Sekilas Tentang Maksiat (Bagian 3)


Maksiat Melemahkan Semangat Beribadah

Ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah sepakat bahwa,

الإيمان يزيد وينقص، يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية

“Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah karena amal ketaatan dan berkurang karena maksiat.”

Dan semangat Ibadah seseorang berasal dari kuatnya keimanan, maka pelaku maksiat imannya melemah sehingga melemah pula semangat ibadahnya, dan itu juga termasuk hukuman atas dosa yang ia lakukan.

Dikatakan kepada Shahabat yang Mulia Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ,

ما نستطيع قيام الليل؟ قال: أقعدتكم ذنوبكم

“Mengapa kami tidak mampu melakukan shalat malam? Beliau berkata: Dosa-dosa kalian telah menghalangi kalian.” [Lathooiful Ma'aarif No.46]

Al-Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

حِرْمَانُ الطَّاعَةِ ، فَلَوْ لَمْ يَكُنْ لِلذَّنْبِ عُقُوبَةٌ إِلَّا أَنْ يَصُدَّ عَنْ طَاعَةٍ تَكُونُ بَدَلَهُ ، وَيَقْطَعَ طَرِيقَ طَاعَةٍ أُخْرَى ، فَيَنْقَطِعَ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَرِيقٌ ثَالِثَةٌ ، ثُمَّ رَابِعَةٌ ، وَهَلُمَّ جَرًّا ، فَيَنْقَطِعُ عَلَيْهِ بِالذَّنْبِ طَاعَاتٌ كَثِيرَةٌ ، كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهَا خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا ، وَهَذَا كَرَجُلٍ أَكَلَ أَكْلَةً أَوْجَبَتْ لَهُ مِرْضَةً طَوِيلَةً مَنَعَتْهُ مِنْ عِدَّةِ أَكَلَاتِ أَطْيَبَ مِنْهَا ، وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ

“Di antara pengaruh buruk maksiat adalah menghilangkan amal ketaatan, maka seandainya tidak ada hukuman atas dosa kecuali menghalangi seseorang untuk melakukan amal ketaatan dan memutus jalan untuk melakukan amal ketaatan yang kedua, kemudian putusnya amalan yang kedua adalah dosa yang memutuskan amalan yang ketiga, kemudian keempat dan seterusnya, maka karena dosa terputuslah banyak amal ketaatan.

Padalah setiap amal ketaatan tersebut lebih baik daripada dunia dan isinya, maka pelaku maksiat itu seperti orang yang makan suatu makanan buruk yang menyebabkan ia terkena penyakit berkepanjangan, sehingga ia tidak bisa makan berbagai makanan yang lebih baik daripada makanan yang telah menyebabkan ia sakit tersebut. Wallaahul Musta'an.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.44]

Maksiat Menyebabkan Kelemahan dan Kekalahan Umat Islam

Sesungguhnya bukan karena musuh yang kuat, tapi karena kita yang sedang lemah dan mendapat hukuman dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى disebabkan dosa-dosa kita.

Dari Ibnu Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ , Rasulullah bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah melakukan jual beli dengan cara ‘inah (salah satu bentuk riba), dan kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridho dengan pertanian (cinta dunia), dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Dia tidak akan menghilangkan kehinaan kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian.” [HR. Abu Dawud. Lihat Ash-Shahihah No.11]

Dari Tsauban رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , Rasulullah juga bersabda,

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir-hampir umat-umat yang kafir menguasai kalian seperti berkerumunnya orang-orang memperebutkan makanan. Maka berkatalah seseorang, ‘Apakah karena sedikitnya kita kaum muslimin ketika itu?’ Beliau bersabda, ‘Bahkan kalian ketika itu banyak jumlahnya, akan tetapi kalian seperti buih banjir, dan Allah menghilangkan kewibawaan kalian dari hati-hati musuh kalian serta melemparkan ke dalam hati-hati kalian kelemahan.’

Maka berkata seseorang, ‘Wahai Rasulullah apakah penyebab kelemahan tersebut?’ Beliau bersabda, ‘Cinta dunia dan benci kematian’.” [HR. Abu Dawud. Lihat Ash-Shahihah No.958]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

وحيث ظهر الكفار فإنما ذاك لذنوب المسلمين التي أوجبت نقص إيمانهم، ثم إذا تابوا بتكميل إيمانهم نصرهم الله كما قال تعالى ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين وقال أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم

“Ketika orang-orang kafir menang maka itu hanyalah karena dosa-dosa kaum muslimin yang telah melemahkan iman mereka.

Kemudian apabila mereka bertaubat dengan menyempurnakan kembali iman mereka maka Allah akan menolong mereka.

Sebagaimana firman Allah تعالى,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

'Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang lebih tinggi (dalam keimanan dan mengharap pertolongan Allah serta pahala-Nya), jika kamu orang-orang yang beriman.’ (QS. Ali Imran(3): 139)

Dan firman Allah تعالى,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

'Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (di Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (di Perang Badar) kamu berkata: Dari mana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah: Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu' (QS. Ali Imran(3): 165).” [Al-Jawaabus Shahih, 6/450]

Maksiat adalah Sebab Musibah di Dunia dan Akhirat

Berikut ini beberapa akibat dari maksiat:
1.   Dosa adalah sebab dikeluarkannya manusia dari surga yang penuh kenikmatan, ke dunia yang penuh penderitaan.
2.      Dosa adalah sebab diusirnya iblis dari alam langit, kemudian dilaknat dan dimurkai.
3.      Dosa adalah sebab tenggelamnya kaum Nabi Nuh عليه السلام dengan banjir besar laksana gunung.
4.      Dosa adalah sebab dihancurkannya kaum ‘Ad dengan angin kencang.
5.      Dosa adalah sebab musnahnya kaum Tsamud dengan suara keras yang bergemuruh.
6.     Dosa adalah sebab petaka yang menimpa kaum Homoseks di masa Nabi Luth عليه السلام dengan cara diangkat negeri mereka kemudian dibalik ke bawah dan disusul dengan lemparan batu.
7.      Dosa adalah sebab hujan api yang menimpa kaum Nabi Syu’aib عليه السلام.
8.      Dosa adalah sebab Fir’aun dan tentaranya ditenggelamkan di laut.
9.     Dosa adalah sebab dibenamkannya Qorun beserta istananya, hartanya dan keluarganya ke dalam bumi.
10.  Dan berbagai malapetaka lainnya yang menimpa umat manusia tidak lain karena dosa dan maksiat.

Allah جلّ وعلا telah mengingatkan,

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” [QS. al-'Ankabut(29): 40]

Sahabat yang Mulia Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  berkata,

مَا نَزَلْ بَلَاءٌ إِلَّا بِذَنْبٍ، وَلَا رُفِعَ إِلَّا بِتَوْبَةٍ

“Tidaklah terjadi suatu musibah melainkan karena dosa, dan tidaklah musibah itu dihilangkan melainkan dengan taubat.” [Al-Jawaabul Kaafi No.74]

Taubat dan Istighfar Melancarkan Rezeki

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كانَ غَفَّاراً يُرْسِلِ السَّماءَ عَلَيْكُمْ مِدْراراً وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهاراً

“Maka aku (Nuh) katakan kepada mereka: Mohon ampunlah kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan melimpahkan harta dan anak-anak kepadamu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [QS. Nuh(71): 10-12]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَيَٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡاْ مُجۡرِمِينَ

“Dan (Hud berkata): "Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu taubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” [QS. Hud(11): 52]

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani  رَحِمَهُ اللهُ menyebutkan sebuah atsar dari Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri  رَحِمَهُ اللهُ,

أَنَّ رَجُلًا شَكَى إِلَيْهِ الْجَدْبَ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ الْفَقْرَ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ جَفَافَ بُسْتَانِهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ وَشَكَى إِلَيْهِ آخَرُ عَدَمَ الْوَلَدِ فَقَالَ اسْتَغْفِرِ اللَّهَ ثُمَّ تَلَا عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ

“Bahwa seseorang mengadukan kemarau panjang kepada Al-Hasan Al-Bashri, maka beliau berkata, ‘Mohon ampunlah kepada Allah!’ Orang yang lain mengadukan kemiskinan, maka beliau berkata, ‘Mohon ampunlah kepada Allah!’ Orang yang lain mengadukan kekeringan kebunnya, maka beliau berkata, ‘Mohon ampunlah kepada Allah!’ Orang yang lain mengadukan kemandulan (tidak punya anak), maka beliau berkata, ‘Mohon ampunlah kepada Allah!’ Kemudian beliau membacakan kepada mereka ayat ini (Surat Nuh ayat 10-12).” [Fathul Baari, 11/98]

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Referensi:
Laman facebook: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam - www.taawundakwah.com dan Instagram: @taawundakwah.com

Komentar