Oleh:
Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray حَفِظَهُ
اللهُ
Meninggalkan
shalat adalah kekafiran, dan dosa kekafiran membatalkan semua ibadah termasuk
puasa, maka tidak sah puasanya orang yang tidak shalat.
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ
الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Jika mereka bertaubat,
mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah
saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang
mengetahui.” [QS. At
Taubah(9): 11]
Dari
Jabir bin Abdillah ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ,
Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ
وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya, batas
antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” [HR. Muslim]
Dari
Buraidah bin Al-Hushaib رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Rasulullah ﷺ,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا
وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami
dan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya sungguh ia telah kafir.” [HR. At-Tirmidzi, Shahihut Targhib No.564]
Seorang
Tabi’in Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili رَحِمَهُ
اللهُ berkata,
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى
الله عليه وسلم لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ
الصَّلاَةِ
“Dahulu
para sahabat Nabi Muhammad ﷺ tidaklah menganggap ada satu amalan
yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekafiran, kecuali shalat.” [Riwayat
At-Tirmidzi, Shahihut Targhib No.565]
Dalil-dalil
di atas menunjukkan bahwa meninggalkan shalat adalah kekafiran yang menyebabkan
pelakunya murtad keluar dari Islam dan dosa kekafiran menghapuskan semua
ibadah, tidak terkecuali puasa.
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ
فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa kafir
terhadap keimanan maka terhapuslah amalannya dan ia di akhirat termasuk
orang-orang yang merugi.”
[QS. Al-Maidah(5): 5]
Dan
firman Allah تعالى,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ
مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا
يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ
كَارِهُونَ
“Dan tidak ada yang
menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkah mereka melainkan karena
mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat
melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan
dengan rasa enggan.”
[QS. At-Taubah(9): 54]
Begitupun
firman Allah تعالى,
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا
عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala
amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang
berterbangan.” [QS. Al-Furqon(25):
23]
Sebagaimana
orang-orang yang melakukan syirik besar juga tidak sah puasa mereka, karena
syirik besar termasuk kekafiran yang menghapuskan amalan.
Allah
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ
عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan kalau mereka
menyekutukan Allah maka terhapuslah amalan yang dulu mereka kerjakan.” [QS. Al-An’am(6): 88]
Dan
firman Allah تعالى,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu
mempersekutukan Allah, niscaya terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang merugi.”
[QS. Az-Zumar(39): 65]
Maka
jelaslah bahwa orang yang berpuasa tapi tidak shalat, tidak sah puasanya,
karena meninggalkan shalat adalah kekafiran yang menghapuskan seluruh amalan
pelakunya. [Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibni
Baz, 9/280-281 dan Majmu’ Fatawa wa
Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin, 19/87).
Bahkan
tidak sah puasa orang yang hanya shalat di bulan Ramadhan dan meninggalkan shalat
di selain bulan Ramadhan, karena meninggalkan shalat adalah kufur akbar yang
menghapuskan amalan.
Disebutkan
dalam kumpulan fatwa ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah masa ini,
أما الذين يصومون رمضان ويصلون
في رمضان فقط فهذا مخادعة لله، فبئس القوم الذين لا يعرفون الله إلا في رمضان، فلا
يصح لهم صيام مع تركهم الصلاة في غير رمضان، بل هم كفار بذلك كفرا أكبر، وإن لم
يجحدوا وجوب الصلاة في أصح قولي العلماء
“Adapun
orang-orang yang berpuasa Ramadhan dan hanya melakukan shalat di bulan Ramadhan
saja maka itu adalah usaha menipu Allah (yang sesungguhnya tidak sanggup mereka
lakukan), sungguh jelek suatu kaum yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan
Ramadhan, maka tidak sah puasa mereka apabila meninggalkan shalat di selain
bulan Ramadhan, karena mereka kafir dengan sebab itu; dengan kekafiran yang
besar walau mereka tidak menentang kewajiban shalat, menurut pendapat yang
paling shahih dari dua pendapat ulama. وبالله التوفيق
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم ” [Fatawa
Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’, 10/140-141 No.102]
وَاللَّهُ سُبْحَانَهُ
وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Referensi:
https://youtu.be/McUHjiitX4A
Komentar
Posting Komentar