Oleh: Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray
حَفِظَهُ اللهُ
Merupakan Hari Pembebasan dari Neraka
Dari Ummul
Mukminin Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا , Rasulullah ﷺ bersabda,
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ
أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ
وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ
هَؤُلاَءِ
“Tidak ada hari dimana Allah
membebaskan hamba dari neraka lebih banyak dari hari Arafah. Dan sungguh Allah
mendekat, kemudian membanggakan hamba-hamba-Nya kepada para malaikat, seraya
berfirman: Apa yang mereka inginkan.”
[HR. Muslim]
Perbanyak Doa dan Dzikir
Dari Shahabat
yang Mulia Ibnu 'Amr ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ, Rasulullah ﷺ bersabda,
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ
يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik doa adalah doa di hari
Arafah, dan sebaik-baik dzikir yang aku ucapkan dan juga diucapkan para nabi
sebelumku adalah,
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ
‘Laa ilaaha illallah, wahdahu laa
syariika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syaiin Qodiir
(Tidak ada yang berhak disembah selain Allah yang satu saja, tidak ada sekutu
bagi-Nya, milik-Nya kekuasaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Mampu
atas segala sesuatu)’.”
[HR. At-Tirmidzi, Shahihut Targhib No.1536]
Dalam hadits
yang lain, dari Ibn 'Amr ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ
ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ , beliau menceritakan,
كان أكثر دعاء النبي صلى الله
عليه وسلم يوم عرفة لا إله إلا الله
“Kebanyakan
doa Rasulullah ﷺ di hari Arafah
adalah ‘Laa ilaaha illallah’.” [HR.
Ahmad]
Al-Husain
Al-Marudzi رَحِمَهُ اللهُ berkata,
سألت سفيان بن عيينة عن أفضل
الدعاء يوم عرفة فقال: لا إله إلا الله
“Aku bertanya
kepada Sufyan bin ‘Uyainah tentang doa yang paling afdhal di hari Arafah.
Beliau berkata, ‘Laa ilaaha illallah’.”
[Mir’atul Mafatih, 9/140]
Dzikir ini
yang paling afdhal karena mengandung tauhid, memurnikan ibadah hanya kepada
Allah تعالى dan menafikan
semua bentuk ibadah kepada selain-Nya.
Anjuran Berpuasa Untuk Selain Jamaah
Haji
Agar kuat
untuk memperbanyak doa dan dzikir di padang Arafah, jama'ah haji yang sedang
wukuf tidak diperkenankan berpuasa. Dalilnya adalah hadits,
عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ
الْحَارِثِ أَنَّ نَاسًا تَمَارَوْا عِنْدَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ
وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحِ لَبَنٍ
وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَهُ
“Dari Ummul
Fadhl binti al-Harits, bahwa orang-orang berbantahan di dekatnya pada hari
Arafah tentang puasa Nabi ﷺ. Sebagian mereka mengatakan, ‘Beliau berpuasa.’ Sebagian
lainnya mengatakan, ‘Beliau tidak berpuasa.’ Maka Ummul Fadhl mengirimkan
semangkok susu kepada beliau, ketika beliau sedang berhenti di atas unta
beliau, maka beliau meminumnya.” [HR. Bukhari No.1988 dan Muslim No.1123]
Maka puasa
hanya disunnahkan (mu’akkad) bagi yang tidak berhaji. Dari Shahabat yang Mulia Abu
Qotadah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , Rasulullah ﷺ bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ
أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ
الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa hari Arafah (tanggal 9
Dzulhijjah) aku harap kepada Allah dapat menghapus dosa tahun yang sebelumnya dan
tahun yang setelahnya.”
[HR. Muslim No.1162]
Syarat Mendapat Keutamaan Puasa Arafah
Syarat untuk
mendapat pahala atau keutamaan puasa Arafah adalah menjauhi diri dari
perkara-perkara maksiat bernilai dosa besar serta melakukan amalan-amalan yang
bernilai kewajiban sebagai seorang muslim.
Dari Shahabat
yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ،
وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ
لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat lima waktu, shalat Jum'at
sampai Jum'at berikutnya, dan puasa Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, adalah
amalan-amalan penghapus dosa yang dilakukan di antara waktu-waktunya, selama
dosa-dosa besar dijauhi.”
[HR. Muslim]
Asy-Syaikh bin
Baz رَحِمَهُ
اللهُ berkata, “Mayoritas ulama berkata, ‘Sesungguhnya mengamalkan
kewajiban-kewajiban dan meninggalkan dosa-dosa besar dapat menghapus dosa-dosa
kecil. Adapun dosa-dosa besar tidak dapat dihapus kecuali dengan taubat kepada
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ’.” [Fatawa Nur ‘alad Darb, 6/64]
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Referensi:
https://youtu.be/GmwaqfLrhxg
Komentar
Posting Komentar