Amalan Yang Utama dan Bernilai Pahala Penuh Berkah Pada Hari Jum'at

Oleh: Ustadz Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi حَفِظَهُ اللهُ

 

Pembahasan mengenai amalan-amalan utama dan istimewa serta bernilai pahala penuh berkah pada hari Jum’at yang bisa dimanfaatkan oleh setiap muslim sebagai tabungan pahala baginya di hari kiamat kelak. 

Pertama, terlarang mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat dan siang harinya dengan berpuasa. 

Dari Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda, 

لاَ تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِى وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِى صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah mengkhususkan malam Jum’at dengan shalat tertentu dan janganlah mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa kecuali jika berpapasan dengan puasa yang mesti dikerjakan ketika itu.” [HR. Muslim No.1144] 

Imam an-Nawawi رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan dalil yang tegas dari pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah dan yang sependapat dengan mereka mengenai dimakruhkannya mengerjakan puasa secara bersendirian pada hari Jum’at. 

Hal ini dikecualikan jika puasa tersebut adalah puasa yang berpapasan dengan kebiasaannya (seperti berpapasan dengan puasa Daud, puasa Arafah atau puasa sunnah lainnya, pen), ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya, berpapasan dengan puasa nadzarnya seperti ia bernadzar meminta kesembuhan dari penyakitnya. 

Maka pengecualian puasa ini tidak mengapa jika bertepatan dengan hari Jum’at dengan alasan hadits ini.” [Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, (8/19), Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392] 

Kedua, ketika shalat Shubuh di hari Jum’at dianjurkan membaca surat as-Sajadah dan al-Insan. 

Sebagaimana terdapat dalam hadits Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, beliau berkata, 

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِ (الم تَنْزِيلُ) فِى الرَّكْعَةِ الأُولَى وَفِى الثَّانِيَةِ ( هَلْ أَتَى عَلَى الإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا )

“Nabi biasa membaca pada shalat Shubuh di hari Jum’at ‘Alam Tanzil …’ (surat as-Sajadah) pada raka’at pertama dan ‘Hal ataa ‘alal insaani hiinum minad dahri lam yakun syai-am madzkuro’ (surat al-Insan) pada raka’at kedua.” [HR. Muslim No.880] 

Catatan:

Maksud membaca surat as-Sajadah adalah bukan dimaksudkan untuk mengkhususkan ketika itu dengan surat yang ada ayat sajadahnya sebagaimana disalahpahami oleh sebagian orang. Sehingga tidak perlu mencari surat-surat lain yang memiliki ayat sajadah di dalamnya dan membacanya ketika shalat Shubuh di hari Jum’at. Ini sungguh salah dalam memahami hadits Nabi . 

Cukup perkataan Shahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  berikut sebagai nasehat, 

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ikutilah petunjuk Nabi , janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat.” [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabir No.8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shahih] 

Ketiga, memperbanyak shalawat Nabi di hari Jum’at. 

Dari Shahabat yang Mulia Abu Umamah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda, 

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” [HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi -yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib No.1673] 

Keempat, dianjurkan membaca surat al-Kahfi. 

Dari Shahabat yang Mulia Abu Sa’id Al Khudri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi bersabda, 

إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jum’at, maka ia akan disinari oleh cahaya di antara dua jum’at.” [HR. Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih] 

Dalam lafadz lainnya dikatakan, 

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka ia akan mendapat cahaya antara dirinya dan rumah yang mulia (Mekkah).” [HR. Ad-Darimi No.3407. Syaikh Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sampai Abu Sa’id dan mauquf padanya] 

Juga dari Shahabat yang Mulia Abu Sa’id Al Khudri رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi bersabda, 

من قرأ سورة الكهف كما أنزلت ، كانت له نورا يوم القيامة من مقامه إلى مكة ، ومن قرأ عشر آيات من آخرها ثم خرج الدجال لم يسلط عليه ، ومن توضأ ثم قال : سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك كتب في رق ، ثم طبع بطابع فلم يكسر إلى يوم القيامة

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi sebagaimana diturunkan, maka ia akan mendapatkan cahaya dari tempat ia berdiri hingga Mekkah. Barangsiapa membaca 10 akhir ayatnya, kemudian keluar Dajjal, maka ia tidak akan dikuasai. Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia ucapkan, ‘Subhaanakallaahumma wa bi hamdika laa ilaha illa anta, astagh-firuka wa atuubu ilaik (Maha suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku senantiasa memohon ampun dan bertaubat pada-Mu),’ maka akan dicatat baginya di kertas dan dicetak sehingga tidak akan luntur hingga hari kiamat.” [HR. Al Hakim (1/564). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa hadits ini shahih karena banyak terdapat syawahid (dalil penguat)] 

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan dianjurkannya membaca surat al-Kahfi, bisa dilakukan pada malam Jum’at atau siang hari di hari Jum’at. 

Kelima, berlomba-lomba bersedekah pada hari Jum'at. 

Rasulullah pernah ditanya tentang sedekah yang paling utama, dan jawaban beliau dikaitkan dengan sifat dan kondisi orang yang bersedekah. 

Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ menceritakan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi , “Ya Rasulullah sedekah apakah yang paling afdhal?” 

Jawab Nabi , 

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَأْمُلُ الْعَيْشَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ

“Sedekah yang engkau berikan ketika engkau masih muda, pelit harta, bertumpuk angan-angan untuk hidup mewah, dan takut bangkrut.” [HR. Ahmad No.7407, Nasa-i No.2554, dan dishahihkan Syaikh Syuaib al-Arnauth] 

Betapa sulitnya orang bersedekah di saat dia sedang mengejar kariernya, harapannya, obsesinya, dan cita-citanya. Mungkin dia butuh perang batin untuk bisa mengeluarkan Rp. 20.000. Karena itulah, nilainya lebih afdhal dari pada yang lainnya. 

Kaidah umum terkait tingkatan keutamaan amal, bahwa amal yang dikerjakan di waktu mulia, memiliki nilai keutamaan yang lebih besar, dibandingkan amal yang dikerjakan di waktu kurang mulia.

Berikut kita akan simak beberapa keterangan ulama tentang keutamaan sedekah hari jumat, 

Pertama, keterangan as-Syarbini, seorang ulama Syafi’iyah (w. 977 H), 

ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي

“Dianjurkan memperbanyak sedekah dan beramal soleh di hari jumat atau malam jumat. Memperbanyak shalawat untuk Rasulullah di malam atau siang hari jumat. Berdasarkan hadits, ‘Sesungguhnya hari yang paling afdhal adalah hari jumat. Karena itu, perbanyaklah membaca shalawat untukku. Karena shalawat kalian diperlihatan kepadaku’.” [al-Iqna fi Halli Alfadz Abi Syuja’, (1/170)] 

Kedua, keterangan Ibnul Qoyim, seorang ulama Hambali (w. 751), 

الخامسة والعشرون: أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا، وسمعته يقول: إذا كان الله قد أمرنا بالصدقة بين يدي مناجاة رسول الله صلى الله عليه وسلم، فالصدقة بين يدي مناجاته تعالى أفضل وأولى بالفضيلة

“Keutamaan yang kedua puluh lima, Bahwa sedekah di hari jumat memiliki keistimewaan khusus dibandingkan hari yang lain. Sedekah di hari jumat, dibandingkan dengan sedekah di hari yang lain, seperti perbandingan antara sedekah di bulan ramadhan dengan sedekah di selain Ramadhan. 

Saya pernah melihat Syaikhul Islam -rahimahullah- apabila beliau berangkat jumatan, beliau membawa apa yang ada di rumah, baik roti atau yang lainnya, dan beliau sedekahkan kepada orang di jalan diam-diam. Saya pernah mendengar beliau mengatakan, ‘Apabila Allah memerintahkan kita untuk bersedekah sebelum menghadap Rasulullah , maka bersedekan sebelum menghadap Allah lebih afdhal dan lebih besar keutamaannya’.” [Zaadul Ma’ad, (1/407)] 

Karena itu, tradisi di masyarakat kita dengan memberikan infaq setiap jumatan, insya Allah termasuk tradisi yang baik. Meskipun kita menganjurkan agar semacam ini tidak dibatasi selama hari Jum’at dan diberikan untuk masjid saja.

Keenam, memperbanyak doa di hari Jum’at 

Dari Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda, 

فِيهِ سَاعَةٌ لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ ، وَهْوَ قَائِمٌ يُصَلِّى ، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta.” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut. [HR. Bukhari No.935 dan Muslim No.852] 

والله أعلمُ بالـصـواب .... والله واليوت توفيق

Demikian Faedah Ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah pada pembahasan kali ini. Semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua, serta bisa sebagai acuan untuk senantiasa memperbaiki amal kita di atas sunnah Nabi dan tidak berbicara agama dengan menggunakan akal dan hawa nafsu melainkan dengan dalil yang shahih.

سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

 

Komentar