Sekilas Tentang Maksiat (Bagian 1)


Maksiat Itu Racun, Penawarnya adalah Taubat

Dari Abu Hurairah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah bersabda,

إنَّ العبدَ إذا أخطأَ خطيئةً نُكِتت في قلبِهِ نُكْتةٌ سوداءُ، فإذا هوَ نزعَ واستَغفرَ وتابَ سُقِلَ قلبُهُ، وإن عادَ زيدَ فيها حتَّى تعلوَ قلبَهُ، وَهوَ الرَّانُ الَّذي ذَكَرَ اللَّه كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan dosa maka muncul di hatinya satu titik hitam, apabila ia berhenti, memohon ampun dan bertaubat maka menjadi bersih lagi hatinya, namun apabila ia kembali melakukan maksiat maka bertambah pula titik hitam itu sampai menutupi hatinya.

Itulah penutup hati yang disebutkan oleh Allah 'azza wa jalla,

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

'Sekali-kali tidak (Al-Qur'an bukan dongeng), akan tetapi (mereka tidak dapat memahami dan mengimani Al-Qur'an) karena dosa yang menutupi hati mereka (QS.al-Muthaffifin(83): 14)’.” [HSR. At-Tirmidzi. Lihat Shahih At-Tirmidzi No.3334]

Al-'Allaamah Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

الذنب بمنزلة شرب السم، والتوبة ترياقه ودواؤه، والطاعة هي الصحة والعافية

“Berbuat dosa bagaikan meminum racun, taubat adalah penawarnya dan obatnya, sedangkan ketaatan adalah kesehatan dan keselamatan.” [Madaarijus Saalikin, 1/222]

Beliau juga berkata,

أَنَّ الذُّنُوبَ وَالْمَعَاصِيَ تَضُرُّ، وَلَا بُدَّ أَنَّ ضَرَرَهَا فِي الْقَلْبِ كَضَرَرِ السُّمُومِ فِي الْأَبْدَانِ عَلَى اخْتِلَافِ دَرَجَاتِهَا فِي الضَّرَرِ، وَهَلْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ شَرٌّ وَدَاءٌ إِلَّا سَبَبُهُ الذُّنُوبُ وَالْمَعَاصِي

“Sungguh dosa dan maksiat sangat membahayakan, bahayanya pasti berpengaruh pada hati seperti bahaya racun pada badan sesuai perbedaan tingkatan bahayanya, dan tidaklah kejelekan dan penyakit di dunia dan akhirat kecuali sebabnya adalah dosa dan maksiat.” [al-Jawaabul Kaafi, hal.42]

Maksiat Menghalangi Cahaya ilmu

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ

“Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah akan mengajarimu.” [QS.al-Baqarah(2): 282]

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (ilmu untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan), menghapuskan kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [QS.al-Anfal(8): 29]

Penjelasan Makna Ayat

Al-Imam Al-Mufassir As-Sa’di رَحِمَهُ اللهُ  berkata, “Firman Allah تعالى, 'Dan bertakwalah kepada Allah; dan Allah akan mengajarimu.' (QS. al-Baqarah(2): 282)

Dapat dijadikan dalil bahwa takwa kepada Allah adalah sarana untuk menggapai ilmu agama.

Namun yang lebih jelas sisi pendalilannya adalah firman Allah تعالى, 'Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan.' (QS. al-Anfal(8): 29)

Maknanya adalah Allah akan memberikan ilmu agama yang dengannya kalian dapat:
a)  Mengenal hakikat.
b)  Membedakan antara kebenaran dan kebatilan.”
[Tafsir As-Sa’di, hal.105]

Asy-Syaikh Al-'Allamah Ibnul ‘Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ berkata, “Firman Allah تعالى, 'Niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan.' (QS. al-Anfal(8): 29)

Artinya kalian dapat membedakan:
a)  Antara kebenaran dan kebatilan.
b)  Antara yang berbahaya dan yang bermanfaat.

Maka ilmu agama termasuk dalam makna ayat ini, yaitu Allah تعالى akan menganugerahkan ilmu-ilmu kepada orang yang bertakwa, yang tidak Allah berikan kepada orang yang tidak bertakwa.

Karena sesungguhnya dengan takwa seseorang akan meraih:
a)  Tambahan petunjuk.
b)  Tambahan ilmu.
c)  Tambahan hapalan.

Oleh karena itu disebutkan dari Al-Imam Asy-Syafi’i رَحِمَهُ اللهُ , bahwa beliau berkata,

شكوت إلى وكيع سوء حفظي ... فأرشدني إلى ترك المعاصي
وقال اعلم بأن العلم نور ... ونور الله لا يؤتاه عاصي

'Aku pernah mengadukan kepada guruku; Waki’ akan buruknya hapalanku, maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat, dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.'

Dan tidak diragukan lagi bahwa setiap kali bertambah ilmu seseorang maka bertambah pula kemampuannya mengenal dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Demikian pula termasuk dalam makna furqaan adalah pemahaman yang Allah bukakan untuk orang yang bertakwa, karena takwa adalah sebab kuatnya pemahaman, dan kekuatan yang dengannya akan menghasilkan tambahan ilmu.” [Kitabul ‘Ilm, hal.44]

Nasihat Ulama

Ketika Al-Imam Malik رَحِمَهُ اللهُ  melihat kecerdasan muridnya; Asy-Syafi’i muda yang luar biasa, maka beliau berkata,

إِنِّي أَرَى اللَّهَ قَدْ أَلْقَى عَلَى قَلْبِكَ نُورًا، فَلَا تُطْفِئْهُ بِظُلْمَةِ الْمَعْصِيَةِ

“Sesungguhnya aku melihat (tanda) Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menganugerahkan cahaya (ilmu) di hatimu, maka janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dengan kegelapan maksiat.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

من الذنوب ما يكون سببا لخفاء العلم النافع أو بعضه بل يكون سببا لنسيان ما عُلم

“Di antara dosa-dosa, ada yang dapat menjadi sebab yang menghalangi ilmu yang bermanfaat atau sebagiannya, bahkan dapat menjadi sebab terlupanya ilmu yang sudah diketahui.” [Majmu' Al-Fatawa, 14/160]

Al-'Allaamah Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

فَإِنَّ الْعِلْمَ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي الْقَلْبِ، وَالْمَعْصِيَةُ تُطْفِئُ ذَلِكَ النُّورَ

“Sesungguhnya ilmu agama adalah cahaya yang Allah curahkan di hati seorang hamba, dan maksiat mematikan cahaya tersebut.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]

Maksiat Menghambat Rezeki

Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” [QS. Ath-Thalaaq(65): 2-3]

Dari Tsauban رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , Rasulullah juga bersabda,

لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ، وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Tidak ada yang menambah umur kecuali kebajikan, tidak ada yang menolak takdir kecuali doa, dan sungguh seseorang benar-benar dihalangi untuk mendapat rezeki karena dosa yang ia kerjakan.” [HR. Ibnu Majah. Lihat Ash-Shahihah No.154]

Al-'Allaamah Ibnul Qoyyim رَحِمَهُ اللهُ  berkata,

وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِي

“Sebagaimana takwa kepada Allah ta’ala merupakan sebab meraih rezeki maka tidak bertakwa kepada-Nya adalah sebab kefakiran, maka tidaklah dapat diraih rezeki Allah dengan sesuatu yang menyamai amalan meninggalkan maksiat.” [Al-Jawaabul Kaafi, hal.52]

وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Bersambung ke bagian 2 ...

Referensi:
Laman facebook: Markaz Ta'awun Dakwah dan Bimbingan Islam - www.taawundakwah.com dan Instagram: @taawundakwah.com

Komentar