Serial Hadits Palsu - Keutamaan Mengusap Kepala Anak Yatim di Hari Asyuro’


Oleh: Ustadz Ahmad Darmawan  حَفِظَهُ اللهُ

Ada sebuah hadits dalam kitab Tanbihul Ghafilin,

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

Hadits ini menjadi penggerak utama masyarakat untuk menyantuni anak yatim di hari Asyuro’. Bahkan sampai menjadikan hari Asyuro’ ini sebagai hari istimewa untuk anak yatim.

Namun sayangnya, ternyata hadits di atas statusnya adalah hadits palsu. Dalam jalur sanad hadits ini terdapat seorang perawi yang bernama Habib bin Abi Habib, Abu Muhammad. Para ulama hadits menyatakan bahwa perawi ini matruk (ditinggalkan). Untuk lebih jelasnya, berikut komentar para ulama kibar dalam hadits tentang Habib bin Abi Habib:

a.   Imam Ahmad, “Habib bin Abi Habib pernah berdusta.”
b.   Ibnu Ady mengatakan, “Habib pernah memalsukan hadits.” [al-Maudhu’at, (2/203)]
c.   Imam Adz Dzahabi mengatakan, “Tertuduh berdusta.” [Talkhis Kitab al-Maudhu’at, hal.207]

Karena itu, para ulama menyimpulkan bahwa hadits ini adalah hadits palsu. Abu Hatim mengatakan, “Ini adalah hadits batil, tidak ada asalnya.” [al-Maudhu’at, (2/203)]

Keterangan di atas sama sekali bukan karena mengingkari keutamaan menyantuni anak yatim. Bukan karena melarang kita untuk bersikap baik kepada anak yatim. Sama sekali bukan.

Tidak kita pungkiri bahwa menyantuni anak yatim adalah satu amal yang mulia. Bahkan Nabi menjanjikan dalam sebuah hadits,

أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ كَهَاتَيْنِ فِى الْجَنَّةِ , وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى , وَفَرَّقَ بَيْنَهُمَا قَلِيلاً

“Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga.” Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit. [HR. Bukhari No.5304]

Cuma yang jadi masalah adalah beramal karena ikut hadits palsu dan meyakini keutamaannya, ini sudah mendahului Rasulullah padahal bukan haknya.

Mari kita kenali kemungkaran agar kita bisa membenci dan menjauhinya, serta menjaga niat kita agar apa yang kita lakukan bernilai pahala karena sudah bersesuaian dengan perintah Allah جلّ وعلا dan Rasul-Nya berdasarkan pemahaman salafusholeh.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi: HijrahTV

Komentar