3 Macam Kesyirikan di Bulan Muharram


Oleh: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حَفِظَهُ اللهُ

1.   Takut Sial di Bulan Muharram

Anggapan bahwa bulan Muharram atau bulan Suro itu bulan keramat yang dapat membawa kesialan, sehingga tidak boleh mengadakan pernikahan atau hajatan maka termasuk syirik.

Syirik besar jika diyakini bisa mendatangkan kesialan dengan sendirinya, dan syirik kecil jika diyakini hanya sebagai sebab.

Dari Shahabat yang Mulia Abdullah bin Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, Rasulullah bersabda,

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَة مِنْ حَاجَته ، فَقَدْ أَشْرَكَ

“Barangsiapa yang dihalangi oleh perasaan sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah berbuat syirik.” [HR. Ahmad, Shahihul Jaami’ No.6264]

Dari Shahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah juga bersabda,

الطِّيَرَةُ شِرْكالطِّيَرَةُ شِرْك وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Takut sial itu syirik, takut sial itu syirik, dan tidaklah dari kita kecuali merasa takut sial, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” [HR. Abu Dawud, Shahihut Targhib No.3098]

2.   Ngalap Berkah dari Kotoran Kerbau Bule dan Benda-benda yang Dianggap Keramat

Ngalap berkah dari sesuatu yang tidak ada dalil yang menunjukkan keberkahannya termasuk syirik, bid’ah dan kebodohan.

Shahabat yang Mulia Al-Harits bin ‘Auf Abu Waqid Al-Laitsi رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاط يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاط كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاط ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : سُبْحَانَ اللهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى {اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ} وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُم

“Bahwa ketika Rasulullah berangkat menuju perang Hunain, beliau melewati sebuah pohon yang dijadikan tempat menggantungkan senjata-senjata oleh kaum musyrikin (untuk meminta berkah dari pohon tersebut). Pohon tersebut dinamakan dzatu amwath, maka kaum muslimin yang baru masuk Islam berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzatu amwath sebagaimana milik mereka.’

Maka Rasulullah bersabda, ‘Subhanallah, perkataan kalian sama dengan perkataan kaumnya Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana sesembahan-sesembahan mereka’ (QS. al-A'raf(7): 138). Demi (Allah) yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan kaum sebelum kalian’.” [HR. At-Tirmidzi, Al-Misykah No.5408]

3.   Upacara Sesajen adalah Bid'ah dan Syirik

Upacara sesajen termasuk bid’ah dan terdapat padanya berbagai kesyirikan, di antaranya:

a)  Meyakini setan-setan seperti 'ratu' Pantai Selatan dan 'kiai' sapu jagad di Gunung Merapi dapat memberikan keamanan atau melindungi dari bahaya adalah syirik besar yang menyebabkan pelakunya murtad, keluar dari Islam.

b)  Mendekatkan diri kepada setan-setan tersebut dengan memuliakannya dan mempersembahkan berbagai macam bentuk upacara dan sesajen, ini adalah syirik besar.

c)  Menyembelih untuk selain Allah تعالى, ini juga syirik besar, karena menyembelih itu ibadah, tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah تعالى.

d)  Harap dan tawakkal kepada setan-setan tersebut agar dianugerahkan kebaikan atau dilindungi dari bahaya, ini adalah syirik besar yang menyebabkan murtad.

e)  Takut kepada setan-setan tersebut karena meyakini bahwa mereka dapat menimpakan bahaya tanpa izin Allah عزوجل, ini adalah syirik besar yang menyebabkan murtad.

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Referensi:
https://youtu.be/ODxaTfO0mLQ

Komentar