi dengan paman, bibi, dan seluruh kerabat-kerabatmu dari sisi ibu. Semoga Allah تعالى bisa memberi taufik kepadamu dan memudahkan urusannya. Semoga Allah تعالى menerima amal kita, kamu, dan kaum muslimin. Wallahul muwaffiq. [ http://www.binbaz.org.sa/mat/2115 ]
Salah satu di antara rahmat yang Allah تعالى berikan kepada orang yang beriman adalah mereka masih diberi kebaikan, walaupun telah berpisah di kehidupan dunia.
Jadi dari Fatwa Syaikh bin Baz ada beberapa bentuk berbuat bakti pada Orang Tua yang telah meninggal:
1. Mendoakan ampunan dan rahmat bagi mereka.
Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِذَا مَاتَ
الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو
لَهُ
“Apabila seseorang mati, seluruh amalnya akan terputus kecuali 3 hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” [HR. Muslim]
Allah تعالى berfirman,
وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا, الإسراء/24
“Dan katakanlah, ‘ Wahai Rabbku, rahmatilah keduanya sebagaimana mereka merawatku di waktu kecil.” [QS. al-Isra'(17): 24]
2. Memperbanyak doa kepada orang tua.
Dari Shahabat Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ الرَّجُلَ
لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ : أَنَّى هَذَا ؟ فَيُقَالُ:
بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ ) رواه ابن ماجه
، وحسّنه الألباني في " السلسلة الصحيحة " (4 / 129)
“Sesungguhnya seorang derajatnya diangkat di dalam surga , maka ia berkata, ‘Bagaimana bisa seperti itu?’ Dikatakan padanya, ‘Dengan sebab permohonan ampun anakmu kepada Allah untukmu’.” [HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah As Shahihah, (4/129)]
3. Menyambung dan menjaga hubungan silaturahmi serta berbuat baik dengan semua keluarga yang masih kerabat dengan orang tua dan orang-orang yang menjadi teman dekat orang tua.
Ibnu Dinar رَحِمَهُ اللهُ meriwayatkan, Abdullah bin Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ pernah berkata bahwa ada seorang lelaki Badui bertemu dengan Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju Mekkah. Kemudian Abdullah bin Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledainya serta memberikan sorban yang dipakai di kepalanya.
Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan sebenarnya ia diberi sedikit saja sudah senang.”
Abdullah bin Umar berkata, “Sesungguhnya ayah Badui tersebut adalah kenalan baik (ayahku) Umar bin Al-Khaththab. Sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ أَبَرَّ
الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” [HR. Muslim]
Dalam riwayat yang lain,
عَنْ عَبْدِ اللهِ
بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ : " أَنَّهُ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى
مَكَّةَ ، كَانَ لَهُ حِمَارٌ يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ ، إِذَا مَلَّ رُكُوبَ
الرَّاحِلَةِ ، وَعِمَامَةٌ يَشُدُّ بِهَا رَأْسَهُ ، فَبَيْنَا هُوَ يَوْمًا
عَلَى ذَلِكَ الْحِمَارِ، إِذْ مَرَّ بِهِ أَعْرَابِيٌّ ، فَقَالَ: أَلَسْتَ ابْنَ
فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ ؟ قَالَ: بَلَى ، فَأَعْطَاهُ الْحِمَارَ ، وَقَالَ :
ارْكَبْ هَذَا . وَالْعِمَامَةَ ، قَالَ: اشْدُدْ بِهَا رَأْسَكَ ، فَقَالَ لَهُ
بَعْضُ أَصْحَابِهِ غَفَرَ اللهُ لَكَ ! أَعْطَيْتَ هَذَا الْأَعْرَابِيَّ
حِمَارًا كُنْتَ تَرَوَّحُ عَلَيْهِ ، وَعِمَامَةً كُنْتَ تَشُدُّ بِهَا رَأْسَكَ
! فَقَالَ : إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ: ( إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ
بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ ) وَإِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيقًا لِعُمَرَ " رواه
مسلم.
Ibnu Dinar bercerita tentang Ibnu Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, “Apabila Ibnu Umar pergi ke Mekkah, beliau selalu membawa keledai sebagai ganti unta apabila ia merasa jemu, dan ia memakai sorban di kepalanya.
Pada suatu hari, ketika ia pergi ke Mekkah dengan keledainya, tiba-tiba seorang Arab Badui lewat, lalu Ibnu Umar bertanya kepada orang tersebut, ‘Apakah engkau adalah putra dari si Fulan?’ Ia menjawab, ‘Betul sekali.’ Kemudian Ibnu Umar memberikan keledai itu kepadanya dan berkata, ‘Naiklah di atas keledai ini.’ Ia juga memberikan sorbannya (imamahnya) seraya berkata, ‘Pakailah sorban ini di kepalamu.’
Salah seorang teman Ibnu Umar berkata kepadanya, ‘Semoga Allah memberikan ampunan kepadamu yang telah memberikan orang Badui ini seekor keledai yang biasa kau gunakan untuk bepergian dan sorban yang biasa engkau pakai di kepalamu.’ Ibnu Umar berkata, ‘Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ مِنْ أَبَرِّ
الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّىَ
“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti adalah menyambung hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya, setelah ayahnya Meninggal. Sesungguhnya ayah orang ini adalah sahabat baik (ayahku) Umar bin Al-Khaththab.” [HR. Muslim]
Dan dari al-Barro’ bin Azib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , Rasulullah ﷺ bersabda,
الخَالَةُ
بِمَنْزِلَةِ الأُمِّ
“Bibi saudara ibu, kedudukannya seperti ibu.” [HR. Bukhari]
Jadi seorang yang telah meninggal ibunya dan masih punya bibi (saudari perempuan ibu), maka berbuat baktilah padanya sebab bibi itu sejenjang dengan ibu.
4. Dan termasuk bentuk berbuat baik pada orang tua adalah dengan bersedekah atas nama orang tua yang telah meninggal dunia.
Dari Abdullah bin Abbas ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, Ia berkata,
أَنَّ سَعْدَ بْنَ
عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ،
أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ
فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin Ubadah Meninggal Dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada Beliau, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” [HR. Bukhari]
قال شيخ الإسلام :
أما الصدقة عن الميت فإنه ينتفع بها
باتفاق المسلمين،
Berkata Syaikhul Islam, “Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin.” [Majmu’ Al-Fatawa, (24/314)]
5. Memenuhi janji mereka atau melaksanakan wasiat yang syar'i setelah meninggal dunia. sebagaimana dalam hadits yang disebutkan dalam Fatwa Ibnu Baz.
Dari Abu Usaid Malik bin Robi’ah As-Sa’idi رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Ia berkata,
بَيْنَا نَحْنُ
عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى
سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا
بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ
لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ
تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا
Catatan:
Adapun menghadiahkan pahala bacaan al-Quran kepada orang tua atau si mayit, maka ini tidak ada dalilnya.
Salah satu ulama Syafi'iyah yang sangat tegas menyatakan bahwa itu tidak sampai adalah al-Hafidz Ibnu Katsir رَحِمَهُ اللهُ , penulis Kitab Tafsir, ketika menafsirkan firman Allah تعالى,
وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا
مَا سَعَى
“Bahwa manusia tidak akan mendapatkan pahala kecuali dari apa yang telah dia amalkan.” [QS. an-Najm: 39]
Beliau berkata,
ومن وهذه الآية الكريمة استنبط
الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه
ليس من عملهم ولا كسبهم
“Dari ayat ini, Imam as-Syafi'i رَحِمَهُ اللهُ dan ulama yang mengikuti beliau menyimpulkan, bahwa menghadiahkan pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit. Karena itu bukan bagian dari amal si mayit maupun hasil kerjanya.” [Tafsir Ibnu Katsir, (7/465)]
Dari madzhab Hambali, Imam al-Buhuti رَحِمَهُ اللهُ mengatakan,
وقال الأكثر لا يصل إلى الميت
ثواب القراءة وإن ذلك لفاعله
“Mayoritas Hambali mengatakan, pahala bacaan al-Quran tidak sampai kepada mayit, dan itu milik orang yang beramal.” [Kasyaf al-Qana’, (2/147)]
Dan inilah yang dikuatkan oleh Syaikh al-Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ dalam Majmu’ Fatawa wa Rosail, Juz 2, hal.306-307.
Mudah-mudahan kita bisa berbakti kepada kedua orang tua yang telah meninggal dunia dengan lima perkara di atas sebagai jalan termudah untuk masuk surga.
أسأل الله التوفيق والسداد
Komentar
Posting Komentar