Seputar Puasa Tasu'a Dan Asyura


Berikut ini pembahasan terkait puasa yang sangat dianjurkan setelah puasa Ramadhan, yakni puasa Asyura (10 Muharram) beserta puasa sunnah lain yang mengiringinya.

Puasa 10 Muharram (Asyura)

Puasa khusus tanggal 10 Muharram disebut puasa 'Asyura. Dari Ibnu ‘Abbas ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ , ia menceritakan,

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلا هَذَا الْيَوْمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi bersemangat puasa pada suatu hari yang lebih beliau utamakan atas selainnya, kecuali pada hari ini, yaitu hari Asyura.” [HR. Bukhari No.2006]

Salah satu keutamaan puasa khusus tanggal 10 Muharram atau Asyura ini adalah sebagaimana sabda Rasulullah ,

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa hari Asyura, saya berharap kepada Allah, puasa ini menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” [HR. Muslim No.1162]

Perlu ditekankan bahwa puasa Asyura ini adalah amalan untuk mensyukuri kebesaran Allah تعالى yang telah menyelamatkan Nabi Musa عليه السلام beserta pengikutnya dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.

Sehingga bila puasa 10 Muharram disangkut pautkan dengan amalan bid’ah Syiah - mereka menyebutnya juga dengan hari Asyura- yang meratapi wafatnya cucu Rasulullah , Husein bin Ali bin Abi Thalib ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, adalah hal yang tidak ada asal usulnya. Yang mereka lakukan adalah dengan melukai badan terutama kepala, baik itu oleh orang dewasa maupun anak-anak.

Dari Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, beliau berkata,

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” [HSR. Bukhari (3/454), (4/102-244), (7/147), (8/177-178); Ahmad (6/29, 30, 50, 162); Muslim (2/792); Tirmidzi No.753; Abu Dawud No.2442; Ibnu Majah No.1733; Nasa’i dalam Al-Kubra (2/319,320); Al-Humaidi No.200; Al-Baihaqi (4/288); Abdurrazaq (4/289); Ad-Darimy No.1770; Ath-Thohawi (2/74), dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (5/253)]

Dalam riwayat lain, juga dari Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, beliau berkata,

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّه بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ

“Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, Apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur.’

Maka beliau -Rasulullah - menjawab, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu’.” [HSR. Bukhari (4/244), (6/429), (7/274); Muslim (2/795); Abu Dawud No.2444; Nasa’i dalam Al-Kubra (2/318-319); Ahmad (1/291, 310); Abdurrazaq (4/288); Ibnu Majah No.1734; Baihaqi (4/286); Al-Humaidi No.515; Ath-Thoyalisi No.928]

Puasa tanggal 9 Muharram (Tasu'a)

Rasulullah sangat membenci kebiasaan orang Yahudi, sementara beliau pada akhirnya tahu bahwa ternyata orang Yahudi juga biasa berpuasa khusus tanggal 10 Muharram (Asyura) saja.

Mendapati hal tersebut, Rasulullah berniat agar mulai tahun depannya akan menambah puasa di tanggal 9 bulan Muharram-nya guna menyelisihi puasanya orang Yahudi. Namun, belum sempat melakukan puasa tanggal 9 Muharram, beliau terlebih dahulu wafat.

KIsah ini disampaikan oleh Ibnu ‘Abbas ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ,

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ, قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: (فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ -إِنْ شَاءَ اللَّهُ- صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ) قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم -

“Ketika Rasulullah berpuasa di hari Asyura dan memerintahkan para Shahabat untuk berpuasa (sunnah Asyura), para Shahabat berkata, ‘Ya Rasulullah, Sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.’

Kemudian Rasulullah bersabda, ‘(Kalau begitu) tahun depan -Insya Allah- kita akan berpuasa tanggal 9 (Muharram).’ Belum sampai tahun depan, ternyata Rasulullah terlebih dulu wafat.” [HR. Muslim No.1134]

Hadits di atas tegas menggambarkan kepada kita, bahwa Rasulullah sebenarnya menginginkan agar di tahun depannya, beliau akan berpuasa di tanggal 9 dan 10 Muharram. Meskipun beliau tidak sempat melakukannya, namun dari apa yang beliau niatkan tersebut telah menjadi ketetapan sunnah.

Lalu bolehkah berpuasa di tanggal 11 Muharram?

Jawabnya boleh saja dengan kaidah: menyelisihi puasanya Yahudi. Namun harus tetap dipasangkan dengan tanggal 10 Muharram.

Kemudian terkait kebolehan berpuasa hanya di tanggal 10 Muharram, dapat kami sampaikan bahwa sebagian ulama menghukumi makruh karena sabda Rasulullah jelas, yakni berpuasa di 2 hari yang beriringan dengan puasa Asyura (10 Muharram) dengan maksud tidak bertasyabuh (menyerupai) dengan Yahudi.

Namun, kami sendiri berpendapat bahwa diperbolehkannya hanya berpuasa di hari Asyura saja dengan dalil tentang keutamaan berpuasa di tanggal 10 Muharram.

Al-Hafidz berkata, ”Puasa Asyura mempunyai tiga tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja, tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal sembilan, dan tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal sembilan dan sebelas. Wallahu a’lam.” [Fathul Baari (4/246)]

Bagaimana hukum puasa di tiga hari tanggal 9, 10, dan 11 Muharram?

Kami berpendapat kebolehannya dengan hujjah:
a)  Sebagai bentuk kehati-hatian karena bulan Dzulhijjah bisa 29 atau 30 hari. Sehingga bila kita berpuasa di 9, 10, 11 Muharram, tentu puasa Tasu’a dan Asyura bisa kita dapatkan.
b)  Sesuai dengan anjuran berpuasa tiga hari di tiap bulan.
c)  Mengikuti anjuran untuk memperbanyak puasa di bulan Muharram dan 4 bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).
d)  Mengikuti kaidah menyelisihi puasa Yahudi.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:
1.   Ustadz Berik Said pada laman https://dakwahmanhajsalaf.com/2019/09/keutamaan-puasa-sunnah-di-bulan-muharram.html
2.   Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi pada laman https://almanhaj.or.id/2034-hari-asyura-10-muharram-antara-sunnah-dan-bidah.html
3.   Ustadz Syahrul Fatwa bin Luqman (Penulis Majalah Al Furqon Gresik) pada laman https://muslim.or.id/23267-cara-melakukan-puasa-asyura.html
4.   Ustadz Ammi Nur Baits pada laman https://konsultasisyariah.com/23722-sejarah-puasa-asyura.html


Komentar