Membayar Hutang atau Berqurban Terlebih Dahulu?

Pertanyaan:

Bismillah, manakah yang terlebih dahulu dilakukan antara membayar hutang dengan berqurban?

 

Jawaban:

Perkara ini telah dijelaskan dalam situs http://islamqa.info:

 

الحمد لله, أداء الدَّيْن أولى وأوجب من التضحية في أيام العيد ، لعدة أسباب: أداء الدَّيْن واجب ، والأضحية سنة مؤكدة ، فلا تقدم السنة على الواجب ، وحتى على قول من رأى أن الأضحية واجبة ، من أهل العلم ، فإن سداد الدين مقدم عليها ؛ لأن الأضحية إنما تجب -عند من يقول بالوجوب- على القادر ، والمدين غير قادر

 

“Alhamdulillah, melunasi hutang lebih utama dan lebih wajib dibanding berqurban di hari Ied, karena beberapa alasan:

 

1.   Melunasi hutang itu wajib, sedangkan berqurban itu sunnah mu’akkad (sangat ditekankan). Maka, yang sunnah tidak didahulukan dari yang wajib. Bahkan seandainya mengikuti pendapat sebagian Ulama yang mengatakan bahwa berqurban itu wajib, tetap saja melunasi hutang itu didahulukan, karena andaipun kita memilih pendapat bahwa berqurban itu wajib, tetapi kewajiban itu bagi yang mampu, sementara orang yang memiliki hutang berarti tidak mampu.

 

في سداد الدَّيْن إبراء للذمة ، وفي تعيين الأضحية شغل لها ، ولا شك أن إبراء الذمة أولى وأوجب من شغلها

 

2.   Melunasi hutang merupakan pembebasan diri dari tanggung jawab, apabila dia berqurban, maka dia mengalihkan perhatiannya dari itu. Tidak diragukan lagi, bahwa membebaskan diri dari beban kewajiban lebih utama dari sibuk berqurban.

 

الدَّيْن حق للعباد ، والأضحية حق موسع مندوب لله تعالى ، فيقدم حق العباد في هذه الحالة

 

3.   Hutang adalah hak hamba, sedangkan berqurban adalah hak Allah yang bersifat sunnah dan luas.

 

ثم إن في بقاء الدَّيْن مخاطرة عظيمة ، إذ يخشى على المَدِين أن يؤدِّيَ دينَه يوم القيامة من حسناته إذا لم يؤد الله عنه ، وفي ذلك خطر عظيم ؛ لأن المسلم أحوج ما يكون يومئذ إلى حسنة واحدة

 

4.   Membiarkan hutang boleh jadi sangat berbahaya. Dikhawatirkan, orang yang berhutang harus melunasinya di hari kiamat dengan kebaikan-kebaikannya, jika Allah tidak lunasi atas namanya. Ini berarti sangat berbahaya, karena ketika itu seorang muslim sangat membutuhkan kebaikan walau hanya satu kebaikan.

 

فيتبين بذلك أن أداء الدَّيْن أوجب من ذبح الأضحية ، ولا يستثنى منه إلا إذا كان الدَّيْنَ مؤجَّلا بعيدَ الأمد ، بحيث يغلب على ظن المَدين أنه سيتمكن من سداد الدَّيْن في وقته إذا ذبح أضحيته الآن ، أو كان قد رهن في دَينِه ما يتمكن به من السداد إن عجز في حينه ، فلا حرج عليه حينئذ من ذبح الأضحية بما ييسر الله له ، ويكون له الأجر والثواب عند الله تعالى

 

Dengan penjelasan ini jelaslah bahwasanya melunasi hutang lebih wajib dibandingkan dengan menyembelih hewan qurban. Dikecualikan jika hutangnya bersifat jangka panjang, dan besar kemungkinan orang yang berhutang dapat melunasinya pada waktunya jika dia berqurban saat ini, atau dia telah menyerahkan jaminan yang membuatnya dapat menjamin pelunasan hutangnya jika pada waktunya dia tidak mampu melunasinya. Ketika itu, tidak mengapa dia berqurban sesuai kemudahan yang Allah berikan kepadanya, baginya pahala dari sisi Allah Ta’ala.”

 

إن كان عليه دين ينبغي له أن يبدأ بالدين قبل الأضحية انتهى. والله أعلم

 

“Jika seseorang punya hutang, hendaknya dia mulai dengan melunasi hutangnya sebelum berqurban.” [Asy Syarhul Mumti’, VIII:455]

 

 

Pertanyaan:

Lalu bagaimana hukumnya bila seseorang berhutang untuk berqurban?

 

Jawaban:

Syeikh bin Baaz رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Tidak ada satupun dalil syar’i yang menunjukkan bahwa berkurban adalah wajib, dan yang mengatakan bahwa berkurban adalah wajib, maka itu adalah pendapat yang lemah.” [Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz, 18/36]

 

Beliaupun berpendapat, “Berkurban itu hukumnya sunnah bukan wajib, tidak masalah jika seorang muslim berhutang untuk berkurban jika ia memiliki kemampuan untuk membayarnya.” [Fatawa Ibnu Baaz, 1/37]

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ  berpendapat, “Kalau ia berhutang dan merasa mampu untuk melunasinya, maka hal itu adalah baik, namun ia sebenarnya tidak wajib melakukannya.” [Majmu’ Fatawa, 26/305]

 

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ  berpendapat,

 

الفقير الذي ليس بيده شيء عند حلول عيد الأضحى لكنه يأمل أن يحصل، كإنسان له راتب شهري، أو أنه في يوم العيد ليس في يده شيء لكنه يستطيع أن يستقرض من صاحبه. ويوفي إذا جاء الراتب فهذا يمكن أن نقول له: لك أن تستقرض إذن وتضحي ثم توفي، ْ أما إذا كان لا يأمل الوفاء عن قريب فإننا لا نستحب له أن يستقرض ليضحي؛ لأن هذا يستلزم إشغال ذمته بالدين ومنّ الناس عليه، ولا يدري هل يستطيع الوفاء أو لا يستطيع

 

“Orang faqir, yang tidak mempunyai dana di tangannya ketika tiba hari raya Idul Adha, tetapi dia punya harapan memperoleh penghasilan setelah Idul Adha, seperti orang yang mempunyai gaji bulanan, atau dia di hari idul adha tidak memiliki dana namun dia mampu meminjam saudaranya, maka baginya tidak mengapa berhutang untuk berkurban, nanti kemudian dilunasi. Adapun jika dia tidak mempunyai harapan untuk mampu melunasi dalam waktu dekat, maka kami tidak menganjurkannya berhutang untuk berkurban. Karena ini akan menyibukkan dirinya dengan hutang.” [Majmu’ Al-Fatawa (25/110). Cetakan dar Ast-Tsurayya]

 

Sehingga jika hutangnya memiliki tempo dan dia merasa mampu melunasi hutangnya, maka tidak mengapa dia berkurban. Jika merasa tidak mampu, hendaknya uangnya dia simpan untuk melunasi hutangnya.

 

Tambahan:

Bagi penulis, kami berpegang pada pendapat bahwa berhutang demi berqurban, tidak disyari’atkan atau tidak dianjurkan karena Allah تعالى berfirman,

 

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” [QS. al-Baqarah(2): 286]

 

Di samping itu, kita tidak tahu kapan malaikat maut menjemput ajal seseorang. Sehingga bila ia mati dalam keadaan berhutang meskipun hutang itu dalam rangka melakukan syiar Allah تعالى (berqurban), tetap saja akan dimintai pelunasannya di akhirat dan tentu akan memberatkannya.

 

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Referensi:

1.   https://islamqa.info/id/answers/112426/apakah-mendahulukan-berkurban-atau-membayar-hutangnya-dahulu dan https://islamqa.info/id/answers/41696/bolehkan-berkurban-dengan-berhutang

2.   Ustadz Berik Said pada laman http://dakwahmanhajsalaf.com/2019/07/mana-yang-didahulukan-bayar-hutang-atau-berqurban.html

3.   https://almanhaj.or.id/5542-bolehkah-berhutang-untuk-berkurban.html

4.   Ustadz Ahmad Anshori pada laman https://konsultasisyariah.com/28282-berhutang-supaya-bisa-berkurban.html

 


Komentar