Sekilas Tentang Maksiat (Bagian 2)


Maksiat Menjauhkan Hati Dari Allah

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur’.” [QS.al-A'raf(7): 16-17]

Ayat yang mulia ini menjelaskan dahsyatnya tekad setan untuk menjauhkan manusia dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan jalan-Nya yang lurus.

Al-Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

وَمِنْهَا: وَحْشَةٌ يَجِدُهَا الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ، لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا

“Di antara dampak jelek dosa adalah merasa jauh dari Allah yang menyelimuti hati pelaku maksiat, yang tidak mungkin digantikan dan ditutupi oleh kelezatan apa pun, walau terkumpul seluruh kelezatan dunia tidak akan sanggup menghilangkan perasaan jauh tersebut.

Akan tetapi perkara ini tidak dapat dirasakan kecuali orang yang di hatinya masih ada kehidupan, karena tidaklah luka dapat menyakiti mayit.

Maka seandainya dosa-dosa itu tidaklah ditinggalkan kecuali karena khawatir munculnya perasaan jauh dari Allah tersebut, sudah sepantasnya bagi orang yang berakal untuk meninggalkannya.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]

Beliau juga berkata, “Jika orang yang berakal mau meneliti dan menimbang kelezatan maksiat dengan akibat buruknya berupa rasa takut dan jauh dari Allah, maka ia akan mengetahui jeleknya keadaan dirinya dan besarnya ketololannya, karena ia telah menukar kenyamanan, keamanan dan kelezatan dalam ketaatan dengan keterasingan dari Allah dan konsekuensinya berupa ketakutan dan bahaya yang mengancamnya.

Inti permasalahannya, ketaatan seorang hamba mendekatkannya kepada Ar-Rabb سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka setiap kali menguat kedekatan dengan-Nya bertambah pula kenyamanan bersama-Nya, sedang maksiat menjauhkan dari Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala, dan setiap kali bertambah jauh maka semakin terasing dari-Nya.”

Beliau رَحِمَهُ اللهُ melanjutkan, “Jauhnya seseorang dari Allah 'azza wa jalla karena ada penghalang, maka semakin tebal penghalang itu semakin jauh pula ia dari Allah 'azza wa jalla.

a)  Lalai (tidak mengingat Allah) adalah penghalang yang menyebabkan jauhnya seseorang dari Allah.
b)  Lebih parah dari lalai adalah maksiat.
c)  Dan lebih parah dari maksiat adalah syirik dan kufur.

Dan tidaklah engkau dapati seseorang melakukan salah satu dari dosa tersebut kecuali ia akan menjauh dari Allah, sesuai kadar dosanya. Hingga jauhnya ia dari Allah menutupi wajah dan hatinya, maka ia pun merasa jauh dan dijauhkan.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.75-76]

Maka tidak ada jalan kembali mendekat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى selain menaati-Nya; menjalankan perintah-Nya, meninggalkan maksiat, dan bertaubat kepada-Nya.

Maksiat Merusak Hubungan Dengan Makhluk

Dari Ibnu Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ , Rasulullah bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فَفُرِّقَ بَيْنَهُمَا، إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah dua orang saling mencintai lalu dipisahkan antara keduanya, kecuali karena dosa yang dilakukan salah satunya.” [HR. Ahmad. Lihat Shahihut Targhib No.2219]

Asy-Syaikh Al-Munawi رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

فيكون التفريق عقوبة لذلك الذنب

“Maka terjadinya perpisahan sebagai hukuman terhadap dosa tersebut.” [Faidhul Qodir, 5/437]

Al-Imam Al-Muzani رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

إذا وجدت من إخوانك جفاء فتب إلى الله فإنك أحدثت ذنبا وإذا وجدت منهم زيادة ود فذلك لطاعة أحدثتها فاشكر الله تعالى

“Jika engkau dapati dari saudara-saudaramu sikap yang kurang baik kepadamu maka bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh itu disebabkan engkau telah melakukan dosa, dan jika engkau dapati dari mereka bertambahnya kecintaan kepadamu, itu adalah karena ketaatan yang engkau kerjakan, maka bersyukurlah kepada Allah تَعَالَى.” [Faidhul Qodir, 5/437]

Al-Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

وَمِنْهَا: الْوَحْشَةُ الَّتِي تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ، فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ

“Di antara hukuman bagi pelaku maksiat adalah merenggangnya hubungan antara dirinya dengan orang-orang, terutama dengan orang-orang baik, sungguh ia akan merasa terasing dari orang-orang baik tersebut.

Dan setiap kali menguat keterasingannya maka ia semakin jauh dari mereka dan majelis mereka, yang pada akhirnya ia terhalangi dari kebaikan melimpah yang dapat diambil dari mereka.

Dan ia pun semakin dekat dengan orang-orang dari golongan setan, sesuai kadar jauhnya ia dari golongan Allah yang Maha Penyayang.

Dan kerenggangan hubungan ini akan semakin menguat sampai merajalela, hingga retak pula hubungannya dengan istrinya, anaknya dan karib kerabatnya, bahkan dengan dirinya sendiri, maka engkau melihatnya merasa aneh dengan dirinya sendiri.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]

Sebagian Salaf رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي

“Sungguh ketika aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat pengaruh jeleknya pada tabiat hewan tungganganku dan istriku.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]

Bahkan Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan manusia marah dan tidak senang kepadanya walau mereka tidak melihat maksiat yang ia kerjakan.

Sahabat yang Mulia Abu Ad-Darda رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  berkata,

إِنَّ الْعَبْدَ يَخْلُو بِمَعَاصِي اللَّهِ فَيُلْقِي اللَّهُ بُغْضَهُ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ

“Sungguh seorang hamba yang berbuat maksiat kepada Allah ketika bersendirian, niscaya Allah akan meletakkan kebencian kepadanya di hati-hati kaum mukminin tanpa ia sadari.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.53]

Maksiat Menyulitkan Urusan-urusan

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada ia sangka-sangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.” [Ath-Tholaq: 2-3]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [QS. Ath-Thalaq(65): 4]

Al-‘Allamah Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقى اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا

“Sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusannya, maka orang yang tidak bertakwa; Allah akan menyulitkan urusannya.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]

Al-Imam As-Sa’di رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

فكل من اتقى الله تعالى، ولازم مرضاة الله في جميع أحواله، فإن الله يثيبه في الدنيا والآخرة. ومن جملة ثوابه أن يجعل له فرجًا ومخرجًا من كل شدة ومشقة، وكما أن من اتقى الله جعل له فرجًا ومخرجًا، فمن لم يتق الله، وقع في الشدائد والآصار والأغلال، التي لا يقدر على التخلص منها والخروج من تبعتها

“Setiap orang yang bertakwa kepada Allah تعالى dan senantiasa berusaha meraih keridhoan Allah dalam seluruh kondisinya, Allah akan membalasnya di dunia dan akhirat.

Dan di antara bentuk balasan dari-Nya adalah Dia akan menjadikan untuk orang yang bertakwa itu kemudahan dan jalan keluar dari setiap kesulitan serta beban.

Dan apabila orang yang bertakwa kepada Allah akan Dia berikan kemudahan serta jalan keluar, maka sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan menghadapi berbagai macam kesusahan, kesulitan yang berat dan himpitan kehidupan yang ia tidak mampu lepas darinya dan ia tidak bisa keluar dari akibat-akibat buruknya.” [Tafsir As-Sa’di, hal.869]

Asy-Syaikh Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr حَفِظَهُ اللهُ  berkata,

فالخيرُ والراحةُ والسعادةُ والطمأنينةُ في الطاعةِ، والشرُّ والشقاوةُ والتعسيرُ في المعصية

“Maka kebaikan, kenyamanan, kebahagiaan dan ketenangan terdapat dalam ketaatan, adapun kejelekan, kecelakaan dan kesulitan terdapat dalam kemaksiatan.” [Fiqhul Ad’iyyati wal Adzkaar, 2/262]

Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ  berkata,

إن للحسنة نورا في القلب، وزينا في الوجه، وقوة في البدن، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة ظلمة في القلب، وشينا في الوجه، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق

“Sesungguhnya kebaikan itu menyebabkan cahaya di hati, keindahan di wajah, kekuatan di badan, keluasan rezeki, dan kecintaan di hati-hati makhluk.

Dan sesungguhnya keburukan itu menyebabkan kegelapan di hati, kejelekan di wajah, kelemahan di badan, kekurangan rezeki dan kebencian di hati-hati makhluk.” [Raudhatul Muhibbin, hal.441 dan Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]

Al-Imam Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِيَ تُوهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ، أَمَّا وَهْنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ، بَلْ لَا تَزَالُ تُوهِنُهُ حَتَّى تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ .
وَأَمَّا وَهْنُهَا لِلْبَدَنِ فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ مِنْ قَلْبِهِ، وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ بَدَنُهُ، وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ - وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ - فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ، فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ عِنْدَ أَحْوَجِ مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ فَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ، كَيْفَ خَانَتْهُمْ، أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا، وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ

“Dan di antara bahaya maksiat adalah melemahkan hati dan badan.

Adapun kelemahan hati maka sudah jelas, bahkan maksiat akan terus melemahkan hatinya sampai dapat mematikannya.

Adapun kelemahan badan, maka seorang mukmin kekuatannya dari hatinya. Setiap hatinya menguat maka menguat pula badannya.

Adapun seorang pendosa, walau badannya kuat maka ia menjadi paling lemah ketika ia membutuhkan kekuatannya, karena kekuatan tubuhnya akan mengkhianatinya di saat ia sangat membutuhkannya.

Renungkanlah kekuatan badan pasukan Persia dan Romawi, bagaimana kekuatan fisik mereka mengkhianati mereka di saat mereka sangat membutuhkannya, sehingga orang-orang yang beriman dengan kekuatan hati dan badan mampu mengalahkan mereka.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Bersambung ke bagian 3 ...

Referensi:
Laman facebook: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam - www.taawundakwah.com dan Instagram: @taawundakwah.com

Komentar