Maksiat Itu Racun,
Penawarnya adalah Taubat
Dari
Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ bersabda,
إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً
نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ،
وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sesungguhnya seorang
hamba apabila melakukan dosa maka muncul di hatinya satu titik hitam, apabila
ia berhenti, memohon ampun dan bertaubat maka menjadi bersih lagi hatinya,
namun apabila ia kembali melakukan maksiat maka bertambah pula titik hitam itu
sampai menutupi hatinya.
Itulah penutup hati yang
disebutkan oleh Allah 'azza wa jalla,
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى
قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
'Sekali-kali tidak
(Al-Qur'an bukan dongeng), akan tetapi (mereka tidak dapat memahami dan
mengimani Al-Qur'an) karena dosa yang menutupi hati mereka (QS.al-Muthaffifin(83):
14)’.” [HSR.
At-Tirmidzi. Lihat Shahih At-Tirmidzi
No.3334]
Al-'Allaamah
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
الذنب بمنزلة شرب السم، والتوبة
ترياقه ودواؤه، والطاعة هي الصحة والعافية
“Berbuat
dosa bagaikan meminum racun, taubat adalah penawarnya dan obatnya, sedangkan
ketaatan adalah kesehatan dan keselamatan.” [Madaarijus Saalikin, 1/222]
Beliau
juga berkata,
أَنَّ الذُّنُوبَ
وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ
السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ
وَالْمَعَاصِي
“Sungguh
dosa dan maksiat sangat membahayakan, bahayanya pasti berpengaruh pada hati
seperti bahaya racun pada badan sesuai perbedaan tingkatan bahayanya, dan
tidaklah kejelekan dan penyakit di dunia dan akhirat kecuali sebabnya adalah
dosa dan maksiat.” [al-Jawaabul Kaafi,
hal.42]
Maksiat Menghalangi
Cahaya ilmu
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَاتَّقُوا اللَّهَ
وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
“Dan bertakwalah kepada
Allah; dan Allah akan mengajarimu.”
[QS.al-Baqarah(2): 282]
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ
سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Wahai orang-orang yang
beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu
furqaan (ilmu untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan), menghapuskan
kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia
yang besar.” [QS.al-Anfal(8):
29]
Penjelasan Makna Ayat
Al-Imam
Al-Mufassir As-Sa’di رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Firman Allah تعالى, 'Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah akan mengajarimu.' (QS. al-Baqarah(2):
282)
Dapat
dijadikan dalil bahwa takwa kepada Allah adalah sarana untuk menggapai ilmu
agama.
Namun
yang lebih jelas sisi pendalilannya adalah firman Allah تعالى, 'Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah,
niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan.' (QS. al-Anfal(8): 29)
Maknanya
adalah Allah akan memberikan ilmu agama yang dengannya kalian dapat:
a) Mengenal hakikat.
b) Membedakan antara kebenaran dan
kebatilan.”
[Tafsir As-Sa’di, hal.105]
Asy-Syaikh
Al-'Allamah Ibnul ‘Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ
berkata, “Firman Allah تعالى, 'Niscaya Dia akan memberikan kepadamu
furqaan.' (QS. al-Anfal(8): 29)
Artinya
kalian dapat membedakan:
a) Antara kebenaran dan kebatilan.
b) Antara yang berbahaya dan yang
bermanfaat.
Maka
ilmu agama termasuk dalam makna ayat ini, yaitu Allah تعالى
akan menganugerahkan ilmu-ilmu kepada orang yang bertakwa, yang tidak Allah
berikan kepada orang yang tidak bertakwa.
Karena
sesungguhnya dengan takwa seseorang akan meraih:
a) Tambahan petunjuk.
b) Tambahan ilmu.
c) Tambahan hapalan.
Oleh
karena itu disebutkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i رَحِمَهُ
اللهُ , bahwa beliau berkata,
شكوت إلى وكيع سوء حفظي ...
فأرشدني إلى ترك المعاصي
وقال اعلم بأن العلم نور ...
ونور الله لا يؤتاه عاصي
'Aku
pernah mengadukan kepada guruku; Waki’ akan buruknya hapalanku, maka beliau
membimbingku untuk meninggalkan maksiat, dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa
ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang
bermaksiat.'
Dan
tidak diragukan lagi bahwa setiap kali bertambah ilmu seseorang maka bertambah
pula kemampuannya mengenal dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Demikian
pula termasuk dalam makna furqaan adalah pemahaman yang Allah bukakan untuk
orang yang bertakwa, karena takwa adalah sebab kuatnya pemahaman, dan kekuatan
yang dengannya akan menghasilkan tambahan ilmu.” [Kitabul ‘Ilm, hal.44]
Nasihat Ulama
Ketika
Al-Imam Malik رَحِمَهُ اللهُ melihat kecerdasan muridnya; Asy-Syafi’i muda
yang luar biasa, maka beliau berkata,
إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ
أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ
“Sesungguhnya
aku melihat (tanda) Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menganugerahkan cahaya (ilmu) di
hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan
maksiat.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ berkata,
من الذنوب ما يكون سببا لخفاء العلم
النافع أو بعضه بل يكون سببا لنسيان ما عُلم
“Di
antara dosa-dosa, ada yang dapat menjadi sebab yang menghalangi ilmu yang
bermanfaat atau sebagiannya, bahkan dapat menjadi sebab terlupanya ilmu yang
sudah diketahui.” [Majmu' Al-Fatawa,
14/160]
Al-'Allaamah
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ
يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ
“Sesungguhnya
ilmu agama adalah cahaya yang Allah curahkan di hati seorang hamba, dan maksiat
mematikan cahaya tersebut.” [Al-Jawaabul
Kaafi, hal.52]
Maksiat Menghambat
Rezeki
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل
لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ
“Barangsiapa yang
bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [QS. Ath-Thalaaq(65): 2-3]
Dari
Tsauban رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , Rasulullah ﷺ juga bersabda,
لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ
إِلَّا الْبِرُّ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ
لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Tidak ada yang menambah
umur kecuali kebajikan, tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan sungguh
seseorang benar-benar dihalangi untuk mendapat rezeki karena dosa yang ia
kerjakan.” [HR. Ibnu
Majah. Lihat Ash-Shahihah No.154]
Al-'Allaamah
Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ berkata,
وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ
مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا
اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِي
“Sebagaimana
takwa kepada Allah ta’ala merupakan sebab meraih rezeki maka tidak bertakwa
kepada-Nya adalah sebab kefakiran, maka tidaklah dapat diraih rezeki Allah
dengan sesuatu yang menyamai amalan meninggalkan maksiat.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Bersambung ke bagian 2
...
Referensi:
Laman
facebook: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam - www.taawundakwah.com dan
Instagram: @taawundakwah.com
Komentar
Posting Komentar