Serial Hadits Dhaif - Rasulullah ﷺ Qunut Shubuh Sampai Meninggal


Dari Shahabat yang Mulia Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, ia bercerita,

مَا زَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Terus-menerus Rasulullah qunut pada shalat Shubuh sampai beliau meninggal dunia.” [HR. Ahmad No.12.657, Thahawi dalam Syarah Ma’aanil Atsar No.1458, Daraquthni (II:39), Abdurrozaq No.4964, Ibnu Abi Syaibah No.7002, Hakim dalam Al Arba’in, dan Baihaqi (2/201) dari beberapa jalan dari Abu Ja’far Ar-Razi dari Robi bin Anas dari Anas bin Malik secara marfu‘.]

Takhrij Hadits

Dalam sanad hadits di atas terdapat seorang periwayat yang bernama Abu Ja’far Ar-Razy yang nama aslinya adalah Isa bin Mahan bin Isma’il, wafat tahun 160 H.

Beliau sebenarnya seorang yang jujur namun memiliki beberapa kelemahan dalam hadits yang menjadikan para ahli hadits melemahkannya dan tidak menerima periwayatannya.

Berkata Abu Zur’ah Ar Razi رَحِمَهُ اللهُ, “Seorang Syaikh yang banyak memiliki kesalahan (dalam meriwayatkan hadits -pent).”

Berkata Ahmad bin Hanbal, Nasa’i, dan Ahmad bin Shali Al Jili, “Bukan orang yang kuat (dalam periwayatan hadits).” Imam Ahmad bin Hanbal رَحِمَهُ اللهُ juga menilai Abu Ja’far Ar-Razy ini sebagai goncang haditsnya.

Ibnu Hubban رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Dia sering menyendiri meriwayatkan hadits-hadits yang munkar dari perawi yang masyhur.”

Berkata al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani رَحِمَهُ اللهُ, “Seorang yang jujur, hanya saja jelek hafalannya terutama jika meriwayatkan dari Syu’bah.”

Ulama lain yang melemahkan hadits di atas, di antaranya:
a)  Ibnul Jauzi dalam Tanqih at Tahqiq (II: 439) menyatakan, “Dha’if.”
b)  Syaikh bin Baaz رَحِمَهُ اللهُ  berkata, “Dha’if.” [Fatawa Nur ‘ala Darb (X: 245)]
c)  Syaikh al-Albani  رَحِمَهُ اللهُ mengatakan, “Munkar.” [Ad-Dha’ifah No.1238]
d)  Berkata Syaikh Syuaib al-Arna’uth رَحِمَهُ اللهُ , “Dha’if.” [Takhrij Syarhus Sunnah No.639]

Hadits ini juga bertentangan dengan hadits shahih, yakni:

1.   Riwayat Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  bahwasanya beliau berkata,

أنَّ النبي صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ إلَّا إذا دَعَى لِقومٍ ، أوْ دَعَى على قومٍ

“Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah qunut kecuali apabila mendoakan kebaikan atau kehancuran suatu kaum.”

2.   Hadits dengan redaksi,

عن أبي هريرة قال: كان رسول الله صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ كان لا يَقنطُ في صلاة الصبح إلَّا أن يدعو لِقومٍ ، أوْ على قومٍ

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah tidak qunut dalam shalat Shubuh kecuali kalau mendoakan akan kebaikan atau kehancuran suatu kaum.”

3.   Hadits dengan redaksi,

عن أبي مالك الأشجعي قال: قُلْت لِأَبِي يَا أَبَتِ إنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ قَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

Dari Abu Malik Al Asyja’i ia berkata, “Saya bertanya kepada bapakku, ‘Wahai bapakku, Sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah , Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib di sini di kota Kufah selama lima tahun. Apakah mereka semua qunut?’

Maka bapaknya menjawab, ‘Wahai anakku, itu adalah perbuatan bid’ah’.“ [HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, dan lainnya dengan sanad shahih]

Lihat Zadul Ma’ad (1/271), Silsilah Adh Dha’ifah No.1238 dan No.5574, Irwa Gholil No.435, Takhrij Adzkar Nawawiyah No.137.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:
1.   Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas pada laman https://almanhaj.or.id/13816-semua-hadits-tentang-qunut-shubuh-terus-menerus-adalah-lemah-1.html
2.   Ustadz Berik Said pada laman https://dakwahmanhajsalaf.com/2020/07/derajat-hadits-rasulullah-qunut-shubuh-sampai-meninggal.html
3.   Ustadz Abu Yusuf Ahmad Sabiq pada laman https://muslim.or.id/29021-hadits-lemah-rasulullah-qunut-shubuh-hingga-meninggal-dunia.html


Komentar