Rasulullah
ﷺ bersabda,
وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ،
فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا
“Dan dibentangkanlah
Shirat di antara dua punggung Neraka Jahannam. Maka aku dan ummatku yang
pertama kali melintasinya.”
[HSR. Bukhari No.806]
Rasulullah
ﷺ bersabda,
ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ
جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ
مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا
شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ
“Kemudian
didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami
(para Shahabat) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?’
Jawab beliau, ‘Licin (lagi)
mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang
ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa’dan
…” [Muttafaqun ‘alaih]
Rasulullah
ﷺ bersabda,
وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ
الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ
السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا
يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ
رواه البخاري
“Dan dibentangkanlah
jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada
saat itu, ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.’ Pada shirath itu, terdapat
pengait-pengait seperti duri pohon Sa’dan. Pernahkah kalian melihatnya?” Para Sahabat menjawab, “Pernah, wahai
Rasulullah.” “Maka ia seperti duri pohon
Sa’dân, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka ia mencangkok
manusia sesuai dengan amalan mereka.” [HR. Bukhari]
Rasulullah
ﷺ bersabda,
وَيُضْرَبُ الصِّرَأطُ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ
فَأَكُونُ أنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلاَ يَـَتكَلََّمُ يَوْمَئِذٍ
إِلاَّ الرُسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ
فَمِنْهُمْ الْمُؤُمِنُ بَقِيَ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُجَازَى حَتىَّ يُنَجَّى
“Dan dibentangkanlah
shirâth di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang
yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali
para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu, ‘Ya Allah, selamatkanlah,
selamatkanlah……di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan
di antara mereka ada yang dibalasi sampai ia selamat.” [HR. Muslim]
Dari
shahabat Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda saat
menceritakan kecepatan manusia dalam melintasinya,
وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ، فَتَقُومَانِ
جَنَبَتَيِ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ
قَالَ: قُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ؟ قَالَ:
أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ؟
ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ، ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ، وَشَدِّ الرِّجَالِ، تَجْرِي
بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ: رَبِّ
سَلِّمْ سَلِّمْ، حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ، حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ
فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا، قَالَ: وَفِي حَافَتَيِ الصِّرَاطِ
كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنِ اُمِرَتْ بِهِ، فَمَخْدُوشٌ
نَاجٍ، وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ
“Lalu diutuslah amanah
dan rahim (tali persaudaraan), keduanya berdiri di samping kiri dan kanan
Shirat tersebut. Orang yang pertama melewatinya seperti kilat.” Aku bertanya, “Dengan bapak dan ibuku
(aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidakkah
kalian pernah melihat kilat, bagaimanakah kilat lewat (datang) dalam sekejap
mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung, dan
seperti kuda yang berlari kencang. Mereka melintas sesuai dengan amal perbuatan
mereka. Ketika itu, Nabi kalian berdiri di atas Shirat sambil berkata, ‘Ya
Allah, selamatkanlah! Selamatkanlah! Sampai (giliran) para hamba yang lemah
amalnya, sehingga datanglah orang tersebut lalu dia tidak bisa melewatinya
kecuali dengan merangkak’.” Beliau bersabda (lagi), “Di kedua sisi Shirat terdapat besi pengait yang bergantungan untuk
menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang
terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam Neraka.”
[HR. Muslim No.195]
Terkait
informasi yang berkembang bahwa jembatan ash-Shirat ini sehalus rambut namun
setajam pedang, maka hal ini tidak boleh disandarkan pada Rasulullah ﷺ. Karena riwayat
tersebut terputus pada shahabat Abu Said Al Khudri رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ .
Beliau
menceritakan,
بَلَغَنِي أَنَّ الْجِسْرَ
أَدَقُّ مِنَ الشَّعْرَةِ، وَأَحَدُّ مِنَ السَّيْفِ
“Telah
sampai (informasi) kepadaku bahwa Shirat itu lebih halus dari rambut dan lebih
tajam dari pedang.” [HSR. Muslim No.183]
Dalam
masalah ghaib, tidak mungkin seorang Shahabat berkata berdasarkan pendapatnya. Karena
itulah maka ulama menyebut hal semacam ini sering dikatakan hadits mauquf
(terhenti pada Shahabat) tetapi dihukumkan marfu’ (bersambung hingga Rasulullah
ﷺ).
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ
بِالصَّوَابِ
Referensi:
1. Ustadz
DR. Ali Musri Semjan Putra pada laman https://almanhaj.or.id/10712-mengimani-shirath-jembatan-di-atas-neraka-2.html
2. Ustadz
Berik Said pada laman https://dakwahmanhajsalaf.com/2020/06/mengimani-ash-shirat.html
Komentar
Posting Komentar