Oleh: Ustadz
Sofyan Chalid bin Idham Ruray حَفِظَهُ اللهُ
1.
Takut
Sial di Bulan Muharram
Anggapan
bahwa bulan Muharram atau bulan Suro itu bulan keramat yang dapat membawa
kesialan, sehingga tidak boleh mengadakan pernikahan atau hajatan maka termasuk
syirik.
Syirik
besar jika diyakini bisa mendatangkan kesialan dengan sendirinya, dan syirik kecil
jika diyakini hanya sebagai sebab.
Dari
Shahabat yang Mulia Abdullah bin Umar ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ رَدَّتْهُ
الطِّيَرَة مِنْ حَاجَته ، فَقَدْ أَشْرَكَ
“Barangsiapa yang
dihalangi oleh perasaan sial untuk melakukan hajatnya maka ia telah berbuat
syirik.” [HR. Ahmad, Shahihul Jaami’ No.6264]
Dari
Shahabat yang Mulia Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ juga bersabda,
الطِّيَرَةُ
شِرْكالطِّيَرَةُ شِرْك وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ
بِالتَّوَكُّلِ
“Takut sial itu syirik,
takut sial itu syirik, dan tidaklah dari kita kecuali merasa takut sial, akan
tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakkal.” [HR. Abu Dawud, Shahihut Targhib No.3098]
2.
Ngalap
Berkah dari Kotoran Kerbau Bule dan Benda-benda yang Dianggap Keramat
Ngalap
berkah dari sesuatu yang tidak ada dalil yang menunjukkan keberkahannya
termasuk syirik, bid’ah dan kebodohan.
Shahabat
yang Mulia Al-Harits bin ‘Auf Abu Waqid Al-Laitsi رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا خَرَجَ إِلَى حُنَيْنٍ مَرَّ بِشَجَرَةٍ
لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا : ذَاتُ أَنْوَاط يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا
أَسْلِحَتَهُمْ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاط
كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاط ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ : سُبْحَانَ اللهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى {اجْعَلْ لَنَا
إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ} وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ
مَنْ كَانَ قَبْلَكُم
“Bahwa
ketika Rasulullah ﷺ berangkat menuju
perang Hunain, beliau melewati sebuah pohon yang dijadikan tempat
menggantungkan senjata-senjata oleh kaum musyrikin (untuk meminta berkah dari
pohon tersebut). Pohon tersebut dinamakan dzatu amwath, maka kaum muslimin yang
baru masuk Islam berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami dzatu amwath
sebagaimana milik mereka.’
Maka
Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Subhanallah, perkataan kalian sama dengan
perkataan kaumnya Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan
sebagaimana sesembahan-sesembahan mereka’ (QS. al-A'raf(7): 138). Demi (Allah)
yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian benar-benar akan mengikuti
kebiasaan-kebiasaan kaum sebelum kalian’.” [HR. At-Tirmidzi, Al-Misykah No.5408]
3.
Upacara
Sesajen adalah Bid'ah dan Syirik
Upacara
sesajen termasuk bid’ah dan terdapat padanya berbagai kesyirikan, di antaranya:
a) Meyakini setan-setan seperti 'ratu'
Pantai Selatan dan 'kiai' sapu jagad di Gunung Merapi dapat memberikan keamanan
atau melindungi dari bahaya adalah syirik besar yang menyebabkan pelakunya
murtad, keluar dari Islam.
b) Mendekatkan diri kepada setan-setan
tersebut dengan memuliakannya dan mempersembahkan berbagai macam bentuk upacara
dan sesajen, ini adalah syirik besar.
c) Menyembelih untuk selain Allah تعالى, ini juga syirik besar, karena
menyembelih itu ibadah, tidak boleh dipersembahkan untuk selain Allah تعالى.
d) Harap dan tawakkal kepada setan-setan
tersebut agar dianugerahkan kebaikan atau dilindungi dari bahaya, ini adalah
syirik besar yang menyebabkan murtad.
e) Takut kepada setan-setan tersebut
karena meyakini bahwa mereka dapat menimpakan bahaya tanpa izin Allah عزوجل, ini
adalah syirik besar yang menyebabkan murtad.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Referensi:
https://youtu.be/ODxaTfO0mLQ
Komentar
Posting Komentar