Pertama, terkait ucapan seorang da’i yang
mengatakan bahwa Allah تعالى tidak bertempat. Maka bantahan kami
adalah bahwa Allah تعالى berada di atas ‘Arsy dengan dalil
firman-Nya,
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ
اسْتَوَى
“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy
(singgasana) berada.”
[QS. ath-Thaha(20): 5]
Dan juga surat
al-A’raf(7): 54, Yunus(10): 3, ar-Ra’d(13): 2, al-Furqan(25): 59, as-Sajdah(32):
4 dan al-Hadid(57): 4, semuanya dengan lafadz:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy
(singgasana).”
Kami
sampaikan juga beberapa hadits terkait keberadaan Allah تعالى di atas ‘Arsy, di antaranya:
1.
Dari
Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
لَمَّا قَضَى
اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ
رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي
“Ketika Allah
menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya
(Al-Lauh Al-Mahfuzh) -dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana)-;
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” [HR. Bukhari dan Muslim]
2.
Dari
Shahabat yang Mulia Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, bahwa Rasulullah ﷺ memegang tangannya
(Abu Hurairah) dan berkata,
يَا أَبَا
هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا
فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Wahai Abu Hurairah,
sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara
keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” [HR. an-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Syaikh al-Albani
dalam Mukhtasharul ‘Uluw]
3.
Dari
Shahabat yang Mulia Qatadah bin An-Nu’man رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ, ia berkata, “Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
لَمَّا فَرَغَ اللهُ
مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ
“Ketika Allah selesai
mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” [Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim,
dan Adz-Dzahabi berkata, “Para perawinya tsiqah.”]
Kedua, terkait pernyataan bahwa jika Allah تعالى berada di atas langit (‘Arsy) maka
bagaimana Dia turun ke langit dunia? Dan bukankah berarti langit dalam keadaan
kosong?
Dari
pernyataan ini membuktikan bahwa beliau hadanallah menyerupakan Allah تعالى dengan makhluk-Nya. Jangan pernah
berpikir bahwa Allah تعالى turun ke langit dunia di sepertiga
malam terakhir untuk mendengar dan menghijabah doa hamba-Nya laksana manusia
baru turun dari pesawat.
Bukankah
telah jelas firman Allah تعالى,
وَلَمْ
يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ
“Dan tidak ada seorangpun yang serupa
dengan-Nya.” [QS.
al-Ikhlas(112): 4]
Begitupun
dengan firman-Nya,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan-Nya. Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [QS. asy-Syuuraa(42): 11]
Ketiga, terkait hujjah beliau tentang ayat
yang berbunyi,
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ
مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya
daripada urat lehernya.”
[QS. Qaaf(50): 16]
Oleh beliau
diartikan bahwa ayat tersebut menguatkan argumen keberadaan Allah تعالى yang ada di mana-mana. Kata “Kami” dalam
ayat tersebut adalah Allah تعالى,
sehingga banyak dari kaum muslimin (termasuk beliau hadanallah) memahami bahwa
posisi Allah تعالى itu ada di tubuh (urat leher) dan juga
di dekat tubuh manusia.
Bantahan
kami, mengenai ayat di atas, ada dua penjelasan dari para ulama:
1. Makna
kata “Kami” adalah para malaikat.
Saran
kami, bacalah secara lengkap dari ayat 16-18. Sangat jelas bahwa yang dibicarakan
adalah tentang malaikat. Berikut lengkapnya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ
إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ
الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ
رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan
Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang
duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan
pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu
hadir.” [QS. Qaaf(50):
16-18]
Al-Imam
Ibnul Qayyim رَحِمَهُ اللهُ menjelaskan bahwa pendapat ini yang
dipilih oleh guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رَحِمَهُ اللهُ . Beliau berkata,
ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﻮﻻﻥ
ﻟﻠﻨﺎﺱ، ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻪ ﺑﻌﻠﻤﻪ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺮﻧﻪ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﺑﻮﺳﻮﺳﺔ ﻧﻔﺲ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ
ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻤﻼﺋﻜﺘﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ
ﺍﻟﻌﺮﻕ، ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺷﻴﺨﻨﺎ
“Ayat
ini memiliki dua pendapat:
1) Allah dekat ilmunya, oleh karena itu
Allah menggandengkan ilmu (mengetahui) dengan apa yang dibisiki hati manusia.
2) Yang dimaksud dekat adalah malaikat
Allah yang bershalawat pada hatinya sehingga lebih dekat dari urat lehernya.
Inilah
pendapat yang dipilih oleh guru kami.” [Madarijus
Salikin, 2/290]
2.
Kata
“dekat” tidak serta merta menunjukkan posisi atau letak.
Ayat
ini menunjukkan “dekat” secara maknawi yaitu “kedekatan” yakni dekat secara
penggambaran, bukan secara jarak. Imam Al-Quthubi رَحِمَهُ
اللهُ berkata,
ﻭﻫﺬﺍ ﺗﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﻘﺮﺏ،
ﺃﻱ ﻧﺤﻦ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﻭﺭﻳﺪﻩ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻣﻨﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺔ،
“Ini
adalah penggambaran kedekatan, yaitu kami lebih dekat (kedekatannya) daripada
urat leher, bukan dekatnya jarak.” [Tafsir
Al-Qurthubi]
Contoh
sederhananya adalah seorang murid yang memiliki kedekatan dengan gurunya, tidak
lantas menunjukkan posisi mereka saat itu berdekatan namun kedekatan yang
dimaksud adalah secara emosional.
Rasulullah
ﷺ bersabda,
أَقْرَبُ مَا
يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
“Tempat yang paling
dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka
perbanyaklah doa ketika itu.”
[HR. Muslim No.482]
Hadits
di atas tidak lantas menunjukkan bahwa posisi Allah تعالى berada di
dekat hamba-Nya ketika ia sujud, namun bermakna Dia sangat dekat (hubungannya).
Makna
ini serupa dengan makna dalam hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالَّذِى
تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ
“Yang kalian seru adalah
Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher
unta tunggangan kalian.”
(HR. Muslim no 2704).
Begitupun
makna “dekat” pada firman Allah تعالى,
وَإِذَا سَأَلَكَ
عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), ‘Aku itu dekat.’
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku,
maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka
beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” [QS. al-Baqarah(2): 186]
Demikian
bantahan kami secara singkat terhadap pernyataan da’i kondang penebar syubhat
tentang penafsiran terkait keberadaan Allah تعالى,
dan semoga beliau mendapatkan hidayah serta taufik.
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Referensi:
1.
Ustadz
Anas Burhanudin pada laman https://muslim.or.id/56-sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy.html
2.
Ustadz
Yazid bin Abdul Qadir Jawas pada laman https://almanhaj.or.id/3258-ahlus-sunnah-menetapkan-istiwa-bersemayam-ahlus-sunnah-menetapkan-maiyyah-kebersamaan-allah.html
3. Ustadz dr. Raehanul Bahraen pada laman
https://muslim.or.id/36103-makna-ayat-kami-lebih-dekat-dari-urat-lehernya.html
Komentar
Posting Komentar