Maksiat Menjauhkan Hati
Dari Allah ﷻ
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي
لأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ
أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ
تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Iblis berkata, ‘Karena
Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi
mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari
muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau
tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur’.” [QS.al-A'raf(7): 16-17]
Ayat
yang mulia ini menjelaskan dahsyatnya tekad setan untuk menjauhkan manusia dari
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dan jalan-Nya yang lurus.
Al-Imam
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
وَمِنْهَا: وَحْشَةٌ يَجِدُهَا
الْعَاصِي فِي قَلْبِهِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ لَا تُوَازِنُهَا وَلَا
تُقَارِنُهَا لَذَّةٌ أَصْلًا، وَلَوِ اجْتَمَعَتْ لَهُ لَذَّاتُ الدُّنْيَا
بِأَسْرِهَا لَمْ تَفِ بِتِلْكَ الْوَحْشَةِ، وَهَذَا أَمْرٌ لَا يَحِسُّ بِهِ
إِلَّا مَنْ فِي قَلْبِهِ حَيَاةٌ، وَمَا لِجُرْحٍ بِمَيِّتٍ إِيلَامٌ، فَلَوْ
لَمْ تُتْرَكِ الذُّنُوبُ إِلَّا حَذَرًا مِنْ وُقُوعِ تِلْكَ الْوَحْشَةِ،
لَكَانَ الْعَاقِلُ حَرِيًّا بِتَرْكِهَا
“Di
antara dampak jelek dosa adalah merasa jauh dari Allah yang menyelimuti hati
pelaku maksiat, yang tidak mungkin digantikan dan ditutupi oleh kelezatan apa
pun, walau terkumpul seluruh kelezatan dunia tidak akan sanggup menghilangkan
perasaan jauh tersebut.
Akan
tetapi perkara ini tidak dapat dirasakan kecuali orang yang di hatinya masih
ada kehidupan, karena tidaklah luka dapat menyakiti mayit.
Maka
seandainya dosa-dosa itu tidaklah ditinggalkan kecuali karena khawatir
munculnya perasaan jauh dari Allah tersebut, sudah sepantasnya bagi orang yang berakal
untuk meninggalkannya.” [Al-Jawaabul
Kaafi, hal.52]
Beliau
juga berkata, “Jika orang yang berakal mau meneliti dan menimbang kelezatan
maksiat dengan akibat buruknya berupa rasa takut dan jauh dari Allah, maka ia
akan mengetahui jeleknya keadaan dirinya dan besarnya ketololannya, karena ia
telah menukar kenyamanan, keamanan dan kelezatan dalam ketaatan dengan
keterasingan dari Allah dan konsekuensinya berupa ketakutan dan bahaya yang
mengancamnya.
Inti
permasalahannya, ketaatan seorang hamba mendekatkannya kepada Ar-Rabb سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, maka setiap kali menguat kedekatan dengan-Nya bertambah pula
kenyamanan bersama-Nya, sedang maksiat menjauhkan dari Ar-Rabb tabaraka wa
ta’ala, dan setiap kali bertambah jauh maka semakin terasing dari-Nya.”
Beliau
رَحِمَهُ اللهُ melanjutkan, “Jauhnya seseorang dari
Allah 'azza wa jalla karena ada penghalang, maka semakin tebal penghalang itu
semakin jauh pula ia dari Allah 'azza wa jalla.
a) Lalai (tidak mengingat Allah) adalah
penghalang yang menyebabkan jauhnya seseorang dari Allah.
b) Lebih parah dari lalai adalah maksiat.
c) Dan lebih parah dari maksiat adalah
syirik dan kufur.
Dan
tidaklah engkau dapati seseorang melakukan salah satu dari dosa tersebut kecuali
ia akan menjauh dari Allah, sesuai kadar dosanya. Hingga jauhnya ia dari Allah
menutupi wajah dan hatinya, maka ia pun merasa jauh dan dijauhkan.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.75-76]
Maka
tidak ada jalan kembali mendekat kepada Allah سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى selain menaati-Nya;
menjalankan perintah-Nya, meninggalkan maksiat, dan bertaubat kepada-Nya.
Maksiat Merusak Hubungan
Dengan Makhluk
Dari
Ibnu Umar ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ,
Rasulullah ﷺ bersabda,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ
بِيَدِهِ مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فَفُرِّقَ بَيْنَهُمَا، إِلَّا بِذَنْبٍ
يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا
“Demi Allah yang jiwa
Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah dua orang saling mencintai lalu dipisahkan
antara keduanya, kecuali karena dosa yang dilakukan salah satunya.” [HR. Ahmad. Lihat Shahihut Targhib No.2219]
Asy-Syaikh
Al-Munawi رَحِمَهُ اللهُ berkata,
فيكون التفريق عقوبة لذلك الذنب
“Maka
terjadinya perpisahan sebagai hukuman terhadap dosa tersebut.” [Faidhul Qodir, 5/437]
Al-Imam
Al-Muzani رَحِمَهُ اللهُ berkata,
إذا وجدت من إخوانك جفاء فتب
إلى الله فإنك أحدثت ذنبا وإذا وجدت منهم زيادة ود فذلك لطاعة أحدثتها فاشكر الله
تعالى
“Jika
engkau dapati dari saudara-saudaramu sikap yang kurang baik kepadamu maka
bertaubatlah kepada Allah, karena sungguh itu disebabkan engkau telah melakukan
dosa, dan jika engkau dapati dari mereka bertambahnya kecintaan kepadamu, itu
adalah karena ketaatan yang engkau kerjakan, maka bersyukurlah kepada Allah تَعَالَى.”
[Faidhul Qodir, 5/437]
Al-Imam
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
وَمِنْهَا: الْوَحْشَةُ الَّتِي
تَحْصُلُ لَهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَلَاسِيَّمَا أَهْلُ الْخَيْرِ
مِنْهُمْ، فَإِنَّهُ يَجِدُ وَحْشَةً بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ، وَكُلَّمَا قَوِيَتْ
تِلْكَ الْوَحْشَةُ بَعُدَ مِنْهُمْ وَمِنْ مُجَالَسَتِهِمْ، وَحُرِمَ بَرَكَةَ
الِانْتِفَاعِ بِهِمْ، وَقَرُبَ مِنْ حِزْبِ الشَّيْطَانِ، بِقَدْرِ مَا بَعُدَ
مِنْ حِزْبِ الرَّحْمَنِ، وَتَقْوَى هَذِهِ الْوَحْشَةُ حَتَّى تَسْتَحْكِمَ،
فَتَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ وَوَلَدِهِ وَأَقَارِبِهِ، وَبَيْنَهُ
وَبَيْنَ نَفْسِهِ، فَتَرَاهُ مُسْتَوْحِشًا مِنْ نَفْسِهِ
“Di
antara hukuman bagi pelaku maksiat adalah merenggangnya hubungan antara dirinya
dengan orang-orang, terutama dengan orang-orang baik, sungguh ia akan merasa
terasing dari orang-orang baik tersebut.
Dan
setiap kali menguat keterasingannya maka ia semakin jauh dari mereka dan
majelis mereka, yang pada akhirnya ia terhalangi dari kebaikan melimpah yang
dapat diambil dari mereka.
Dan
ia pun semakin dekat dengan orang-orang dari golongan setan, sesuai kadar
jauhnya ia dari golongan Allah yang Maha Penyayang.
Dan
kerenggangan hubungan ini akan semakin menguat sampai merajalela, hingga retak
pula hubungannya dengan istrinya, anaknya dan karib kerabatnya, bahkan dengan
dirinya sendiri, maka engkau melihatnya merasa aneh dengan dirinya sendiri.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]
Sebagian
Salaf رَحِمَهُ اللهُ berkata,
إِنِّي لَأَعْصِي اللَّهَ
فَأَرَى ذَلِكَ فِي خُلُقِ دَابَّتِي، وَامْرَأَتِي
“Sungguh
ketika aku bermaksiat kepada Allah, maka aku melihat pengaruh jeleknya pada
tabiat hewan tungganganku dan istriku.” [Al-Jawaabul
Kaafi, hal.54]
Bahkan
Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan manusia marah dan tidak senang kepadanya
walau mereka tidak melihat maksiat yang ia kerjakan.
Sahabat
yang Mulia Abu Ad-Darda رَضِيَ اللهُ عَنْهُ berkata,
إِنَّ الْعَبْدَ يَخْلُو
بِمَعَاصِي اللَّهِ فَيُلْقِي اللَّهُ بُغْضَهُ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ
حَيْثُ لَا يَشْعُرُ
“Sungguh
seorang hamba yang berbuat maksiat kepada Allah ketika bersendirian, niscaya
Allah akan meletakkan kebencian kepadanya di hati-hati kaum mukminin tanpa ia
sadari.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.53]
Maksiat Menyulitkan
Urusan-urusan
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ
مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى
اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barangsiapa
yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada ia sangka-sangka. Dan barangsiapa yang
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkannya.” [Ath-Tholaq: 2-3]
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ
يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Dan barang siapa yang
bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam
urusannya.” [QS. Ath-Thalaq(65):
4]
Al-‘Allamah
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
كَمَا أَنَّ مَنْ اتَّقى
اللَّهَ جَعَلَ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا، فَمَنْ عَطَّلَ التَّقْوَى جَعَلَ
لَهُ مِنْ أَمْرِهِ عُسْرًا
“Sebagaimana
orang yang bertakwa kepada Allah maka Allah akan memudahkan urusannya, maka
orang yang tidak bertakwa; Allah akan menyulitkan urusannya.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]
Al-Imam
As-Sa’di رَحِمَهُ اللهُ berkata,
فكل من اتقى الله تعالى، ولازم
مرضاة الله في جميع أحواله، فإن الله يثيبه في الدنيا والآخرة. ومن جملة ثوابه أن
يجعل له فرجًا ومخرجًا من كل شدة ومشقة، وكما أن من اتقى الله جعل له فرجًا
ومخرجًا، فمن لم يتق الله، وقع في الشدائد والآصار والأغلال، التي لا يقدر على
التخلص منها والخروج من تبعتها
“Setiap
orang yang bertakwa kepada Allah تعالى
dan senantiasa berusaha meraih keridhoan Allah dalam seluruh kondisinya, Allah
akan membalasnya di dunia dan akhirat.
Dan
di antara bentuk balasan dari-Nya adalah Dia akan menjadikan untuk orang yang
bertakwa itu kemudahan dan jalan keluar dari setiap kesulitan serta beban.
Dan
apabila orang yang bertakwa kepada Allah akan Dia berikan kemudahan serta jalan
keluar, maka sebaliknya, orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan menghadapi
berbagai macam kesusahan, kesulitan yang berat dan himpitan kehidupan yang ia
tidak mampu lepas darinya dan ia tidak bisa keluar dari akibat-akibat
buruknya.” [Tafsir As-Sa’di, hal.869]
Asy-Syaikh
Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr حَفِظَهُ
اللهُ berkata,
فالخيرُ والراحةُ والسعادةُ
والطمأنينةُ في الطاعةِ، والشرُّ والشقاوةُ والتعسيرُ في المعصية
“Maka
kebaikan, kenyamanan, kebahagiaan dan ketenangan terdapat dalam ketaatan,
adapun kejelekan, kecelakaan dan kesulitan terdapat dalam kemaksiatan.” [Fiqhul Ad’iyyati wal Adzkaar, 2/262]
Maksiat Melemahkan Hati
dan Badan
Sahabat
yang Mulia Ibnu Abbas dan Anas bin Malik ﺭَﺿِﻲَ
ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ berkata,
إن للحسنة نورا في القلب، وزينا
في الوجه، وقوة في البدن، وسعة في الرزق، ومحبة في قلوب الخلق، وإن للسيئة ظلمة في
القلب، وشينا في الوجه، ووهنا في البدن، ونقصا في الرزق، وبغضة في قلوب الخلق
“Sesungguhnya
kebaikan itu menyebabkan cahaya di hati, keindahan di wajah, kekuatan di badan,
keluasan rezeki, dan kecintaan di hati-hati makhluk.
Dan
sesungguhnya keburukan itu menyebabkan kegelapan di hati, kejelekan di wajah,
kelemahan di badan, kekurangan rezeki dan kebencian di hati-hati makhluk.” [Raudhatul Muhibbin, hal.441 dan Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]
Al-Imam
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
وَمِنْهَا أَنَّ الْمَعَاصِيَ
تُوهِنُ الْقَلْبَ وَالْبَدَنَ، أَمَّا وَهْنُهَا لِلْقَلْبِ فَأَمْرٌ ظَاهِرٌ،
بَلْ لَا تَزَالُ تُوهِنُهُ حَتَّى تُزِيلَ حَيَاتَهُ بِالْكُلِّيَّةِ .
وَأَمَّا وَهْنُهَا لِلْبَدَنِ
فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ قُوَّتُهُ مِنْ قَلْبِهِ، وَكُلَّمَا قَوِيَ قَلْبُهُ قَوِيَ
بَدَنُهُ، وَأَمَّا الْفَاجِرُ فَإِنَّهُ - وَإِنْ كَانَ قَوِيَّ الْبَدَنِ -
فَهُوَ أَضْعَفُ شَيْءٍ عِنْدَ الْحَاجَةِ، فَتَخُونُهُ قُوَّتُهُ عِنْدَ أَحْوَجِ
مَا يَكُونُ إِلَى نَفْسِهِ فَتَأَمَّلْ قُوَّةَ أَبْدَانِ فَارِسَ وَالرُّومِ،
كَيْفَ خَانَتْهُمْ، أَحْوَجَ مَا كَانُوا إِلَيْهَا، وَقَهَرَهُمْ أَهْلُ
الْإِيمَانِ بِقُوَّةِ أَبْدَانِهِمْ وَقُلُوبِهِمْ
“Dan
di antara bahaya maksiat adalah melemahkan hati dan badan.
Adapun
kelemahan hati maka sudah jelas, bahkan maksiat akan terus melemahkan hatinya
sampai dapat mematikannya.
Adapun
kelemahan badan, maka seorang mukmin kekuatannya dari hatinya. Setiap hatinya
menguat maka menguat pula badannya.
Adapun
seorang pendosa, walau badannya kuat maka ia menjadi paling lemah ketika ia
membutuhkan kekuatannya, karena kekuatan tubuhnya akan mengkhianatinya di saat
ia sangat membutuhkannya.
Renungkanlah
kekuatan badan pasukan Persia dan Romawi, bagaimana kekuatan fisik mereka
mengkhianati mereka di saat mereka sangat membutuhkannya, sehingga orang-orang
yang beriman dengan kekuatan hati dan badan mampu mengalahkan mereka.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.54]
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Bersambung ke bagian 3
...
Referensi:
Laman
facebook: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam - www.taawundakwah.com dan
Instagram: @taawundakwah.com
Komentar
Posting Komentar